Profesi pengamen sudah sangatlah umum di Indonesia. Banyak sekali pengamen berseliweran di seluruh antero Indonesia, baik di desa atau kota, entah tua sampai muda, bahkan anak kecil sekali pun dapat kita temui menjadi pengamen.
Dengan gitarnya mereka berkeliling rumah sambil menyanyikan lagu yang kadang kala terdengar cukup fals.
Bicara soal pengamen, banyak masyarakat Indonesia yang cenderung memandang sebelah mata hal ini. Pengamen dianggap sebagai profesi atau pekerja informal yang rendah dan hanya untuk orang-orang yang malas, serta kerap disalahgunakan.
Memang anggapan ini tidaklah sepenuhnya salah, sebab pada kenyataannya masih banyak anak muda yang mengamen yang sebenarnya mereka masih mampu bekerja yang layak, belum lagi anak muda yang uang nya hanya ia gunakan untuk mabuk bersama teman-temannya di warung atau dimanapun, inilah yang membuat masyarakat enggan memberi pengamen.
Apalagi bila masih muda, mengamen, hasilnya dibuat mabuk, dan ngamennya asal genjreng, malah makin membuat malas untuk diberi, atau dilihat, bahkan sampai dicaci.
Meski begitu, sebetulnya banyak sisi yang dapat kita lihat dan ambil hikmahnya dari seorang pengamen. Pernyataan diatas mungkin sisi lain yang mungkin membuat kita muak dengan sosok pengamen.
Namun perlu kita ketahui, banyak juga orang diluar sana yang sebetulnya memang tidak ingin mengamen, tapi karena himpitan ekonomi dan kesulitan memperoleh pekerjaan, pada akhirnya menjadi pengamen mungkin jadi solusi bagi mereka.
Kita tidak bisa sepenuhnya dengan serta merta membenci semua pengamen begitu saja, ini tidak bisa kita pukul rata.
Seiring berkembangnya zaman, pengamen kini sudah membenahi diri dengan memberikan inovasi yang agaknya cukup menarik, yaitu mengamen dengan berbagai alat musik seperti angklung, gamelan, dan jidor, setidaknya tidak terkesan ala kadarnya.
Pengamen seperti ini biasanya gerombolan anak muda yang mangkal di pinggiran lampu merah ataupun keliling jalanan.
Disisi lain, masih banyak diluar sana kita temui para orang tua yang sudah lanjut usia dengan berbagai kekurangan yang ada menjadi pengamen dipinggiran jalan hanya ingin membeli sesuap nasi, entah tidak punya keluarga atau ditinggalkan anaknya.
Terlepas dari itu semua, sebenarnya ada hikmah yang dapat kita ambil. Ketika pengamen datang ke rumah, banyak dari kita sengaja menutup rumah supaya pengamen itu tidak berhenti didepannya, atau dengan berkata "libur mas."
Hal semacam ini memang sudah bukan rahasia umum dan tidak bisa disalahkan, namun ada hal yang mungkin lebih baik yang bisa kita lakukan kala ada pengamen, yaitu memberi mereka, entah uang, makanan, atau rokok.
Kadang kala dengan kita memberi seribu atau dua ribu rupiah cukup membuat mereka senang, hal ini dapat kita lihat dengan mereka menyanyikan lagunya cukup lama.
Selain itu, para pengamen pun tentu akan berterimakasih dan mendoakan kebaikan untuk kita. Entah ikhlas atau hanya sekedar di mulut saja, tidak ada yang tau.
Tidak ada salahnya bukan, disini penulis tidak bicara soal dibuat apa setelah mendapat uang atau berapa pun penghasilan mereka, namun cara kita memberi pada sesama, keikhlasan hati dari mengulurkan tangan pada sesamalah yang menjadi poin penting.
Pengamen pun tidak ingin jadi pengamen, kehidupan yang keras menekan mereka, maka inilah jalan hidup mereka, tidak ada yang bisa disalahkan, ini sudah suratan takdir.
Dengan adanya pengamen dan kita, menunjukan arti kata adanya tangan diatas dan tangan dibawah dengan segala niat yang terkandung didalamnya. Memilih keikhlasan untuk memberi atau mengabaikan pintu rezeki.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI