Mohon tunggu...
Anggit Pujie Widodo
Anggit Pujie Widodo Mohon Tunggu... Jurnalis - Jurnalis

Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. ( Pramoedya Ananta Toer )

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Anak Tangga

16 Juni 2022   19:50 Diperbarui: 16 Juni 2022   19:59 92
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ket foto : Dokumen pribadi. 

Posisinya membelakangi, anak tangga, tatapannya terbentur tembok bintik, begitu dekat. Bahkan jika ia mengulurkan kedua tangannya untuk menyentuh tembok tersebut, telapak tangannya pun merasakan gesekan yang merangsang permukaan kulit. Lelaki itu berhenti sejenak, ia terdiam kaku sembari berdiri, beberapa detik terdiam, ia menoleh ke arah kiri dan mengarahkan dua bola matanya kesana. 

Di sebelah kiri, ada tangga lagi dengan tujuan menuju lantai dua. Ia diam lagi, sejenak berpikir bahwa tempat ini dulunya sering ia hampir. Selah Dejavu, gelagatnya mulai tak merasakan ketenangan. Alam bawah sadarnya bercabang, pergi tak karuan. Usai melihat tangga di sebelah kiri, ia menarik pandangannya dan mengarahkan kepala dan pandangannya ke sebelah kanan. Namun yang ia temui hanya tembok buntu. 

Tangga itu seolah mengarahkan Lelaki itu menuju ke sebuah tempat. Jika bisa bicara, tangga itu akan berucap 

'akulah jembatan yang akan kau lewati, mau tidak mau kau harus menginjakkan kedua alas kakimu diatasku, kusediakan alat agar kau tau apa tujuanmu'. 

Lelaki itu tak bergumam, dia hanya diam. Kali ini kepalanya sedikit menunduk. Ia seperti kebingungan, bingung harus melakukan apa meskipun jalannya sudah disiapkan. Ia kemudian memaksakan badannya kembali ke bawah, namun yang ia temui, jalan ke bawah sudah tertutup oleh sebuah pagar tanpa celah. 

Lelaki itu semakin bingung, apa yang harus ia lakukan dalam situasi seperti itu. Ia lalu terduduk, tatapannya mengarah ke pagar yang menutupi aksesnya untuk ke bawah, pundaknya ia sandarkan ke tembok buntu. Hela nafas panjang, huft. 

Beberapa menit terduduk diam. Lelaki itu memutuskan untuk berdiri. Ia tak mau terlihat lemah, ia tak mau dianggap pecundang. Ia bangkit dan memulai kembali niatnya untuk menaiki tangga kedua. Tanpa ragu, kini ia tak lagi berjalan, namun berlari menaiki anak tangga di sebelah kiri yang ia temukan. Dan ...

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun