Seiring berjalannya waktu dan banyaknya acara yang kemudian memanggil Mama Soegra menjadi penghibur dengan menyanyikan lagu-lagu menggunakan bahasa Dermayon ( sebutan untuk bahasa Indramayu ) contohnya, Penganten baru, Nasibe badan dan sebagainya. Membuat masyarakat mempunyai antusiasme yang tinggi untuk menyaksikan pertunjukan musik tarling pimpinan dari Mama Soegra itu. Puncaknya ketika tahun 1936 Mama Soegra dan rekannya menerima Honorium pertama berasal dari keluarga WNI keturunan Cina bernama Babah Peranti ketika sudah selesai menghibur dengan menyanyikan beberapa lagu Mama Soegra dan rekannya diberikan honor tiap orangnya sebesar satu ringgit. Hingga tak jarang pada saat itu tidak bisa memberikan uang sebagai uang honor maka, sebagai pengganti Mama Soegra dan rekan hanya diberikan sebuah berkat ( bungkusan makanan ) untuk dimakan bersama keluarga dirumah.
 Â
Tarling: Akulturasi dan Pengikisan Unsur Dasar
      Ketika tahun 1936 Musik Tarling mengalami kejayaan dengan mudahnya tersebar dari mulut akan penampilan dari Mama Soegra dan teman-temannya. Hingga akhirnya tergabungnya seorang Sinden dengan suara khasnya bernama Tuleg, kehadiran Tuleg menjadi semakin mengundang antuiasme masyarakat yang menginginkan melihat juga mendengarkan penampilan Tarling. Puncaknya pada tahun 1938 penampilan Tarling menjalar sampai luar kabupaten Indramayu yakni, Cirebon yang diundang oleh seorang juragan bernama Jana. Namun, hal aneh ditemukan oleh Mama Soegra dan Tuleg dimana penampilan Tarling di Cirebon tidak sama dengan di Indramayu perbedaan itu dilihat dari sebuah sterotipe bahwa sebuah musik tidak boleh dicampur adukan antara gamelan dan gitar karena, tidak sesuai peraturan wong londo ( Belanda ) kala itu menganggap seperangkat gamelan misalnya, kendang adalah hal kampungan dan kurang diminati. Namun, hal itu tetap dimainkan Mama Sogra dan grupnya mengingat salah satu unsur penting dalam Tarling adalah kendang.
     Saat Jepang datang, suasana di Indramayu tampak mencekam. Sebagai tanda bahaya, dibunyikan sirene atau Kentongan, agar masyarakat Indramayu berdiam diri di dalam rumah. Lampu harus dimatikan pada malam hari, dan tidak boleh ada aktivitas di luar rumah. Selain menguasai gedung-gedung pemerintah, militer Jepang melarang segala bentuk organisasi, termasuk organisasi sosial dan seni. Mama Soegra dan teman-temannya yang sering berkumpul untuk bermain Tarling juga dilarang. Jepang hanya mengizinkan segala bentuk organisasi yang ditujukan untuk kepentingan Jepang. Pada saat itulah Jepang mendirikan organisasi militer dan semi militer yang harus diikuti oleh semua warga negara. Untuk tujuan ini, Jepang merekrut orang-orang muda. Anak-anak muda membutuhkan Jepang untuk memperkuat lini belakang mereka. Pada tahun 1945 atau Pasca Kemerdekaan Mama Soegra kembali berkiprah sebagai seniman yang menyanyikan lagu Tarling klasik itu.
    Memasuki tahun 1960-an, anak-anak di pelosok Kabupaten Indramayu mulai merangkul kesenian Tarling. Pada 1960-an, kelompok seni Tarling mulai bermunculan di beberapa tempat. Misalnya di desa Sleman di kecamatan Jatibarang, seni Tarling sudah berkembang pesat. Sedangkan Mama Soegra berdiam diri di sekitar Kabupaten Indramayu. Berbeda dengan murid dan temannya Jayana dan Sulam yang bermain Tarling, mereka berdua pindah ke Cirebon dan bermain Tarling disana. Jayana mampu menghadirkan seni Tarling yang memukau penonton. Tarling yang dibawanya sangat cocok untuk wilayah Pantura. Industri hiburan tampaknya memilih artis mana yang disukai publik dan mana yang tidak. Socrates tidak mampu bersaing, sehingga tidak dikenal luas. Pada tahap pengembangan ini, Sugra kurang kompetitif, karena Tarling yang dikemas Sugra bukanlah Tarling industrial, melainkan Tarling klasik. Padahal, Sugra hanya bisa eksis di lingkungan Indramayu. Meski begitu, pendidikan yang dilakukan Mama Soegra telah melahirkan artis-artis Tarling menjadi nama besar. Meski begitu, Mama Soegra bisa dikatakan pelopor dan pendidik yang membuat seniman Tarling terkenal, karena Mama Soegra menguasai Instrumen Gamelan dan musik Tarling. Ia juga memiliki penanganan vokal yang sangat baik. Jayana pernah belajar tarling dengan Sugra dan sering diberi nasehat dan nasehat latihan vokal
     Masa kedua atau generasi kedua berawal dari tahun 1960 -- 1970 dimana pusat perkembangan musik Tarling berasal dari Cirebon bukan dari Indramayu. Jayana mempunyai sebuah murid bernama Abdul Adjib yang kemudian membawa citra lagu Tarling semakin mewabah dan terdepan karena, lagu Tarling bukan hanya digandrungi oleh warga Cirebon dan Indramayu saja tetapi, sampai ke wilyah Kuningan, Majalengka dan wilayah Brebes. Abdul Adjib membuat sebuah gebrakan baru dalam mengaransement instrumen Tarling yang semula hanya berasal dari 2 alat musik saja dimasa ini, berkembang dengan penambahan alat musik lain seperti kendang, ecek-ecek ( sejenis tamborin ).