Tak salah jika pengarang menghadirkan karya yang baik dalam bahasa yang baik kemudian berterima di masyarakat adalah jalan kemuliaan. Tak salah pula jika banyak di antara pengarang selalu saja menghadirkan teks-teks yang berbaur kebudayaan lokal. Niatan pengarang tidak lain untuk memberitakan bahwa di daerah tempat yang mempengaruhinya melahirkan karya ada peristiwa luar biasa, ada nilai-nilai yang terpendam, ada sesuatu yang berharga yang ingin diinformasikan secara tersirat. Sebaliknya ada hal-hal lain yang sifatnya larangan yang tak mesti dilakukan di era saat ini. Ada pergesaran budaya, pengetahuan hingga generasi.
Situasi inilah yang menyebabkan seorang pengarang tak luput menghadirkan unsur lokalitas dalam cerpennya agar hal tersebut sebagai jembatan ke pembaca. Posisi pengarang berada di tengah-tengah, kadang sebagai penulis saja atau kadang berperan ganda narator sekaligus penulis.
Cerpen sebagai bagian dari karya sastra diyakini dapat membangun karakter bangsa. Olehnya itu eksistensinya sangat dibutuhkan. Tak heran jika sastra menjadi sebuah ilmu, sebagai objek kajian ilmiah meski yang begitu abstrak dan multitafsir. Karya sastra merupakan benda mati yang harus dihidupkan oleh siapa saja yang ingin berdinamika secara reflektif. Karya sastra dengan unsur-unsur budaya di dalamnya merupakan sebuah mutiara yang terpendam, yang dimiliki sebuah teritori tergambar jelas dalam karya itu.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H