Mohon tunggu...
Maria Margaretha
Maria Margaretha Mohon Tunggu... Guru - Guru SD. Blogger.

Teaching 1...2...3. Knowledge is a power. Long Life Learner

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Aturan? Untuk Kita Sebenarnya

6 Januari 2015   10:28 Diperbarui: 17 Juni 2015   13:43 49
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gadget. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

"Dia lawan arus"

"Dia meleng sih"

Itu percakapan yang saya dengar di jok depan penumpang angkot 45, Grogol-Kopro yang biasa saya gunakan. Pengemudi mobil saya, memandangi motor yang sudah tak jelas bentuknya. Si pengendara motor kelihatan hanya shock saja, walaupun sempat terlempar dan motornya menabrak pembatas taman. Lecet-lecet sedikit. Benturannya keras mestinya, karena motor tersebut seperti saya sebut di atas, sudah tak jelas bentuknya. Motor pria pula. Pastinya bila diperbaiki bisa jutaan.

Pagi ini, 5 Januari 2015, jam 6.35, saya jadi terlambat masuk sekolah, karena pengemudi angkot saya berhenti lama sekali di dekat lokasi kecelakaan tersebut. Ia mau membantu mengangkutkan motor dan kemudian membicarakan penyelesaian secara kekeluargaan, jika pengemudi angkot penabrak mau. Keduanya berniat menyelesaikan secara damai, kalau ada pihak lain, nanti bisa makin kisruh.

Sayang sekali.

Sebenarnya kecelakaan bisa dicegah dengan cara sangat sederhana.

1. Patuhi aturan.

Kalau bukan jalannya jangan diserobot. Sudah tahu satu arah malah lawan arus. Ini sering dilakukan pengendara motor. Sebenarnya, memang kadang kemacetan sedemikian parah, tapi yang rugi kan diri sendiri juga kalau sudah celaka.

"saya ngga pernah celaka kok."

Jadi nantangin gitu? Kadang berpikir, ah selama ini saya selamat walau melanggar aturan lalu terus melanggar. Kalau sudah celaka atau mencelakai orang, nah. Mau bilang, musibah? Bukan. Itu bukan musibah. Itu salah sendiri. Musibah itu, kalau kita berjalannya sudah benar, masih mengalami kecelakaan. Itu musibah.

Pakai helm, misalnya. Demi keselamatan kita. Termasuk, dalam penerbangan, kalau dilarang nyalakan alat elektronik, ya sudah matikan saja.

2. Hati-hati

Hati-hati itu perlu. Jangan karena merasa sudah benar, lalu sembrono. Ngebut. Tidak memperhatikan sekeliling. Wah. Itu juga mencelakai diri sendiri dan orang lain juga.

Merasa sudah berhelm, jalan di jalurnya, trus ngebut. Tetap saja itu menunjukkan kesembronoan.

Kalau anda celaka, anda merugikan banyak orang. Bukan hanya diri sendiri lho. Ada keluarga, teman, dan juga orang yang tidak dikenal, yang jadi terlambat ke tempat tujuan gara-gara anda celaka.

Seperti saya. hehehehe.

Salam edukasi,

Maria Margaretha

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun