Mohon tunggu...
Apriyanti Rambu Ngana
Apriyanti Rambu Ngana Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Taurus, seorang Perawat Masa Depan

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Isu Kesehatan Harus Diatasi Secara Bersama-sama

19 Agustus 2024   21:17 Diperbarui: 19 Agustus 2024   21:28 17
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tangsel, 24 April 2024

Presiden Joko Widodod secara resmi membuka kegiatan Rapat Kerja Kesehatan Nasional ( Rakernas ) tahun 2024 yang di selenggarakan pada tanggal 24-25 April 2024, di ICE BSD, Tangerang Selatan, Banten. Dalam sambutannya Presiden menyatakan bahwa Indonesia Memiliki Potensi untuk menjadi negara maju karena pada tahun 2030an Indonesia akan menikmati bonus demografi dan sektor kesehatan, memiliki peran yang sangat penting untuk mewujudkan hal tersebut.

"Kita memiliki kesempatan untuk menjadi negara maju, namun jika tidak memanfaatkan bonus demografi ini,maka kita akan kehilangan peluang" kata Presiden di acara Rakernas 24 April 2024.

Presiden menyatakan bahwa, seperti yang di oleh Menteri Kesehatan dalam sambutannya,  kesehatan sangat penting bahkan lebih dari pendidikan, dalam memastikan anak-anak menjadi pintar.

Presiden berharap agar rmasalah kesehatan saat ini bisa diatasi secara bersama-sama dan terintegrasi dari pusat hingga daerah.

"Semuanya harus selaras, berada dalam satu jalur. Oleh karena itu kita ingin mengkonsilidasikan hal itu dan mengintegrasikan agar kerjasama kita dapat menghasilkan solusi konkret untuk masalah kesehatan yang kita hadapi" kata Presiden.

Presiden berharap agar rencana induk kesehatan dapat segera diselesaikan sehingga dapat menjadi pedoman dalam pelaksanaan program kesehatan di tingkat  pusat, daerah dan  sektor swasta.

"Saya yakin, jika semuanya bekerja secara kompak, akan ada signifikan kemajuan dibidang kesehatan di negara kita" imbuh Presiden.

Presiden menambahkan, saat ini masih ada sejumlah pekerjaan  rumah di sektor kesehtan yang perlu bersama-sama diselesaikan. Diantaranya masalah Stunting yang meski mengalami lonjakan penurunan cukup signifikan yakni dari 37 % kasus Stunting di Indonesia 10 tahun lalu menjadi 21,5 % di Desember 2023 kemarin. Menurut Presiden mengatasi Stunting bukanlah hal yang mudah dan perlu melibatkan berbagai sektor untuk mengatasinya.                               

" Stunting akhir tahun kemarin angkanya  masih 21,5% sudah turun, tapi seharusnya Kita mkencapai 14%. Tapi saya hitung ini tidak mudah, untuk mengatasinya program ini harus terintegrasi" kata Presiden.

Selain Stunting, persoalan yang menjadi sorotan adalah tingginya angka kematian yang disebabkan oleh penyakit tidak menular ( PTM ). Presiden menyebut tiga penyakit PTM penyumbang angka kematian tertinggi di Indonesia yakni penyakit Stroke sebanyak 330 ribuan kasus kematian, penyakit jantung sekitar 300 ribu kematian, dan kanker juga mencapai 300 ribu kasus kematian.

Sementara terkait alat kesehatan presiden menyebut  hampir seluruh Puskesmas kini telah mendapatkan alat penunjang pemeriksaan kesehatan seperti USG dan juga EKG.

Begitu juga dengan rumah sakit di daerah telah memperoleh tambahan alat kesehatan yang diharapkan dapat mendukung upaya kesehatan kepada masyarakat.

Beberapa daerah telah menerima seperti alat CT scan, cath lab, namun ruangannya belum mendukung. Pak Menteri beri contoh ruangan yang benar seperti apa, biar direktur rumah sakit bisa melihat" tutur presiden.

Lebih lanjut presiden mengatakan, persoalan lain yang juga besar di kesehtan adalah ketersediaan tenaga kesehatan. Saat ini dokter dan Spesialis di Indonesia masih kurang dimana rasio hanya 0,47 dan menempati urutan 147 di dunia.

Presiden juga menyoroti masih tingginya Masyarakat Indonesia yang berobat keluar negeri.

Menurut Presiden hampir satu juta warga negara Indonesia yang memilih untuk berobat ke luar negeri dibanding di dalam negeri yang secata hitungan ekonomi negara kehilangan sekitar 180 triliun  setiap tahunnya.

Terkait kesediaan bahan baku obat juga menjadi cataatn, diman 90% masih impor. Sementara untuk alat-alat kesehatan 52% juga masih didatangkan dari luar negeri.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, Kementerian Kesehatan RI.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor hotline Halo Kemenkes melalui hotline 1500-567, SMS 081281562620 dan alamat email kontak @kemkes.go.id.

Kepala Biro Komunikas dan Pelayanan Publik

Dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid

Sumber: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun