Partisipasi masyarakat dalam pemilihan umum sangatlah penting, kata wajib memilih pun tampaknya tidak memungkinkan jaminan sukses pada pemilu, sukses yang dimaksudkan dalam pemilu ini yaitu presentase suara masuk itu sempurna atau 100%. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pemilu juga belum berhasil, justru keadaan dalam pemerintahanlah yang menyebabkan turunya kualitas pemilu itu sendiri. Alih-alih melakuan terobosan atau memecahkan masalah, malah timbul masalah dalam kalangan elite politik yang tentunya dapat menyebabkan turunya gairah dan kepercayaan masyarakat dalam politik.
Berbagai kasus yang timbul seperti terjadinya korupsi pada pemerintahan yang menjerat banyak tokoh populer politik antara lain: mantan Menpora Andi Malarangeng, Anas Urbaningrum, Lutfi Hasan Isak, bahkan yang baru-baru ini yaitu Ratu Atut yang menjabat sebagai gubernur Banten. Bagi masyarakat hal ini sangat konyol, masyarakat yang sebelumnya memilih orang-orang tersebut banyak yang menjadi kecewa, kekecewaan ini dapat menimbulkan turunya minat masyarakat untuk memilih, toh juga jika tidak memilih tidak bakal dihukum atau dimasukan ke penjara.
Pemilu 2014 tinggal beberapa bulan lagi. menurut survei yang dilakukan oleh International foundation for Electoral System (IFES) bersama LSI , sebanyak 90% responden mengaku akan memilih pada pemilu 2014. Tetapi ketika dicek tentang ketertarikan akan politik, 41% mengatakan tidak terlalu tertarik, sementara 14% tidak tertarik sama sekali. Hal ini membuktikan bahwa minat masyarakat dalam politik itu rendah, apalagi jika bertambahnya kasus-kasus yang bersifat negatif seperti korupsi pada elit politik, mungkin masyarakat menjadi kurang gairah atau bahkan tidak bergairah sama sekali untuk memilih.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H