Mohon tunggu...
Anggi Julianti Saputri
Anggi Julianti Saputri Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswi UIN Antasari Banjarmasin

Saya menyukai hal baru

Selanjutnya

Tutup

Parenting Artikel Utama

Ungkap Fakta Remaja Perempuan yang Mengalami "Father Hunger"

25 Juni 2023   08:30 Diperbarui: 3 Juli 2023   16:15 570
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi ayah dan anak. (sumber: shutterstock via kompas.com)

Father Hunger? Dunia sedang krisis ayah, ketiadaan sosok seorang ayah muncul karena stigma masyarakat memandang bahwa tugas ayah adalah mencari nafkah dan ibu mengurus anak di rumah. 

Fenomena yang terlihat membuat tumbuh kembang anak tidak seimbang dan membuatnya merasakan ketidakhadiran sosok ayah yang menemani masa pertumbuhannya. 

Hal ini juga berdampak pada psikisnya dari masa kanak-kanak hingga remaja, yang menyebabkan mereka kurang mampu mengungkapkan emosi, kurang mampu mengelola konsep diri secara psikis dan emosional serta kurang mampu mengambil keputusan sehingga menimbulkan perilaku dan sikap yang kurang ideal dimasa depan.

Budaya patriarki di Indonesia sudah menjadi tradisi sejak lama sehingga hal ini melekat kuat pada masyarakat yang menjadi penyebab kurangnya figur ayah terhadap pola asuh anak di Indonesia. 

Hal ini menjadikan Indonesia disebut sebagai negara Father Hunger tertinggi ketiga di dunia. Istilah serupa juga dikenal dengan sebutan Fatherless, Father Deficit, dan Father Absence yang asing di telinga.

Namun, banyak orang yang mengalaminya yakni merujuk pada kondisi mental seseorang yang telah kehilangan figur seorang ayah dalam kehidupannya.

Dikutip dari laman TheHopeLine.com, Father Hunger adalah kurangnya perhatian dan cinta dari seorang ayah yang terjadi karena berbagai faktor seperti kematian, perceraian, minimnya peran ayah karena budaya patriarki, ayah abusive dan lain sebagainya.

Pada hakikatnya ayah memiliki posisi yang penting dalam kehidupan anak terutama pada anak perempuan yang cenderung lebih besar kehilangan peran ayah dibandingkan anak laki-laki. 

Statement yang melekat kuat pada anak perempuan bahwa ayah adalah cinta pertamanya namun juga bisa menjadi luka pertamanya. 

Ayah menjadi standard penentu bagi anak perempuan dalam menilai baik buruknya seorang laki-laki, ketika sosok ayah telah hilang maka akan menganggu peran gender dan kesejahteraan psikologis anak perempuan hingga dewasa.

Kasus tersebut juga dapat mempengaruhi sikap remaja perempuan dalam memilih calon pasangan. Ia akan mencari sosok ayah yang dapat memberikan kasih sayang dalam diri pasangannya. 

Tidak jarang, hal ini sering menjerumuskan remaja perempuan dalam bahaya karena tidak benar-benar dapat memilih pasangan yang ideal. 

Seringkali ketika ia mendapatkan sedikit perhatian dari para laki-laki ia langsung berpikiran bahwa laki-laki tersebut memang yang menjadi tujuannya.

Penyebab dan Dampak Father Hunger

Sarah Serah dalam bukunya yang berjudul "The Unavailable Father: Seven Ways Women can Understand, Heal dan Cope with a Broken Father-Daughter Relationship" menjelaskan 6 kategori penyebab seorang Father Hunger, yaitu:

1. The Disapproving Father (Ayah pengkritik) 

Konsep diri yang positif dari seorang anak perempuan dipengaruhi oleh cinta dan peneriman tanpa syarat yang diberikan oleh ayahnya. 

Jika seorang ayah tidak mampu memberikan cinta tanpa syarat, maka disitulah seorang ayah dapat dikatakan seorang yang pengkritik.

2. The Mentally Father (Ayah dengan penyakit mental) 

Perilaku yang ditimbulkan seorang ayah yang dengan penyakit mental sering kali tidak menentu tergantung menggunakan diagnosanya. 

Anak perempuan akan selalu merasa waspada karena persoalan akan muncul sewaktu-saat, tak jarang menimbulkan kecemasan, khususnya kecemasan sosial.

3. The Subtance-Abusing Father (Ayah dengan ketergantungan zat) 

Anak perempuan yang tumbuh dengan ayah mengalami penyalahgunaan zat-zat terlarang menghadapi banyak pertarungan, mereka seringkali merasa bersalah karena merasa bertanggung jawab atas perilaku dilema mereka.

Setelah itu mereka merasa cemas dan takut orang tuanya bertengkar serta ayahnya melakukan kekerasan kepada ibunya. Mereka terbiasa dengan suasana tempat tinggal yang rancu sehingga mengalami kesulitan untuk tahu perilaku yang normal.

4. The Abusive Father (Ayah yang melakukan kekerasan) 

Bentuk kekerasan yang dilakukan seseorang ayah yang dimaksud disini dapat timbul dalam berbagai bentuk baik lisan, fisik, bahkan seksual. Terlepas asal kekerasan yang dilakukan akan mengakibatkan pengaruh yang jelek, kekerasan tadi menyebabkan syok, perasaan cemas, takut bahkan fobia. Memasuki usia dewasa perempuan yang tumbuh dengan kekerasan mengalami berbagai kesulitan dalam penyesuaian psikososial. Kesulitan membuat hubungan interpersonal yang dekat, disfungsi seksual, gangguan makan, ketergantngan zat, serta mempunyai prilaku yang dapat merusak diri sendiri.

5. The Unrealiable Father (Ayah yang tidak dapat diandalkan)

Kategori yang termasuk dalam tipe ini adalah ayah yang lepas dari tanggungjawabnya sebagai ayah yang bisa terjadi karena ayah terlalu sibuk atau tidak kompeten. 

Terdapat dua respon anak perempuan ketika mereka memiliki ayah yang tidak dapat diandalkan: Pertama, mereka akan berusaha lebih keras untuk menyenangkan ayahnya karena mereka merasa menjadi penyebab ayahnya berperilaku demikian.

Kedua, mereka akan memberikan pandangan bahwa semua laki-laki sama seperti ayahnya yang tidak dapat diandalkan.

6. The Absent Father (Ayah yang tiada)

Ayah yang tidak hadir secara secara fisik dengan kategori ayah yang meninggal, ayah yang meninggalkan anaknya karena perceraian atau alasan lain.

Ayah yang jarang sekali menghabiskan waktu dengan anaknya menimbulkan permasalahan terutama bagi anak perempuannya karena mereka tidak dapat menampilkan panutan idealnya perilaku seorang pria. 

Ketidakmampuan mereka ini menimbulkan masalah dari imajinasi anak perempuan dalam menentukan standar yang terlalu tinggi mengenai seorang pria yang ideal, sehingga waktu mereka akan habis untuk menemukan pria yang memenuhi standard tersebut.C

Cara Mengatasi Father Hunger

Dilansir dari Popmama.com, membagikan tips dari seorang psikolog sekaligurs konselor kesehatan mental tersertifikasi, Dr. Rachel Glik, EdD, LPC, melalui laman resminya drrachelglik.com, antara lain :

Percaya pada kekuatan diri sendiri, bahwa bisa sembuh

Melalui memahami kapasitas, potensi, kemampuan luar biasa yang ada dalam diri kita untuk bertumbuh, akan memudahkan kita untuk menyembuhkan luka dan memaafkan. 

Terlepas dari apa yang telah dialami sebelumnya, trauma tersebut tidak akan menggoyahkan diri kita, ketika kita telah merasa kuat.

Cari bantuan

Tentu saja, tidak semua hal bisa kita lakukan sendiri. Bantuan dari seorang profesional untuk membantu kita memulihkan diri adalah salah satu jalan terbaik untuk bisa mengeluarkan dari trauma di masa lalu, dan ini tidak berarti bahwa kita lemah karena tidak bisa menyelesaikan permasalahan diri sendiri. 

Justru sebaliknya, dengan membiarkan seseorang ahli masuk demi membantu kita bangkit dan menyelesaikan masalah, ini menunjukkan komitmen diri sendiri untuk bertanggung jawab atas kebahagiaan hidup kita.

Jangan selalu melihat ke luar untuk mengisi kekosongan yang ada dalam hidup atau diri kita

Sebelum mendapati hubungan yang baik dengan orang lain, membangun hubungan yang baik dengan diri sendiri dan menjadi utuh adalah hal yang lebih penting. 

Mengerti kebutuhan diri sendiri dan memberi cinta pada diri kita sendiri, dapat membantu kita untuk tidak terlalu menuntut banyak kepada orang lain, yang mana apabila kita terlalu bergantung dan menuntut orang lain untuk memenuhi kebutuhan kita.

Hal ini justru dapat berdampak buruk pada hubungan satu sama lain, dan membuat kita justru semakin sakit ketika keinginan untuk dipenuhi tersebut tidak dapat diwujudkan.

Maafkan, lepaskan, dan percaya

Menyalahkan orang tua kita, diri sendiri, hanya akan membuat kita terjebak dan membatasi kemampuan kita untuk menikmati berbagai keberkahan dan kebahagiaan yang ada dalam hidup dan seharusnya kita terima. 

Melalui memaafkan dan melepaskan akan sedikit meringankan beban luka yang selama ini mungkin dirasakan.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Parenting Selengkapnya
Lihat Parenting Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun