Mohon tunggu...
Maria Margaretha
Maria Margaretha Mohon Tunggu... Guru - Guru SD. Blogger.

Teaching 1...2...3. Knowledge is a power. Long Life Learner

Selanjutnya

Tutup

Trip Pilihan

Commuter Line, Dulu dan Sekarang

4 September 2023   23:32 Diperbarui: 4 Januari 2024   15:59 250
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Saat Commuter Line sedang lenggang, Penumpang nyaman tidur. Dokumen Pribadi. 

Sebagai perantauan yang tidak bisa menggunakan motor, walau pernah punya SIM C, menggunakan transportasi umum adalah pilihan satu-satunya. Tamat kuliah di Kalasan tahun 2001, belum punya ijazah, baru lulus skripsi, aku menggunakan kereta api menuju Jakarta. Senja Utama adalah Kereta Api yang membawaku dari Jogjakarta ke Jakarta. Dalam masa pencarian kerja, aku akrab dengan aneka kendaraan umum. Commuter Line adalah salah satunya. 

Kemudian, aku kuliah lagi. Tahun 2004, dan itu membuatku merasakan perjuangan terutama saat skripsi, dari Bintaro menuju kampus Semanggi, seminggu 2-3 kali untuk konsultasi skripsi, menggunakan KRL yang waktu itu masih punya kelas-kelas. Ekonomi, dan premium yang ber AC. Aku pernah merasakan naik kereta commuter line di ruang masinis, karena tidak ada lagi tempat di bagian penumpang, sementara harus mengejar waktu bertemu dosen pembimbing skripsiku yang tegas dan maunya tepat waktu. Bagaimanapun KRL lebih dapat diandalkan untuk mengejar waktu. Bahkan sampai saat ini. 

Kondisi KRL waktu itu tidaklah seperti saat ini. Semua gerbong KRL, kini disebut commuter line, sudah ber-AC. Dulu, yang ekonomi, tidak ber-AC, dan segala penjual/pedagang asongan ada di dalamnya. Dari pedagang makanan dan minuman sampai pedagang bawang dan pengamen.   Namun masa-masa itu tidaklah aku sangkal membuat aku dapat menghargai, kemajuan KRL di masa kini. 

Jika ditanya, apakah KRL saat ini mahal, aku akan menjawab tidak. Contoh saja, perjalanan dari stasiun Juanda menuju Stasiun Bojong gede hanya bertarif Rp 5.00,00 padahal jaraknya berapa kilometer itu? Belum lagi kemudahan, akses dengan segala kartu perbankan yang membuat jadi praktis, tidak perlu ke loket antri tiket lagi. 

Tak hanya kartu perbankan, aku lupa sejak kapan, aku malah bisa menggunakan gopay dan tinggal scan QRIS. Sangat mudah dan nyaman tak perlu mencari-cari kartu di dompet/tas. Cukup gunakan ponsel, dan aku bisa keluar masuk stasiun. Pada aplikasi, aku bisa mengisikan stasiun berangkat dan stasiun turun dan membayar dengan uang elektronik. Mudah sekali kan?

Perjalanan Kereta Api di masa lalu rawan kejahatan seperti copet dan jambret, dengan adanya sistem tertutup di peron-peron stasiun KA, kini keamanan penumpang lebih diperhatikan. 

Pernah lho aku kehilangan barang dalam tas di stasiun Tanah Abang karena dijambret. Tahun 2000 waktu itu. Panik juga karena isi tas itu adalah pakaian yang akan digunakan untuk ujian sidang skripsiku. Bahkan bajupun hanya ada yang menempel di badan. Untungnya, aku dipinjami pakaian oleh kerabat temanku. 

Sekarang, kejahatan yang mungkin terjadi dalam KAI Commuter adalah orang-orang kurang waras yang melakukan pelecehan pada penumpang lain. Jambret dan copet? Sangat minimal. 

Saat ini, gerbong KAI Commuter selalu disertai petugas berseragam, membuat penumpang merasa aman dan memastikan penumpang disiplin mengikuti aturan. Ada penumpang yang diingatkan menggunakan masker pada masa pandemi, atau tidak berbicara melalui telepon genggam atau secara langsung. 

Ada gerbong khusus perempuan dan tempat duduk prioritas bagi penumpang yang membutuhkan, baik lansia, wanita hamil, maupun penyandang disabilitas. Petugas KAI sigap membantu penumpang yang membutuhkan. 

Di stasiun, tersedia colokan yang memudahkan penumpang mengisi kembali baterai gawai yang mungkin selama perjalanan digunakan. 

Saat ini malah ada KAI Access aplikasi yang memudahkan pemesanan tiket KAI Commuter. Semua kenyamanan ini membuat aku makin senang menggunakan kendaraan umum, khususnya KAI Commuter. 

Kecepatan juga menjadi alasan aku memilih menggunakan KAI Commuter. Pada umumnya, aku tidak pernah terlambat saat menggunakan Commuter Line, sebab anti macet. Aku bisa tiba di tujuanku sesuai harapan, dengan menggunakan KAI Commuter. 

Saat aku bekerja di Sentul, Bogor, setiap Senin aku melakukan perjalanan dengan KAI Commuter dari Manggarai ke Cilebut, dan aku bisa mencapai tempat kerjaku sebelum jam mengajar. Aku biasanya sempat sarapan di sekolah, minum teh dan mengobrol dengan kolega sebelum mulai beraktivitas mengajar. 

Bahkan sebelum masa masa itupun, KAI Commuter tetap merupakan andalan. Saat bekerja di Bintaro, tetapi tinggal di pasar baru, aku ngga pernah terlambat jika menggunakan KRL. Syaratnya tentu saja berangkat dengan jadwal KRL yang tepat. Kalau ketinggalan KRL mungkin akan terlambat, tetapi, biasanya tidak terlalu lama dan tidak sampai mengganggu jam mengajar. 

Waktu di Jogjakarta aku juga pernah mencicipi KAI Commuter, masih menggunakan tiket berwarna hijau dan diberi nama Prameks, kadang aku berkunjung ke Solo. Prameks waktu itu sudah termasuk kereta api yang nyaman dan tepat waktu. Kenyamanan menggunakan Prameks membuat aku meninggalkan bus Jogjakarta -Solo. Harga yang terjangkau dan serta keamanan adalah salah satu penyebabnya. 

 Bukanlah masa singkat KAI Commuter berubah. Namun, harus diakui perubahan KAI Commuter menjadi senyaman saat ini adalah suatu yang menyenangkan bagi penumpang seperti saya. Harapan saya, makin maju KAI Commuter dalam transportasi umum, untuk mengurangi polusi, dan juga kemacetan. 

Murah, cepat, mudah dan nyaman, siapa yang tidak suka? 

Salam Anak Kereta

Maria Margaretha 

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Trip Selengkapnya
Lihat Trip Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun