Disebutkannya, kolega Widjojo, antara lain, Ali Wardhana, Emil Salim, Sumarlin (alumnus Pittsburgh University, tapi mengikuti garis kebijakan Mafia Berkeley), dan Saleh Afiff. Radius Prawiro yang berpendidikan akuntan dari Belanda, juga masuk kelompok generasi pertama Mafia Berkeley.
Dikatakannya, sebagai konseptor dan arsitek utama pembangunan ekonomi Indonesia 1966-1997, Widjojo amat leluasa menempatkan kolega dan kadernya untuk menduduki posisi penting di berbagai kementrian. Emil Salim, Sumarlin, Saleh Afiff, diorbitkan ke posisi menteri setelah “magang” di Bappenas.
Demikian pula, katanya, generasi ekonom yang lebih muda, terus mendaki ke posisi empuk di pemerintahan setelah berkarier di Bappenas. Mereka, antara lain Adrianus Mooy, BS Moelyana, Sudradjad Djiwandono, dan Boediono.
Kebijakan makro ekonomi yang diusung Mafia Berkeley, menurut Rizal Ramli, adalah pengendalian laju inflasi lewat kebijakan fiskal dan moneter yang ketat, liberalisasi sektor keuangan –dikenal dengan istilah deregulasi dan debirokratisasi pada tahun 1980-an, liberalisasi sektor industri dan perdagangan, dan privatisasi alias penjualan aset milik negara.
Yang menarik, kehadiran B.J. Habibie yang dengan cepat merebut simpati Soeharto, membuat kubu Widjojo Cs menemukan rival yang sepadan dalam sirkulasi elit birokrasi.
Habibie, menurut Rizal Ramli, lewat "markasnya" di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga berhasil menempatkan orang-orangnya di kabinet, seperti Wardiman Djojonegoro dan Rahardi Ramelan.
Meski Habibie menjadi rival kuat dalam “memperebutkan” kursi kabinet, toh dalam cetak biru pembangunan ekonomi, posisi Mafia Berkeley tak tergoyahkan. Rizal Ramli melihat generasi kedua dan ketiga Mafia Berkeley masih bertebaran di Bappenas, Departemen Keuangan, dan Bank Indonesia.
“Banyak anggota dan murid Mafia Berkeley yang menduduki posisi kunci di bidang ekonomi menjadi saluran strategi dan kebijakan yang dirumuskan oleh IMF, Bank dunia, dan USAID,” kata Rizal Ramli dalam seminar “50 Tahun Mafia Berkeley vs Gagasan Alternatif pembangunan ekonomi indonesia”, di Jakarta, beberapa tahun lalu.
Rizal Ramli memandang, meski ditopang rezim otoriter selama lebih dari tiga dekade, Mafia Berkeley nyatanya memang gagal menjadikan Indonesia sebagai negara besar di Asia.
Rizal Ramli pun menunjuk pada pertengahan tahun 1960-an GNP perkapita Indonesia, Malaysia, Thailand, Taiwan, China nyaris sama, yaitu kurang dari US$100 per kapita.
Namun setelah lebih dari 40 tahun, GNP perkapita negara-negara tersebut pada tahun 2004, Indonesia mencapai sekitar US$ 1.000; Malaysia US$ 4.520; Korea Selatan US$ 14.000; Thailand US$ 2.490; Taiwan US$ 14.590; China US$ 1.500.