Dimensi terakhir adalah dimensi Love (Cinta), dimensi yang membalut dimensi komunikasi dan dimensi waktu dalam satu bahasa yang sejujurnya mampu diungkapkan dan dipahami dengan sederhana.Â
Cinta sejatinya adalah dominasi seorang Ibu kepada anaknya. Cinta penuh kelembutan dari seorang Ibu menjadi alasan sekaligus arah dalam mengasuh dan mendidik anaknya.
Cinta Ibu adalah cinta tanpa syarat, cinta tanpa lelah, cinta yang tidak mengharap kembali, dan cinta yang tak akan lekang dimakan waktu. Cinta Ibu akan mampu mengubah nasib anaknya dalam ungkapan kata dan untaian doa (Rosyada & Ramadhianti, 2019).Â
Cinta Ayah adalah cinta penuh kekuatan, cinta yang mengajarkan tentang ketegasan dan kejujuran. Cinta Ayah mengajarkan anak untuk mampu memilih, membuat keputusan, mampu mempertanggungjawabkannya.Â
Boleh jadi, ada banyak orang yang datang dan pergi dalam kehidupan seorang anak manusia, orang-orang yang memberi warna dalam dirinya. Namun, sejatinya keluarga adalah orang pertama dan utama yang akan direkam dan ditiru.Â
Dan dengan mengimplementasikan ketiga dimensi tersebut di setiap keluarga, semoga setiap keluarga dapat menciptakan lingkungan yang positif untuk mendidik dan membangun keluarga yang berkarakter positif.Â
Karakter positif yang dimiliki setiap keluarga ini akan menjadi ciri unggul generasi mendatang (Brock-Utne, 2018). Tidak hanya sebatas ciri unggul, namun sekaligus sebagai modal utama dalam menghasilkan generasi emas di masa mendatang, generasi yang akan melanjutkan pembangunan nasional di negeri ini.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI