aku suka pagi ini, anginnya berhembus ke bilik kamarku, sepertinya ia dari arah timur laut. angin itu sesekali dihantar hujan tipis-tipis. keduanya nampak sepakat keluar masuk, dari atas dari tenga, juga dari lantai. Â Â
ada yang berbeda pagi ini, dari caranya menyapakau, ia memaksaku terdiam di dalam kamar, padahal mimpi pagiku sedari tadi usai, lalu alasan apa lagi yang sepertinya membuatku termangu atau beranjak.
tubuhku begitu kaku, di ubunku sesekali basah, membuatku bergairah, meraih tanganmu, darahnya amat dingin, nadinya begitu pelan, tak seperti denyut air dalam lapisan tanah yang merontah ingin keluar dari atas bumi.
darah dalam tubuhku pun begitu pelan, ia terbungkus dingin atas angin pagi dan sisa hujan.
sepertinya daun-daun di taman menungguku, embun yang sedari tadi disapu hujan jua berjanji ingin bersua denganku, entah kupu-kupu bersembunyi di bilik mana, bilik rumahku tak lagi sesejuk dahulu, kemarau telah mengangkat hawa bunga-bunga di halaman rumah.
mukamu pucat saat angin pagi beranjak bersama ke sisa hujan, aku tebak huruf-huruf yang ada dalam batinmu, ada rindu, ada kenangan yang merapat dalam dirimu, jangan datang, kenangan itu yang membuat kita kaku.
padahal hawa pagi ini yang aku suka, kenapa huruf-huruf yang tercipta dari sisa hujan beralih ke ingatan.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H