Namun kemudian satu lagi tantangan muncul, yaitu harus menjelaskan berulang-ulang kali kepada calon customer tentang keunggulan dan segala sesuatunya tentang produk yang dimiliki. Di sini, peran AR sebagai media untuk mengedukasi akanlah sangat penting. Calon pelanggan hanya tinggal diarahkan ke sebuah aplikasi AR yang dapat di download melalui smartphonenya, untuk bisa mengakses aplikasi AR yang didalamnya menjelaskan tentang deskripsi, keunggulan dan cara menggunakan produk.
https://www.youtube.com/watch?v=_rDgROGl24U&t=34s
Untuk di sektor produksi sendiri, di Indonesia masihlah terbilang sangat jarang. Salah satu contoh perusahaan yang berhasil memanfaatkannya di bagian produksi adalah Toyota. Bagaimana tidak, dalam pengukuran ketebalan saja, dari yang tadinya membutuhkan 2 orang dan menghabiskan waktu sepanjang hari, dengan AR, hanya dibutuhkan satu orang saja dan hanya menghabiskan waktu 2 jam saja, luar biasa sekali kan?
Manfaat lainnya yang bisa dirasakan adalah di bidang arsitektur, alih-alih harus menunggu hasil render untuk bisa mengetahui hasil design, dengan AR, cukup dengan mengenakan headset AR untuk bisa melihat hasil design bangunan secara realtime dan dari segala perspektif tanpa harus merendernya terlebih dahulu, efisiensi waktu pengerjaanpun bisa meningkat hingga berkali-kali lipat.
Jika dilihat dari benefitnya dalam jangka panjang, penggunaan AR di bagian produksi jelas dapat sangat menguntungkan bagi perusahaan.
2. Virtual Reality (VR)
VR pada dasarnya menggunakan konsep yang hampir sama dengan AR. Hanya bedanya adalah, jika AR menambahkan objek virtual ke dunia nyata, maka VR menarik penggunanya ke dunia virtual.
Dalam manfaatnya juga sebagai teknologi perkantoran hampir sama dengan AR, perbedaannya terletak pada pengalaman dan sensasi yang dirasakan oleh pengguna. Jika Augmented Reality dapat menarik engagement secara langsung pada pandangan pertama, Virtual Reality memerlukan penggunanya untuk mengenakan headset VR. Namun sensasi yang diberikan lebih dalam dan kuat, karena pengguna dapat merasakan sensasi virtual sepenuhnya, sejauh mata memandang, sehingga cocok sebagai brand activation dan sarana untuk pelatihan yang aman dan efisien.
Contoh penggunaan VR untuk brand activation adalah Flying Simulato Jet VR dari MLD.
Sementara contoh perusahaan yang berhasil memanfaatkan teknologi VR untuk pelatihan adalah Walmart. Di luar kebutuhan perkantoran sendiri, sebetulnya masih ada banyak contoh pemanfaatan VR sebagai media pelatihan, seperti pelatihan keselamatan kerja, pemadam kebakaran, pengendalian pesawat tempur dan banyak lagi.
3. Interactive Software
Tidak seperti AR dan VR yang memiliki manfaat yang besar sebagai teknologi perkantoran, fungsi Interactive Software lebih ke penggunaan dalam event dan branding. Walau tidak sekuat AR dalam menarik engagement, tetapi penerapannya di event-event sebagai sarana edukasi dan branding masih layak untuk dipertimbangkan karena dalam pengembangan dan biaya yang dibutuhkan terbilang lebih ringan dibanding AR. Di dalam kantor sendiri, bisa di manfaatkan sebagai media branding dengan memasangnya di lobi kantor, untuk memberikan kesan "WAH" kepada tamu yang datang berkunjung. Sebagai alternatif, bisa ditambahkan Kiosk atau direktori interaktif sebagai media bagi pengunjung untuk menggali informasi tentang perusahaan.