4) Kurangnya Kreativitas dan Inovasi:
Banyak program televisi yang kurang kreatif dan inovatif, cenderung mengikuti formula yang sudah ada dan terbukti sukses tanpa berusaha menawarkan sesuatu yang baru atau berbeda. Ini menyebabkan repetisi dan kurangnya variasi dalam konten yang ditawarkan.
5) Minimnya Regulasi dan Pengawasan:
Regulasi dan pengawasan terhadap konten televisi di Indonesia sering kali dianggap kurang ketat. Meskipun ada lembaga seperti Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang bertugas mengawasi isi siaran, implementasi dan penegakan regulasi kadang-kadang kurang efektif.
6) Preferensi Penonton yang Beragam:
Penonton Indonesia memiliki preferensi yang sangat beragam, dan beberapa segmen penonton mungkin lebih menyukai tontonan yang dianggap kurang berkualitas oleh segmen lain. Stasiun televisi berusaha memenuhi permintaan pasar yang luas dan heterogen ini.
7) Pengaruh Budaya Populer:
Budaya populer dan tren global sering kali mempengaruhi konten televisi lokal. Namun, adaptasi yang kurang tepat atau peniruan mentah-mentah dari format luar negeri dapat menghasilkan konten yang tidak sesuai dengan nilai dan norma lokal.
8) Tantangan Ekonomi:
Faktor ekonomi juga memainkan peran. Produksi konten berkualitas tinggi memerlukan biaya yang lebih besar, sementara kondisi ekonomi yang menantang membuat banyak stasiun televisi memilih konten yang lebih murah untuk diproduksi.
Kritik terhadap kualitas tontonan televisi di Indonesia mencerminkan kebutuhan akan peningkatan standar dan kreativitas dalam industri pertelevisian. Meski begitu, ada juga program-program berkualitas yang berhasil mencuri perhatian penonton, menunjukkan bahwa ada potensi besar dalam industri ini untuk menghasilkan konten yang lebih baik dan lebih bermakna.
#SalamLiterasi
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H