Mohon tunggu...
Andre Lolong
Andre Lolong Mohon Tunggu... Insinyur - Follow me @andre_gemala

Husband of a caring wife, father of two, car enthusiast, motorsport freak, Life learner..

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Pilihan

Tips Berkendara di Permukaan Jalan Basah dan Hujan

28 Februari 2019   15:30 Diperbarui: 1 Mei 2022   09:41 228
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Di kala hujan, mengemudi bisa menjadi tantangan tersendiri. Pandangan terganggu, jalanan basah, genangan air hingga banjir. 


Beberapa waktu lalu kita dikejutkan dengan sebuah video mengenai kecelakaan di jalan yang cukup viral di medsos. 

Pada tayangan video amatir tersebut nampak sebuah SUV berkecepatan tinggi di jalur kanan dan kondisi permukaan jalan saat itu basah.

 Kira-kira 300 meter setelah SUV tersebut melewati mobil yang membawa sang perekam video, SUV mengambil gerakan mendadak ke kiri. 


Perubahan arah dalam kecepatan seperti itu, dengan faktor lebarnya jalur, dan skill driver yang mungkin minim, menyebabkan terjadinya tumbukan dengan pembatas jalan di sebelah kiri. Tumbukan cukup keras hingga SUV terbalik.

Beberapa orang mengatakan apa yang menyebabkan hal tragis di atas adalah Hydroplaning. Sebenarnya apa sih Hydroplaning itu?

Perlu diketahui bahwa Hydroplaning berpotensi dialami oleh mobil, motor atau bahkan pesawat terbang ketika mendarat, pada permukaan jalan yang basah.

Hydroplaning sering disebut juga dengan istilah Aquaplaning. Keduanya punya arti sama. Hydroplaning terjadi saat adanya lapisan air di antara permukaan jalan dan ban, pada kecepatan tertentu, hingga ban tidak punya grip maksimal dan kehilangan traksi. Ketika ini terjadi, sistem kemudi kehilangan kapabilitas mengarahkan laju kendaraan dan rem menjadi tidak efektif.

Pada ban kendaraan kita ada yang disebut dengan groove/channel atau saluran eveakuasi air. Fungsinya sudah jelas adalah mengevakuasi air pada saat ban melewati permukaan jalan berair. Namun ban memerlukan waktu untuk mengevakuasi air. Tergantung kondisi bannya. 

Sesungguhnya kemampuan sebuah ban dalam mengevakuasi air berpacu melawan kecepatan kendaraan saat melewati permukaan jalan berair tersebut.

opinionipneumatici.it
opinionipneumatici.it
Ban baru yang punya tread depth (kedalaman tapak ban) maksimal, berpotensi cepat mengevakuasi air. Dikarenakan groove yang dalam dapat menampung air dengan volume yang cukup banyak.

Namun ban yang kondisinya tinggal 50% atau bahkan di bawahnya, akan lebih lambat dalam mengevakuasi air. Karena groove yang sudah tidak terlalu dalam dan hanya mampu menampung sedikit air.

michelin-premier-a-s-images-10-5c779781ab12ae460f15ee77.jpg
michelin-premier-a-s-images-10-5c779781ab12ae460f15ee77.jpg
Perhatikan perbedaan jejak air yang dibuat oleh ban dengan kondisi baru dan ban lama yang kedalaman tread-nya sudah tinggal 3 mm pada gambar di bawah ini.

www.1010tires.com
www.1010tires.com
Kendaraan yang memakai kedua ban tersebut dipacu hingga 110 km per jam. Terlihat sekali perbedaan area kontak yang diciptakan oleh kedua ban tersebut. Yang kiri mempunyai grip jauh lebih baik daripada yang kanan. Anda mau pilih yang mana?

Berikut tindakan persiapan menghadapi keadaan jalan basah:

1. Periksalah secara berkala kedalaman Tread/ tapak ban mobil Anda, apakah masih layak atau tidak. Ukuran kedalaman tapak ban berbeda-beda, tergantung jenis ban dan jenis mobil Anda. 

Ban standar untuk mobil keluarga mempunyai ukuran kedalaman 7 mm sampai dengan 7,5 mm. Ban mobil Sport dengan profil lebih tipis mempunyai kedalaman 6 mm dan ban untuk kendaraan komersial bisa mencapai 9 -- 10 mm.

dokpri
dokpri
2. Pilihlah ban yang mempunyai reputasi baik untuk urusan grip dan keawetan. Mintalah penjelasan dari Sales Counter akan feature apa saja pada ban dan fungsi pola tapak ban di toko ban tempat Anda melakukan pembelian.

3. Pada setiap ban mobil terdapat TWI ( Tread Wear Indicator ) yang berfungsi mengingatkan akan batasan minimal kedalaman tapak, yaitu 1,6 mm. 

TWI ini berada di sela-sela blok tapak ban, Namun jangan tunggu hingga sampai batas minimal. Jika terlihat sudah mendekati TWI, silahkan segera ganti ban Anda.

www.michelinman.com
www.michelinman.com
4. Gunakan Tread depth measurement untuk mengukur kedalaman tapak ban Anda. Jika anda tidak memilikinya, bisa juga gunakan koin IDR 500,- yang dikeluarkan BI pada tahun 2003. 

Dengan sisi Garuda menghadap ke anda dan berdiri tegak lurus, selipkan koin perlahan ke sela tapak ban. Jika ujung terluar tapak ban masih sejajar dengan bulu ekor Garuda, maka ban masih layak. Namun jika tapak sudah di bawah angka "2003" yang ada di bawah Garuda, maka ban sudah selayaknya diganti.

dokpri
dokpri
Lalu langkah-langkah seperti apa yang perlu diambil ketika mobil yang kita kemudikan mengalami Hydroplaning?

1. Kurangi kecepatan. Sesungguhnya seperti apa pun kondisi ban kendaraan kita, kita wajib memperlambat laju kendaraan ketika melewati permukaan jalan basah atau yang tergenang air.

2. Jangan buru-buru menginjak rem. Rem tidak efektif ketika ban kehilangan grip terhadap permukaan jalan karena Hydroplaning. Buru-buru menginjak rem akan menjadikan mobil lebih tidak terarah.

3. Belokkan kemudi ke kiri dan ke kanan secara konstan hingga anda merasa mobil sudah mengikuti gerakan pada kemudi sepenuhnya

4. Pinggirkan mobil ke bahu jalan atau tempat aman untuk menenangkan diri anda.

Mari kita menjadi driver yang bijak di kala masa hujan ini. Persiapkan mobil Anda dengan ban yang prima, mantapkan diri dan di atas semua itu tetap enjoy mengemudi.

#safermobilty #drivercerdas

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Otomotif Selengkapnya
Lihat Otomotif Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun