Mohon tunggu...
Ano suparno
Ano suparno Mohon Tunggu... Freelancer - Penulis Jalanan

FREELANCER Pernah di Trans TV sebagai Reporter, Kameraman lalu Kepala Biro TRANS. Sebelumnya, sebagai Stringer Tetap BBC London siaran Indonesia, reporter hingga Station Manager Smart FM Makassar. Setelah di Trans, saya mendirikan dan mengelolah TV Lokal sebagai Dirut. Sekarang Konsultan Media dan Personal Branding

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan

Dunia Menantang JK

2 Januari 2021   18:47 Diperbarui: 2 Januari 2021   18:51 1191
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Presiden Ashraf Ghani harap JK damaikan Afhganistan (Sumber Foto: twitter Husain Abdullah, jubir JK)

****
Pernah saya menulis, 'Dunia memanggil JK".  Semua orang tentu pada tau bagaimana Jusuf Kalla mendamaikan konflik agama di Poso, Ambon lalu menuntaskan perang saudara dan keyakinan di Aceh. Ribuan nyawa melayang akibat konflik agama di Indonesia lalu di tangan JK, masa depan mereka kini semakin cerah. Tak ada lagi ketakutan, benar benar mereka telah menikmati keindahan dunia, demokrasi telah mereka jalankan, ibadah pun telah tertunai dengan khusyuk, perekonomian telah berjalan sesuai fungsinya.  Ha hal yang ingin dicapai oleh manusia sebagamana kodrat penciptaan dari Allah SWT telah berfungsi sebaik baiknya dan sedamai damainya.

Lalu cita cita rakyat berkonflik itulah kini menjadi harapan dan impian 35 juta penduduk Afhganistan. Melalui tangan dan pikiran Jusuf Kalla harapan dan impian itu kini berada.  Tentu bukan hanya 35 juta rakyat Afghanistan tetapi separuh dunia, yang menjadikan Afghanistan sebagai sasaran "kehidupan",  berharap JK dapat menciptakan proses perdamaian di sana. Serangkaian kalimat dan harapan dari pemimpin Afghanistan adalah wujud betapa negara tersebut  sungguh mengagungkan JK benar benar serius menjalankan misinya di Afhganistan. Bahkan mereka pun meminta, Indonesia menjadi negara pertama yang memfasilitasi proses perdamaain antara pemerintahan, faksi dan Taliban.

*****
Harapan rakyat Afhganistan dan pemerintah di negara  tersebut terhadap  JK, diawali pada Bulan Februari 2018. Saat JK ke Kabul Afhganistan. Kunjungan JK bersama Wakapolri Komjen Syafrudin saat itu menemui  para pemimpin Afhganistan. Empat pembahasan penting kala itu, dan yang paling dominan adalah proses perdamaian. 

Selanjutnya pada Juli 2019, Jusuf Kalla gelar  pertemuan spesial dengan delapan delegasi Thaliban di Jakarta. Pertemuan yang sedikit agak  tersembunyi itu lalu meruak polemik.  Sejumlah pihak kontra terhadap pertemuan itu, sebab mengapa seorang JK menerima kelompok Thaliban? Yang jelas telah  menjadi musuh pemerintahan di sana, bahkan oleh beberapa negara  menyebutnya sebagai kelompok teroris dunia termasuk Amerika Serikat  dan NATO. Delegasi Taliban saat itu dipimpin oleh Mullah Abdul Ghani serta juru bicara Thaliban Zabinhullah Mujahed. Bocoran pertemuan itu dimuat melalui situs berbahas Pashto, Nunn Asia.

 Di istana Wapres indonesia kemudian dilanjutkan ke Masjid Sunda Kelapa antara Mullah dan JK membicarakan seputar relasi politik dan terutama perdamaian di Afghanistan.  Pertemuan tersebut menimbulkan banyak kontra namun bagi JK,  pekerjaan setinggi tingginya  dan mulia di hadapan Allah SWT adalah mendamaikan  manusia yang berkonflik. Selain itu, bagi JK mendamaikan manusia di dunia merupakan amanat yang telah termaktub dalam UUD 1945 yang berbunyi bahwa Indonesia harus turut serta dalam ketertiban dunia menjaga perdamaian.  Sekali lagi,  JK tak membawa perannya sebagai pribadi namun suatu hal yang tak terduga, JK mengemban misi UUD 1945 yang telah menjadi hukum tertulis atau hukum dasar bagi konstitusi RI. Sebuah konstitusi yang tercipta dari The Founding Father Indonesia melalui Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)

*****
Sebelum perang berlangsung di Afhganistan pada  Oktober 2001 pasca serangan WTC 11 September, negara tersebut telah berpengalaman dilanda perang.  Setidaknya terdapat  dua  fase perang di negeri para Mullah tersebut sebelum NATO bersama Amerika meluluhlantakkan pemerintahan Taliban 2001.  Kedamaian rakyat Afhganistan mulai pecah pada saat  pasukan Rusia melalui  Jendral Komarov memimpin pasukan nya menyerang Afhganistan pada tahun 1885. Ini adalah perang dingin virtual antara Rusia dengan  Brithania Raya yang menguasai Asia Tengah dan Selatan.  Perang awal di bagian barat Afhganistan ini nyaris terjadi antara Inggris - Rusia.  

Keterlibatan Rusia terhadap  Afghanistan membuat negara tersebut semakin percaya diri sejak era 1955 hingga 1978. Setahun kemudian, Revolusi Islam mengusir kelompok Shah yang didukung oleh Amerika Serikat. Perang saudara yang terus berkecamuk di negeri itu,  tak lepas negeri tersebut sedang mencari demokrasi yang pas untuk negeri yang berdiri pada tahun 882 Masehi.

Setiap proses pergantian rezim setidaknya dua pengaruh budaya demokrasi dicanangkan oleh presiden terpilih yakni demokrasi model Rusia dan demokrasi model Amerika.  Alih alih menciptakan perdamaian setiap pergantian rezim, konflik tersebut justru menciptakan rangkaian hukuman mati bagi Perdana Menterintya, 27 April 1978 saat Partai Demokrasi Rakyat Afhganistan menggulingkan dan menghukum mati Daoud.  Lalu pada tahun 1979 saat wakil Perdana Menteri Hafizullah Amin merebut kekuasaan dan menyebabkan kematian Presiden Taraki. Perang yang melibatkan Rusia berlangsung cukup lama di Afhganistan. Bahkan sepanjang tahun 1979 hingga 1989 terjadi perang antara rakyat Aghganistan dengan pasukan Rusia yang   dianggap sebagai "Perang Vietnam-nya" Uni Soviet.

Perlawanan rakyat Afhganistan dari berbagai suku dan daerah terhadap Soviet semakin meluas pada dekade 1978 hingga 1979.  Lazimnya pada beragam negara saat  terjadi anti komunis dari rakyatnya, maka secara cepat Amerika  Serikat turun tangan membantu rakyat anti komunis tersebut.  Enam bulan sebelum pasukan Soviet melakukan operasi di Afhganistan, Presiden Amerika Serikat Jimmy Charter pada tanggal 3 Juli 1979 memerintahkan secara rahasia kepada CIA untuk melakukan operasi propaganda secara diam diam melawan rezim komunis. 

Usai Amerika membantu rakyat Afhganistan dan pengaruh Soviet sudah tak ada lagi maka mulailah fase atau rezim kedua di negeri tersebut, yang mana pengaruh Ameka Serikat berkuasa melalui rezim Thaliban.  Maka sepanjang perjalanan itu, Afhganistan memasuki fase kedua.  Amerika Serikat bersama Inggris, Tiongkok, Arab Saudi, Pakistan dan negara negara lainnya  ikut membantu pemerintahan Afhganistan yang dikuasai oleh kelompok Mujahidin.  

Pemindahan rezim dari pengaruh Soviet ke Amerika dan sekutunya bukan nya menimbulkan perdamaian. Justru perlawanan dan pemberontakan kembali hadir sepanjang rezim Mujahidin. Dua tahun pasca Mujahidin berkuasa, pada tahun 1982 gerilyawan mulai bereaksi.  Mereka menyerang pos pos kecil di pedesaan, meledakkan bom di kantor kementerian serta melakukan sabotase listrik menyebabkan mati lampu besar besaran di Afhganistan.  Pada tahun 1985, gerilyawan menembak pesawat domestik Bakhtar Airlanes di bandara Kandahar yang menyebabkan 50 orang tewas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun