Mohon tunggu...
Any Sukamto
Any Sukamto Mohon Tunggu... Penulis - Belajar dan belajar

Ibu rumah tangga yang berharap keberkahan hidup dalam tiap embusan napas.

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Menjaga Stabilitas Ekonomi Negara ASEAN +3 dengan Bertransaksi Menggunakan Mata Uang Lokal (LCS)

8 Juni 2023   01:35 Diperbarui: 8 Juni 2023   01:57 320
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber gambar: Tangkapan layar youtube Bank Indonesia 

"ASEAN Matters: Epicentrum of Growth" adalah tema yang diangkat Indonesia untuk kembali mengambil peran kepemimpinan global pada keketuaan ASEAN dan ASEAN +3, melanjutkan tema besar sebelumnya pada Presidensi G20 tahun 2022 lalu dengan tema "Recover Together Recover Stronger".

Keketuaan Indonesia ini dapat mendorong ASEAN berperan aktif menawarkan ide dan solusi untuk memperkuat pemulihan ekonomi, serta menjadikan Asia Tenggara sebagai mesin pertumbuhan dunia. 

ASEAN, Association of Southeast Asian Nations, adalah organisasi geopolitik dan kerja sama ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Organisasi ini beranggotakan 10 negara yaitu: Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Didirikan pada 8 Agustus 1967 di Bangkok. 

Sedangkan ASEAN +3 adalah hubungan kerja sama negara-negara ASEAN ditambah 3 negara lagi dari Asia Timur, yaitu: Cina, Jepang, dan Korea Selatan. Organisasi ini didirikan pada tahun 1997 pada saat kawasan Asia dilanda krisis ekonomi. 

Sebagaimana disampaikan oleh Ibu Rahayu Puspasari (Kabiro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan) pada Press Release di laman Kemenkeu.go.id, ASEAN+3 Task Force Meeting menjadi agenda pertama dalam jalur keuangan keketuaan ASEAN Indonesia 2023.

Dari beberapa sesi dan pembahasan pada pertemuan yang dilaksanakan di Nusa Dua Bali, pada tanggal 2-3 Februari 2023 tersebut, negara-negara ASEAN +3 masih harus mewaspadai risiko pelemahan ekonomi global. 

Sumber gambar: Tangkapan layar Kompas.com
Sumber gambar: Tangkapan layar Kompas.com

Untuk mengatasi masalah ini, ASEAN +3 harus terus berupaya menguatkan ekonomi kawasan serta memanfaatkan kerja sama ekonomi dan keuangan internasional. 

Indonesia yang memiliki misi untuk meningkatkan kerja sama ekonomi negara-negara ASEAN +3, salah satu misinya adalah dengan menyepakati penggunaan mata uang lokal sebagai sistem pembayaran di kawasan ASEAN +3 (LCS), dan Bank Indonesia lah sebagai pendorong konektivitas antar negara itu, atau yang biasa disebut cross border transaction. 

Dengan adanya kesepakatan ini, diharapkan konektivitas sistem pembayaran di ASEAN makin integratif dan mudah, tidak tergantung pada kurs mata uang lain (dalam hal ini dolar AS). Selain itu juga untuk memperkuat mata uang negara ASEAN +3, menciptakan stabilitas nilai tukar, dan memperkuat kerja sama keuangan regional. 

Pada pertemuan yang dilaksanakan di Korea Selatan itu, sebagai Co-Chairmanship adalah Ibu Sri Mulyani Indrawati (Menkeu), Bpk Perry Warjiyo (Gubernur BI), Sunichi Suzuki San (Menkeu Jepang), dan Kazuo Ueda San (Gubernur bank of Japan). 

LCS atau Local Currency Settlemen, adalah penyelesaian transaksi yang dilakukan oleh dua negara dengan menggunakan mata uang lokal masing-masing, dan setelmennya menggunakan yuridiksi di wilayah negara masing-masing. Hal ini sesuai dengan penjelasan dari Bank Indonesia pada tahun 2019.

Sebagai contoh, dahulu jika ada transaksi dengan pembeli dari negara lain, kita akan mengkonversi rupiah dengan dolar AS sebagai alat tukarnya, setelah itu baru dirupiahkan lagi. Begitu juga bagi pembeli harus menukarkan mata uangnya dengan dolar dulu, setelah itu baru bertransaksi.

 Namun, dengan adanya LCS, baik penjual maupun pembeli dari negara yang berbeda sekarang tidak perlu lagi menukarkan mata uangnya dengan dolar lebih dulu. Bisa langsung bertransaksi dan setelmennya tergantung pada negara masing-masing. Jika transaksinya menggunakan rupiah maka setelmennya di Indonesia. Jika transaksinya menggunakan Yen maka setelmennya di Jepang. 

Kita tinggal menuju bank yang telah ditunjuk dan bisa melayani LCS. Di Indonesia ada 10 bank yang bisa melayani LCS, yaitu BRI, BCA, BNI, Mandiri, BTPN, UOB, NISP, Maybank, Danamon, dan Permata. 

Di sini terlihat peran Bank Indonesia, sebagai otoritas moneter dan bagian dari KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) yang telah mengambil langkah strategis dengan mengurangi permintaan terhadap dolar AS dan menerapkan sistem pembayaran melalui LCS sejak 2018 lalu.

Adapun jenis transaksi yang bisa dilakukan dengan LCS adalah kegiatan transaksi barang dan jasa, transaksi pendapatan primer (penerimaan dan pembayaran kompensasi tenaga kerja), transaksi pendapatan sekunder termasuk remitansi, dan investasi langsung. 

Dengan adanya sistem pembayaran menggunakan LCS ini tentu akan memudahkan transaksi, meringankan biaya transaksi, kesediaan likuiditas yang terjamin, dan mengurangi fluktuasi nilai tukar. 

Beberapa negara yang sudah bermitra dan menggunakan LCS sebagai sistem pembayaran adalah Malaysia melalui Bank Negara Malaysia, Thailand melalui Bank of Thailand, Cina melalui People's Bank of China, dan Jepang melalui Ministry of Finance, Japan. 

Dengan adanya LCS ini diharapkan kedepannya dapat mengurangi dominasi dolar AS dan mata uang negara ASEAN makin menguat. 

Sumber: Bank Indonesia & Kementerian Keuangan. 

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun