Mohon tunggu...
Andriyanto
Andriyanto Mohon Tunggu... Lainnya - Jika kamu tak menemukan buku yang kamu cari di rak, maka tulislah sendiri.

- Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh - Rasa bahagia dan tak bahagia bukan berasal dari apa yang kamu miliki, bukan pula berasal dari siapa dirimu, atau apa yang kamu kerjakan. Bahagia dan tak bahagia berasal dari pikiran kamu sendiri.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Pashupatastra: Panah Dewa Siwa yang Tak Terkalahkan

9 Januari 2025   07:00 Diperbarui: 8 Januari 2025   23:50 196
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Penutup

Pashupatastra bukan hanya sekadar senjata mitologis, tetapi juga sebuah simbol yang mengajarkan pelajaran berharga tentang kekuatan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab. Dalam cerita-cerita Hindu, senjata ini menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati bukan hanya tentang kemampuan untuk menghancurkan, tetapi juga tentang memahami kapan harus menggunakan kekuatan itu demi kebaikan bersama. Kisah Pashupatastra adalah refleksi dari nilai-nilai universal yang tetap relevan hingga hari ini.

Melalui kisah Pashupatastra, kita dapat belajar untuk menghormati kekuatan yang kita miliki, baik secara fisik maupun spiritual, dan menggunakan kekuatan tersebut dengan bijaksana. Dengan begitu, kita tidak hanya menjadi individu yang kuat, tetapi juga bijak dan bertanggung jawab. Kisah ini, meskipun berasal dari masa lalu, tetap relevan sebagai panduan moral dalam kehidupan kita saat ini. Dengan memahami dan menginternalisasi nilai-nilai ini, kita dapat menciptakan dunia yang lebih harmonis dan penuh rasa tanggung jawab. Nilai-nilai ini, jika diterapkan dengan benar, dapat membawa perubahan positif yang mendalam dalam masyarakat.

Referensi:

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun