Mohon tunggu...
Ardi Bagus Prasetyo
Ardi Bagus Prasetyo Mohon Tunggu... Guru - Praktisi Pendidikan

Seorang Pengajar dan Penulis lepas yang lulus dari kampung Long Iram Kabupaten Kutai Barat. Gamers, Pendidikan, Sepakbola, Sastra, dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Parenting Pilihan

Dampak Kekerasan Mental dan Fisik bagi Tumbuh Kembang Anak

14 Februari 2024   13:00 Diperbarui: 14 Februari 2024   13:01 281
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
(https://regional.kompas.com/read/2020/10/14/18175921/kekerasan-terhadap-anak-meningkat-selama-pandemi-dosen-ipb-jelaskan?)

Kekerasan fisik dan kekerasan mental adalah dua bentuk ekspresi kekerasan yang dapat merugikan kesejahteraan individu secara serius. Kekerasan fisik melibatkan penggunaan kekuatan fisik untuk menyakiti atau melukai orang lain. Hal ini dapat mencakup pukulan, tendangan, atau penggunaan objek untuk menyebabkan cedera fisik. Kekerasan fisik sering kali meninggalkan bekas fisik yang terlihat dan dapat memiliki dampak jangka panjang pada kesehatan fisik dan mental korban.

Sementara itu, kekerasan mental melibatkan penggunaan kata-kata, tindakan, atau perilaku yang dimaksudkan untuk merendahkan, mengintimidasi, atau menyakiti secara emosional. Kekerasan mental mungkin tidak meninggalkan bekas fisik yang terlihat, tetapi dapat memiliki dampak psikologis yang signifikan. Bentuk kekerasan ini dapat mencakup pelecehan verbal, ancaman, isolasi sosial, atau manipulasi psikologis. Kekerasan mental dapat merusak kepercayaan diri, harga diri, dan kesejahteraan emosional seseorang.

Baik kekerasan fisik maupun kekerasan mental memiliki potensi yang serius untuk merusak hubungan interpersonal, kesehatan mental, dan kualitas hidup individu yang terlibat. Penting untuk memahami kedua bentuk kekerasan ini dan bekerja menuju masyarakat yang bebas dari kekerasan dengan meningkatkan kesadaran, memberikan dukungan kepada korban, dan menentang perilaku kekerasan dalam segala bentuknya.

Lebih lanjut, data dari Kemenppa menyatakan bahwa berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) mencatat bahwa pada rentang Januari hingga November 2023 lalu, jumlah kekerasan tercatat menyentuh angka 15.120 kasus. Dengan rincian kasus kekerasan terhadap anak yakni 12.158 korban anak perempuan dan 4.691 korban anak laki-laki yang mana kasus kekerasan seksual menjadi urutan tertinggi dari jumlah korban terbanyak sejak tahun 2019 hingga 2023.

Menurut data di atas, dapat kita simpulkan bahwa ada masalah serius yang terjadi dalam lingkungan kehidupan anak-anak kita. Baik di rumah, sekolah, tempat bermain dan lain sebagainya justru tak memberikan rasa nyaman serta aman sehingga menjadikan lingkungan yang merusak bagi anak dengan perilaku kekerasan yang disebabkan oleh orang tua, guru, atau bahkan orang dewasa di lingkungan tempat tinggalnya.

Penyebab utama kekerasan terhadap anak bisa terjadi

(https://www.tandaseru.com/2021/01/14/ternate-peringkat-pertama-kasus-kekerasan-seksual-di-maluku-utara)
(https://www.tandaseru.com/2021/01/14/ternate-peringkat-pertama-kasus-kekerasan-seksual-di-maluku-utara)


Kekerasan terhadap anak dapat dipicu oleh sejumlah faktor kompleks dan bervariasi. Beberapa penyebab utama termasuk:

Faktor Keluarga: Ketidakstabilan dalam lingkungan keluarga, seperti konflik antarorang tua, kekerasan dalam rumah tangga, atau ketidakstabilan ekonomi, dapat meningkatkan risiko terjadinya kekerasan terhadap anak.

Gangguan Kesehatan Mental: Orang tua atau caregiver yang mengalami gangguan kesehatan mental, seperti depresi, stres berlebihan, atau gangguan kejiwaan, mungkin lebih rentan untuk terlibat dalam perilaku kekerasan terhadap anak.

Riwayat Kekerasan: Orang yang pernah menjadi korban kekerasan dalam hidupnya mungkin memiliki risiko lebih tinggi untuk menjadi pelaku kekerasan terhadap anak. Trauma masa lalu dapat berdampak pada cara seseorang memperlakukan anak.

Ketidakmampuan Mengelola Stres: Situasi stres yang berkepanjangan atau ketidakmampuan mengelola stres secara efektif dapat meningkatkan risiko perilaku kekerasan terhadap anak.

Isolasi Sosial: Orang tua atau caregiver yang merasa terisolasi sosial, tanpa dukungan atau jaringan sosial yang memadai, mungkin lebih rentan terhadap perilaku kekerasan karena kurangnya dukungan dan bantuan.

Norma Budaya dan Sosial: Beberapa budaya atau masyarakat mungkin memiliki norma tertentu yang secara tidak langsung mendukung atau membenarkan kekerasan terhadap anak. Norma ini dapat memberikan pembenaran atau meremehkan seriusnya kekerasan.
Pengaruh Media: Paparan terhadap konten media yang menggambarkan kekerasan atau perilaku agresif dapat mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang terhadap anak.
Penting untuk diingat bahwa kekerasan terhadap anak tidak dapat dijustifikasi dan harus ditanggulangi dengan tindakan preventif, 

pendidikan, serta dukungan yang memadai bagi keluarga dan individu yang rentan. Upaya bersama dari berbagai sektor, termasuk pemerintah, masyarakat, dan lembaga sosial, dapat membantu mengurangi kekerasan terhadap anak dan menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi mereka.

Dampak Buruk Kekerasan Fisik dan Mental bagi Tumbuh Kembang Anak

(https://infografis.okezone.com/detail/774131/dampak-negatif-bullying-pada-perkembangan-anak)
(https://infografis.okezone.com/detail/774131/dampak-negatif-bullying-pada-perkembangan-anak)


Kekerasan mental dan fisik yang dialami anak dapat memiliki dampak serius pada berbagai aspek perkembangan mereka, baik secara fisik maupun mental. Berikut adalah beberapa dampak buruk yang mungkin terjadi:

Dampak Fisik:

Cedera Fisik: Kekerasan fisik dapat menyebabkan cedera fisik seperti memar, luka, patah tulang, atau cedera serius lainnya yang dapat memengaruhi kesehatan fisik anak.
Gangguan Kesehatan: Stres yang dialami akibat kekerasan dapat berkontribusi pada gangguan kesehatan fisik, seperti gangguan pencernaan, gangguan tidur, atau penurunan sistem kekebalan tubuh.
Trauma Fisik: Anak yang mengalami kekerasan fisik dapat mengalami trauma fisik yang berdampak jangka panjang pada pertumbuhan dan perkembangan mereka.

Dampak Mental dan Emosional:

Gangguan Mental: Kekerasan mental dapat menyebabkan gangguan mental seperti depresi, kecemasan, atau gangguan stres pasca-trauma pada anak.
Kurangnya Kepercayaan Diri: Anak yang menjadi korban kekerasan mungkin mengalami penurunan kepercayaan diri dan harga diri. Mereka dapat merasa tidak berdaya dan meragukan kemampuan mereka sendiri.
Gangguan Perilaku: Kekerasan dapat memicu perilaku yang tidak sehat, termasuk agresi, isolasi diri, atau keterlibatan dalam perilaku merusak.
Gangguan Hubungan Sosial: Anak yang mengalami kekerasan mungkin mengalami kesulitan dalam membentuk dan mempertahankan hubungan sosial yang sehat dengan teman-teman sebayanya.
Sikap Negatif terhadap Belajar: Kekerasan dapat menghambat kemampuan anak untuk berkonsentrasi dan belajar dengan baik di sekolah, yang berpotensi mempengaruhi prestasi akademis mereka.
Siklus Kekerasan: Anak yang mengalami kekerasan cenderung memiliki risiko lebih tinggi untuk menjadi pelaku kekerasan di masa dewasa. Dengan kata lain, kekerasan dapat menciptakan siklus yang berulang.

Dampak Jangka Panjang:

Masalah Kesehatan Mental di Masa Dewasa: Anak yang mengalami kekerasan dapat mengalami dampak negatif pada kesehatan mental mereka di masa dewasa, bahkan setelah dewasa.
Gangguan Perilaku di Masa Dewasa: Dampak kekerasan pada masa anak-anak dapat mempengaruhi perilaku dan hubungan interpersonal mereka di masa dewasa.
Pentingnya Peran Sosial: Anak yang mengalami kekerasan dapat menghadapi kesulitan dalam berpartisipasi dalam masyarakat dan membangun hubungan sosial yang sehat di kemudian hari.

Untuk mencegah dan mengatasi dampak buruk tersebut, penting untuk memberikan perlindungan, dukungan, dan perawatan yang sesuai bagi anak yang mengalami kekerasan. Upaya pencegahan dan intervensi diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi perkembangan anak-anak.

#SalamLiterasi

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Parenting Selengkapnya
Lihat Parenting Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun