Mohon tunggu...
Ardian Cahyo Nugroho
Ardian Cahyo Nugroho Mohon Tunggu... -

Mahluk Allah yang terberkati oleh bidadari cantik dan dua malaikat kecil

Selanjutnya

Tutup

Travel Story

Menagih Keindahan Tanjung Lesung

3 Februari 2012   08:54 Diperbarui: 25 Juni 2015   20:06 754
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sore harinya, dengan berjalan kaki, kami menuju pantai.  Anak saya indy dan Attar, masing-masing berusia 5 dan 2½ tahun tampak bersemangat sekali.  Ga lupa mereka memakai kacamata hitam dan topi hawai biar semakin menegaskan busana pantai.  Padahal waktu itu agak mendung loh, jadi pasti tambah gelap kaan... Duuuh..., anak siapa sih neh mendung-mendung kok pake kacamata item....?!?#$%&* hihihihi

Pantai Tanjung Lesung memang sangat bersih.  Terlebih kerang-kerang yang berserakan di bibir pantai memiliki bentuk-bentuk yang unik dan bagus.  Dan ini menarik minat kaum hawa di keluarga saya untuk memungutinya dan bergegas memasukkan dalam plastik.  Emang enak ya kaya gituan digoreng? Hehehe....  Sementara anak-anak terlihat lebih asyik bermain pasir sambil sekali-kali menceburkan diri di pinggiran pantai.  Sedangkan saya, ayah saya, dan beberapa orang sepupu lebih memilih memancing sambil bertengger di atas batu karang yang seolah setia menahan gelombang laut, entah sampai kapan.  Sebelum Maghrib, aktivitas itu selesai.  Sebetulnya saya kurang puas, karena tidak satu ekor ikan pun sudi menjadi tangkapan kami sore hari itu, sehingga sempat berpikir untuk meneruskan memancing.    Namun, karena ini adalah acara keluarga, tentunya kesenangan bersama merupakan prioritas.  Satu lagi yang hilang sore hari ini, karena mendung, sunset pun tak jadi memamerkan keindahannya kepada kami.

Selepas Maghrib, setelah selesai dengan santap malam, sambil mempersiapkan aneka barbeque, kami mengajak anak-anak bermain kembang api di depan villa.  Cipratan cahaya di Tanjung Lesung pada malam yang gelap agak mendung itu benar-benar memberikan keceriaan di hati anak-anak kami.  Setidak-tidaknya kami telah menghadirkan cahaya bintang di mata mereka yang malam hari ini menghilang.  Puas bermain kembang api, kabar baik datang dari dalam rumah, areng barbeque telah merah membara siap memanggang ayam, ikan, sosis, bakso, dan jagung yang kita bawa dari rumah.  Dari dulu saya selalu mendapatkan kepercayaan untuk menjadi tukang kipas pada acara panggang memanggang, padahal sejatinya saya bukan provokator yang hobinya ngipas-ngipasi orang loh!   Nah, pada kesempatan kali ini pun tidak ada yang cukup PD untuk menggantikan saya, yaaah...ga papalah, mungkin kebasan tangan saya memang membuat makanan berasa lebih mantab....! (menghibur diri) J

Korban pertama tentu saja aneka sosis dan bakso yang menjadi sasaran empuk, apalagi jenis makanan itu memang kami persiapkan untuk anak-anak.  Mereka menikmatinya dengan riang gembira di pinggiran kolam renang.  Sesekali terdengar peringatan kepada mereka untuk hati-hati dengan tusuk barbeque nya.  Maklum saja, anak-anak yang ikut dalam rombongan ini terhitung masih kecil-kecil.  Yang paling besar adalah anak sepupu saya berusia 10 tahun, sementara yang masih kecil adalah anak sepupu saya yang lain dan baru berusia 2,3 bulan.

Bakar-bakaran masih berlangsung,  namun waktu yang beranjak semakin larut membuat anak-anak terserang kantuk, pukul 9 malam lebih sedikit, saya ijin masuk kamar sebentar untuk menemani diajeng iie, istri saya untuk ngelonin anak-anak.  Ini beneran ngelonin anak-anak loh... hihihii.... Setengah jam kemudian indy dan attar pules dipelukan mama papanya.  Saya lihat istri saya pun agak terlelap, namun saya pikir, kok sayang ya jauh-jauh sampai di sini cuma dihabiskan dengan bobo saja... ”Ma, kita lanjut bakar-bakaran yuk, sambil ngopi di luar”, ajak saya sambil membangunkan istri... Dia pun setuju.

Kembali ke pinggiran kolam renang, ternyata sepupu-sepupu yang lain masih berada di dalam kamar.  Saya hanya melihat ayah dan ibu saya yang tengah asyik memperhatikan acara bincang-bincang di ruangan keluarga.  Ya sudah, saya sendiri kembali menuju tempat bakar-bakaran sambil menenteng beberapa buah jagung.  Sementara istri saya memilih membuatkan Capuccino. Tak berapa lama, bau jagung bakar yang dioles oleh mentega, sedikit saos sambal, dan juga keju menyapa hidung saya pertanda jagung bakar telah siap untuk dinikmati.  Istri saya pun telah kembali dengan bawaannya berupa dua cangkir cappucino panas untuk kita nikmati.  Menikmati malam hari di pantai, berdua saja dengan istri membawa ingatan kami beberapa tahun ke belakang sebelum indy dan attar dilahirkan.  Rasanya romantiiiiiiiiisss bangeeet (duile, panjang amat ”i” nyaaaa)  Sayangnya sebelum kami berdua semakin dalam pada keberduaan kami, kami dengar pintu dari salah satu kamar sepupu kami terbuka.  Yyaaaahh ga berduaan lagi deh... ;p

Jadilah sisa malam itu kami habiskan dengan obrolan ringan ditemani oleh aneka minuman hangat dan jagung bakar.  Maksud hati sih pengen lanjut maen gaple, tapi apa daya, empuknya kasur Kalicaa membimbing kita kembali ke kamar masing-masing.  Sebelum masuk ke kamar, saya sekilas melirik ke ruang keluarga tempat dimana ayah dan ibu saya tadi berada.  Mereka pun sudah tidak tampak.  Aaah, rupanya mereka pun telah beristirahat dikamar.  Tepat pukul satu dinihari, kami semua telah terbuai dengan kehangatan keluarga masing-masing di villa yang terletak paling ujung di jajaran komplek  pervilaan kawasan Tanjung Lesung ini.

Bangun-bangun, bukan lengkingan alarm seperti hari-hari biasanya yang saya dengar, melainkan rengekan indy yang konstan merajuk sambil menarik-narik hidung saya meminta diantar ke pantai.  Sementara attar punya cara tersendiri untuk membangunkan saya.  Ia memilih menduduki perut saya, sambil menggelitiki iga saya kuat-kuat... Duuuh, ampun deh.... Ya sudah setelah selesai menyikat gigi saya dan anak-anak (mandinya ntar aja), saya beranjak ke pantai.  Di luar kamar, istri saya telah selesai membantu ibu dan bude saya mempersiapkan bahan-bahan pengganan yang dapat dinikmati sepulangnya dari pantai.

Ketika berjalan ke pantai, kami menjumpai beberapa tamu lainnya tengah asyik bersepeda, saya pikir seru juga ya bersepeda tandem bersama istri dan anak-anak.  Rupanya pikiran itu pun ada di benak anak-anak saya.  Mereka lebih memilih bersepeda, karena kemarin sore sudah ke pantai katanya.  Ya sudah, kami bersepeda sepuasnya di area Villa Kalicaa.  Biayanya lumayanlah.  Untuk tandem Rp. 40 ribu, sementara dua sepeda anak-anak, masing-masing Rp. 20 ribu.  Villa Kalicaa sendiri kami lihat terus berbenah.  Mereka bahkan menawarkan kepada kami untuk menaruh dana sebesar Rp. 2 miliar untuk membangun villa seperti yang tengah kami tempati.  Setelahnya akan dikelola oleh mereka dengan keuntungan bagi hasil.  Duuuh, Rp. 2 miliar itu boleh dicampur dedek, beras, sama daun ga yaaa?? Banyak ammaaaattt....!!

Selesai bersepeda, karena masih ada spare waktu 2 jam menuju waktu check out, anak-anak kembali melakukan aktivitas renang (demen amat sih, apa karena di rumah ga punya yaaa...?!? hehehe...), sementara para wanita mempersiapkan makan siang.  Ya, karena memang kita tidak ingin berhenti lagi di jalan untuk makan siang.  Maklum, besok anak-anak harus sekolah. Jadi bisa menghemat waktu.

Selesai makan kami pun berkemas dengan rapi.  Rombongan ini perlahan meninggalkan Villa Kalicaa – Tanjung Lesung.  Suasana di dalam mobil tetaplah meriah oleh celoteh dan nyanyian anak-anak.  Heran saya, makan apa sih mereka kok ga ada capeknya yaaa... Namun sebagai driver pada perjalanan itu, saya sangat bersyukur, karena ”keributan” yang mereka buat mampu menjaga mata untuk tidak terlelap.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun