“Kebanyakan dari kita berjuang dan melawan kehilangan sepanjang hidup, tidak memahami bahwa hidup adalah tentang kehilangan dan kehilangan adalah hidup itu sendiri; hidup tidak dapat berubah dan kita tidak bisa tumbuh tanpa kehilangan.
Ada pepatah Yahudi Kuno yang mengatakan bahwa jika menari di banyak pesta pernikahan, Anda akan menangis di banyak pemakaman.
Artinya, jika berada pada awal kehidupan mereka, anda juga akan menemani sampai akhir. Jika memiliki banyak teman, anda juga akan mengalami banyak kehilangan.”
Kutipan di atas diambil dari salah satu bagian buku berjudul Life Lessons oleh Dr Elisabeth Kübler-Ross dan David Kessler.
Itu hanya sebagian kecil dari ratusan pengalaman orang yang membagikan pengalamannya saat berada di ambang kematian. Mungkin kau juga akan memiliki bagian favorit saat membacanya.
Entah mengapa, saat membaca bagian itu, aku terdiam sejenak dan mencoba mengulang kembali membacanya secara perlahan. Lalu aku mulai menyadari suatu hal.
Belakangan ini, waktu seolah berjalan begitu cepat hingga membuatku kehabisan nafas seperti sedang berlari maraton.
Aku bisa melihat mereka dengan jelas sedang sibuk berlari di jalur yang berbeda denganku.
Meski semuanya terlihat begitu indah, aku berharap kita tidak sedang menipu diri sendiri.
Lalu aku kembali melihat waktu, rasa itu hadir lagi, seperti ada bagian yang terambil dari dalam diri yang sulit untuk dijelaskan.
Ada begitu banyak yang dikerjakan, ada begitu banyak mimpi yang berharap bisa segera terwujud.
Bahkan jalan yang sempit itu, kini sudah bertambah luas dan mudah untuk dilalui oleh siapa pun. Tetapi, mengapa justru banyak yang memilih untuk mundur?
Bukankah waktunya sebentar lagi akan tiba? aku sudah bisa melihat cahaya itu meski masih belum bisa dijangkau.
Sama seperti pertama kali memberanikan diri untuk melewati jalur ini, yang kutahu ada sesuatu yang indah di sana.
Kita yang dulu bergandengan kini satu persatu menghilang, digantikan dengan yang baru.
Kutipan tadi lalu menyadarkanku kembali bahwa hidup memang tentang kehilangan. Kau tidak akan bisa bertumbuh tanpa melalui kehilangan tersebut.
Tentu saja tidak sedikit yang justru takut dan menyangkal kenyataan pahit tersebut. Entahlah, perubahan itu memang terkadang begitu menakutkan hingga membuat kaki enggan untuk melangkah ke depan.
Mungkin satu cara yang bisa dilakukan yaitu dengan mulai melepaskan kepalan erat pada kehidupan dengan tangan yang terbuka lebar.
Ketika memang sudah saatnya berubah, biarkan dia bertumbuh atau pergi sebagaimana mestinya.
Tentu saja tidak mudah seperti saat mengatakannya, tetapi itu akan jauh lebih baik untuk dicoba daripada terus menahan rasa sakit yang berat setiap kali kehilangan.
Sudahkah aku mengenal diriku dengan baik? Apakah aku sudah benar-benar melakukan apa yang kuinginkan? Atau justru aku hanya terfokus dengan peran untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya?
Pengalaman mereka yang berada di ambang kematian sungguh menyadarkan bahwa hidup adalah hadiah dari Tuhan yang tidak bisa dimiliki selamanya.***
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI