Saat itu Allah memberi pengarahan,
"Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya , pastilah engkau mati."
Tapi Iblis memotong dan memutarbalikannya dengan bilang,
"Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya bukan?"
Kisah lengkapnya bisa dibaca dalam kitab Kejadian (atau Genesis) pasalnya yang kedua dan ketiga. Di situ diceritakan tentang kehidupan di Taman Firdaus dan tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa.
Semangat (roh) kehidupan di Taman Firdaus awalnya indah baik semua. Tidak tahu, dan tidak mengenal tentang yang jahat.
Namun tatanan hidup yang indah dan baik itu rontok gara-gara pelintiran dan hoaks yang dibisikkan iblis kepada manusia.
Oleh si iblis, berita (perintah Tuhan) yang lengkap diedit seenak udel dan dibelokkan logikanya. Iblis yang memang jahat dan penuh rasa iri dengki tidak tahan melihat tatanan kehidupan yang indah dan baik.
Persis seperti ini jugalah gaya dan cara para penebar hoaks di masa kini. Potong saja berita lengkapnya, lalu edit sesuai skenario jahatnya, putar balikkan logika dan semburkan kata-katanya.
Semuanya demi memuaskan ego dan ambisi kuasa. "Sekali-kali kamu tidak akan mati," si iblis terus berbisik, "...bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan seperti Allah," begitu hasutan demi hasutan disembur.
Godaan ambisi sesat dan kesombongan seperti manisnya racun. Menggelapkan akhlak, dan bisa membuat orang mau melacurkan daya pikir (intelektualitasnya) demi mengabdi pada jabatan dan kekuasaan.
Di dalam kitab Genesis diceritakan juga bahwa manusia pertama itu menamai segala sesuatu yang dihadirkan Allah di hadapannya. "Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya..."
Luar biasa, manusia gambaran Allah adalah cendekiawan, kaum intelegensia. Yang memberi nama-nama (bahasa) kepada semua. Mengartikulasikan realitas dalam bahasa. Bahasa yang bersauh pada realitas. Tanpa manipulasi, tanpa kebohongan.
Karena kebohongan memang berbahaya. Tatkala bahasa sudah tidak bisa merepresentasikan realitas, dan digunakan secara semena-mena tanpa aturan logis maka hancurlah komprehensi, pemahaman utuh, akal sehat, kewarasan. Pendeknya, tak ada lagi pemikiran, karena berpikir adalah membahasakan realitas.
Saya berpikir, maka saya ada (cogito ergo sum) kata Rene Descartes. Pemikiranlah yang membuktikan eksistensi atau keberadaan kita sebagai manusia. Tanpa itu, gelap, tiada.
Hari Minggu ini bacaan dalam Misa adalah tentang Taman Firdaus, kejatuhan manusia dalam dosa (gara-gara kena hoaks iblis). Lalu ada juga kisah Yesus (Nabi Isa) yang dalam masa puasaNya juga diganggu iblis.
Iblis masih nekat coba-coba menggoda Yesus dengan strategi hoaks-nya. Bahkan iblis pun berani kurang ajar dengan mengutip-ngutip ayat dalam upayanya mengelabui Nabi Isa.
Pertama dengan godaan harta, lalu iming-iming soal kekuasaan, dan akhirnya uji kesombongan. Mengenai ini ada tertulis di kitab Injil Lukas pasalnya yang keempat.
Iblis tak segan-segan untuk mengutip ayat suci. Dan tentang soal mengutip-ngutip ayat secara serampangan dengan dibumbui berita editan kita jadi teringat peristiwa-peristiwa kontemporer, dalam konstelasi sosial-politik kita sekarang.
Pembohongan publik, Â politik uang, Â korupsi, Â konspirasi bancakan uang rakyat, Â dan sejenisnya. Semua itu bentuk-bentuk kejahatan penipuan, pengelabuan.
Rupanya peristiwa serupa sudah ada studi kasusnya dahulu di masa kejatuhan manusia ke dalam dosa. Hoaks, menebar kabar bohong demi ambisi harta, kuasa dan kesombongan adalah kerjaan utama iblis. Sejak awal mula.
Lalu bagaimana?
Berdoalah dan berjaga-jagalah (artinya selalu waspada dan kritis) supaya kita tidak jatuh dalam pencobaan.
01/03/2020
*Andre Vincent Wenas*, Sekjen *Kawal Indonesia* - Komunitas Anak Bangsa.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI