Duka Nestapa Kepergian Bapak
Selama dalam penerbangan di pesawat, aku dan kakak sepupuku--Uni Yeti-- saling tak bicara. Mungkin Uni Yeti memang sengaja tak ingin mengusik kesedihanku.
Ya, aku memang lagi enggan bicara. Aku sedang berusaha menenangkan diri sendiri. Selain sedang berduka yang dalam, ada tanya yang begitu mengusik jiwaku. Tanya yang tak berjawab sejak kemarin. Sakit apa bapak, sehingga meninggal dunia?
Kemarin siang, ketika kakak sepupuku--Uni Dian-- datang ke rumah kos-ku, menyampaikan kabar duka tentang bapak yang meninggal dunia, dalam sedu sedan sempat kutanyakan penyebab bapak meninggal. Tapi Uni Dian mengatakan, ia tak tahu.
Begitu juga ketika aku diajak menginap di rumah Uni Dian, bertemu dengan adik bungsu Uni Dian- Uni Seli, jawabnya juga sama. "Uni ndak tahu sakit apa Om Hermawan, Rin."
Di rumah Uni Dian, semua sepupuku berkumpul. Mereka juga sudah mengupayakan agar aku bisa mendapatkan tiket pesawat kemarin sore. Tapi usaha mereka gagal. Hanya ada pesawat pagi keesokan harinya, untukku.
Itulah sebabnya, aku dan Uni Yeti yang mewakili keluarga bapak dari Padang, berangkat dengan pesawat pagi ini.
"Kita sudah sampai, Rin," kudengar suara Uni Yeti.
Mataku yang membengkak karena terlalu lama menangis, menatap ke luar dari jendela pesawat.
Kami memang sudah sampai di Bandara Polonia, kota kelahiranku, tempat orangtuaku tinggal. Pesawat ternyata sudah mendarat.
Aku terlalu asyik dengan pikiranku sendiri, sehingga tidak menyadari kalau pesawat sudah mendarat.
Aku dan Uni Yeti bergegas turun dari pesawat. Barang yang kami bawa tidak banyak, tidak ada yang masuk bagasi.