Mohon tunggu...
Andre Vincent Wenas
Andre Vincent Wenas Mohon Tunggu... Konsultan - Pelintas Alam | Kolomnis | Ekonomi | Politik | Filsafat | Kuliner
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Pelintas Alam | Kolomnis | Ekonomi | Politik | Filsafat | Kuliner

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Fenomena Masyarakat Pembaca Judul... Langsung Komen

8 Juni 2020   20:10 Diperbarui: 8 Juni 2020   20:07 1314
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

*Fenomena Masyarakat Pembaca Judul... Langsung Komen*

Oleh: *Andre Vincent Wenas*

Hasrat ingin tampil di panggung (media) sosial dengan buru-buru komen tanpa membaca lengkap dan kritis isi pesan yang disampaikan telah memunculkan sekelompok masyarakat yang disebut 'masayarakat pembaca judul langsung komen'.

Kedangkalan interaksi sosial via media seperti ini semakin marak di forum publik, utamanya di medsos. Fenomena seperti ini segera saja dimanfaatkan oleh sementara media online yang memang hanya bertujuan mengejar rating lewat banyaknya link yang di click.

Maka bertebaranlah judul-judul berita atau tulisan yang disebut dengan istilah 'click-bait' (jebakan untuk meng-klik tautan). Dan kerap (atau hampir selalu) didapati bahwa isi berita/tulisan itu tidak ada relevansinya sama sekali dengan judulnya.

Kesalahan ada di kedua belah pihak. Pembaca judul memang malas untuk meneliti isi, dan media online penyaji berita pun hanya ingin mengejar rating. Keduanya sama-sama dangkal, sama-sama jadi pembohong publik.

Fenomena seperti ini hanya merecoki dunia maya, ruang publik jadi terpolusi oleh ulah banalitas (kedangkalan) seperti ini. Apalagi jika keduanya menganggap praktek pembohongan publik seperti itu adalah hal yang biasa dan malah perlu. Demi pencitraan dan demi rating.

Citra dan rating menjadi ideologi bagi sementara masyarakat dunia maya. Dari pihak penerima pesan maupun pengirim pesan.

Karena memang seperti telah banyak diulas dalam berbagai kajian media, dikatakan bahwa semua yang tampil lewat media (berita, iklan, video, foto, dll) sesungguhnyalah sudah di-framing (diberi kerangka) tertentu. Semua yang tampil lewat media selalu ada perspektif (sudut pandang) tertentu. Bahkan Marshal McLuhan (seorang profesor jurnalistik) sampai meyakini bahwa media itu sendiri adalah juga pesan (the medium is the message).

Beberapa kali kita mengalami sendiri, saat sharing (membagi) link artikel yang hanya menampilkan judulnya, kerap direspon oleh penerima pesan dengan tanggapan hanya atas judulnya saja. Padahal seringkali judul tulisan (apa lagi yang berbentuk pertanyaan) adalah sekedar untuk menstimulasi diskusi dimana uraian jawabannya ada dalam isi artikel tersebut.

Namun lantaran penerima pesan hanya merespon lewat pembacaan judul, maka diskusi pun macet, jadi tidak jelas juntrungannya. Bahkan bisa mengarah ke debat kusir yang konyol dan tolol. Sama sekali tidak mencerdaskan, buang-buang waktu dan energi.

Revolusi industri yang telah beralih ke revolusi informasi di abad komunikasi digital membuat masyarakat kebanjiran informasi, atau tepatnya dihempas oleh tsunami data-data.

Kita sekarang tinggal mengetik satu kata kunci di mesin pencari (search engine) untuk kemudian dalam beberapa detik disodorkan ribuan link yang mungkin relevan dengan minat pencarian kita.

Maka dibutuhkan keterampilan tersendiri di era banjir informasi seperti ini. Keterampilan riset (research), keterampilan menyusun taksonomi pengetahuan yang relevan, keterampilan mengelola waktu (time management), keterampilan menentukan prioritas. Keterampilan membaca cepat, keterampilan membaca kritis, keterampilan menulis dengan runtut dan logis, dan berbagai soft-skills lainnya.

Kalau tidak, bisa seharian (bahkan berhari-hari) waktu dan tenaga terbuang dalam aktivitas berselancar di dunia maya, yang sayangnya tidak membawa hasil guna sama sekali. Bahkan kerap jadi tersesat ke situs-situs yang... ya menyesatkan itu tadi. Faham khan?

Bagi ketiga belah pihak, penerima pesan dan pengirim pesan serta pihak pengelola media (medsos maupun online) dibutuhkan kesadaran etis. Katakanlah suatu etika komunikasi di media sosial.

Pertanyaan sokratian seperti, apakah yang ingin disampaikan itu benar? apakah sesuatu yang baik? Apakah itu berguna/bermanfaat? apakah itu sesuatu indah? Kiranya bisa menjadi tolok ukur diri sendiri sebelum jari kita memencet tombol send (kirim).

Dalam posisi penerima pesan pun kita juga dituntut untuk tidak sembrono dan terburu-buru untuk menerima dan lalu merespon. Perhatikan dulu isi pesan, apa proposisi-proposisi yang disampaikan? bagaimana argumentasinya? apakah logis? apakah ada relevansinya buat kita, buat masyarakat luas? Dan seterusnya.

Intinya, sampaikanlah pesan dengan hikmat kebijaksanaan, walau tak perlu sampai ke permusyawaratan/perwakilan. Cukup dipikirkan sendiri dengan jernih dan ditimbang dengan hati nurani serta itikad yang baik.

Demikian pun saat menerima pesan, pasang kuda-kuda berpikir kritis (sedikit curiga juga nggak apa-apa). Tapi juga dengan sikap hati dan pikiran yang terbuka untuk menerima hal yang benar, baik, berguna/ bermanfaat, atau sesuatu yang indah untuk dinikmati oleh rasa.

Semoga kita tidak jadi warga masyarakat pembaca judul langsung komen.

"The biggest communication problem is that we listen to reply, not to understand." -- anonim.

08/06/2020

*Andreas Vincent Wenas*, Sekjen 'Kawal Indonesia' -- Komunitas Anak Bangsa

Dokpri
Dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun