Mohon tunggu...
Amrih Setyowati
Amrih Setyowati Mohon Tunggu... -

aku mencintai hidupku apa adanya....

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Membentuk Karakter Kritis dan Kreatif pada Diri Anak

25 November 2010   04:51 Diperbarui: 26 Juni 2015   11:19 997
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gadget. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

Di dalam kurikulum pendidikan nasional, sebuah kompetensi dapat dicapai melalui tiga indikator, yakni pengetahuan, keterampilan dan sikap. Artinya, bahwa anak belajar dengan subject, supaya menjadi tahu, dapat melakukan dan menjadi perilaku yang tercermin dalam keseharian hidup.

Belajar berarti melakukan proses berpikir. Belajar tidak cukup hanya sekedar tahu, menguasai ilmu dan menghafal semua teori yang dihasilkan orang lain. Dengan demikian, pembelajaran hendaknya melatih anak mengembangkan kemampuan berpikir. Anak harus dilatih untuk berpikir kritis terhadap setiap fakta yang ditemukan. Cermat dalam menemukan masalah dan kreatif dalam menggagas solusi penyelesaiannya.

Untuk dapat membentuk karakter kreatif pada diri anak, maka pembelajaran perlu melatih menemukan masalah. Selanjutnya anak hendaknya dilatih mencari solusi kreatif dan mewujudkannya dalam sebuah karya produktif. Jadi belajar membuat anak berlatih menjadi produsen.

Berpikir kreatif

Otak merupakan pengenal luar biasa dan penyimpan pola. Otak lebih mengingat hal-hal yang dapat kita lakukan, bukan yang kita tidak dapat lakukan, dan penggunaan yang biasa, bukan yang tidak biasa. Dengan pola-pola biasa dengan cara biasa dilakukan, dibuat, dioperasikan atau dikenalinya sesuatu, otak membuat hidup kita jadi lebih mudah. Kita dapat menggunakan, membuat dan mengenali banyak hal tanpa harus berpikir. Berpikir kreatif menuntut kita untuk melepaskan diri dari pola biasa atau dominan yang telah disimpan otak.

Untuk dapat membantu anak melepaskan diri dari pola-pola dominan, diperlukan sikap positif berupa pemikiran bebas/berfantasi dan pengambilan resiko. Sebenarnya sikap ini telah dimiliki anak ketika bermain di rumah, tetapi kebebasan ini mengalami penekanan oleh pembelajaran sekolah yang menekankan pada pemikiran dengan jawaban yang benar.

Seorang pemikir kreatif kerap memimpikan sesuatu yang tampaknya tidak mungkin terjadi atau solusi yang terkadang konyol terhadap suatu masalah. Ia biasanya membiarkan ide dan solusi untuk beberapa waktu dan tidak tergesa-gesa mengambil keputusan karena solusi kreatif kedua dan ketiga biasanya lebih kreatif dari yang pertama. Pemikir kreatif berani mengambil resiko demi mengharapkan sesuatu yang unik dan berguna, sensitif pada desain kreatif baik yang diciptakan manusia atau yang tercipta secara alamiah. Pemikir kreatif senantiasa bergairah dan menikmati kesenangan. Oleh karena itu, sangat penting menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan sistem pembelajaran yang memungkinkan anak untuk berpikir kreatif.

Model Siklus Belajaryang Melatih Kreativitas

Salah satu tantangan besar yang dihadapi guru saat ini yakni bagaimana membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir.Melangkah dari pengalaman konkret ke berpikir abstrak yang dapat menghasilkan “loncatan intuitif” melalui sebuah desain pembelajaran aktif.

Pembelajaran meliputi tiga hal utama yaitu fakta, konsep dan nilai. Fakta-fakta yang dieksplorasi harus dapat dikonseptualisasi untuk melahirkan nilai-nilai yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan. Dengan demikian, ketika anak belajar maka sesungguhnya diharapkan dapat melatih dan mengembangkan skill belajar.

Dengan semakin meningkatnya tantangan kehidupan di masa depan, menuntut pengembangan teori dan siklus belajar secara berkesinambungan. Siklus belajar yang dikembangkan dalam sebuah sistem pembelajaran menentukan terbentuknya karakter yang diharapkan pada diri anak. Karakter berpikir yang kreatif dan membebaskan dapat menjadi modal utama bagi anak untuk menjadi manusia mandiri dalam kehidupan masa depan yang kompetitif. Proses pembelajaran yang inovatif, membiasakan anak belajar dan bekerja terpola dan sistematis, baik secara individual maupun kelompok dengan lingkungan yang menyediakan ruang bagi anak untuk berkreasi dan mencipta.

Anak kritis

Anak yang kritis memiliki sifat tidak pernah puas dengan suatu hal, selalu ingin tahu lebih banyak. Ia akan terus bertanya hingga meraih jawaban yang memuaskan. Dengan pengetahuan itu, anak akan tumbuh menjadi percaya diri, berpengetahuan luas, dan pemberani.Dalam mengembangkan daya kritis, anak memerlukan waktu yang lama dan bertahap. Selain itu, dibutuhkan juga kesabaran orangtua dalam mendidik anak sejak bayi hinggadewasa.

Daya kritis anak sangat berpengaruh terhadap perkembangan EQ (Emotional Quotient) atau kecerdasam emosional. Kecerdasan emosional ini untuk mengenali, mengolah, dan mengontrol emosi agar mampu melakukan respons secara positif terhadap setiap kondisi yangmerangsangmunculnyaemosi-emositersebut.Berdasarkan penelitian, dalam diri anak peranan EQ memiliki kontribusi lebih besar dibanding IQ (intelligence Quotient). Hal tersebut disebabkan sepintar apapun anak, namun jika tidak bisa bergaul tentu akan mengurangi dia menyosialisasikan dan mengomunikasikankekritisannya.

Orangtua sebagai pendidik yang utama dan pertama dalam kehidupan anak memegang peranan penting, karena sebagian besar waktu dihabiskan di rumah bersama orangtua. Karena itu, orangtua berperan penting dalam pembentukanpribadi anak, yang pada akhirnyamenentukanprestasibelajaranakselanjutnya.Orangtua harus bisa memberikan motivasi pada anak yang bersifat eksternal,misalnya memberi dorongan semangat. Sebab, anak biasanya mempunyai kesulitan dalam memotivasi diri.Motivasiiniberkaitan denganrentangperhatianyangdimilikianak.Semakintekunanak,makarentangperhatiannya semakinbesar.

Saatmemasukiusiabalita,anakumumnyasemakinkritissaatitulahrasatahuanaksedang tumbuh. Semuanya ingin dipegang, dibuka, ditutup, dan ditanyakan. Padakondisiini, merupakan kesempatan bagi orangtua memberi informasi sebanyak-banyaknya. Selain itu,memberi mereka peluang untuk meraba, mencicipi, membuka, mencoba semua hal yang membuatnya penasaran. Sementara bila anak diberi penjelasan, ia akan terpancing untuk bertanya lebih dalam. Bahkan kadang membuat orangtua kebingunganmencarijawabanyangcocok.Cara lain untuk mengembangkan daya kritis anak adalah, memberinya permainan edukatif yang merangsang kemampuan motorik. Permainan tersebut akan membuatnya berpikir keras, mencari jalan hingga terbentuk permainanyangdiidamkannya.

Dalam mengembangkan daya kritis anak, orangtua harus sering mengajaknya bicara. Beri dia stimulus untuk bertanya hal-hal yang ingin diketahuinya, mencari jawaban bersama dari pertanyaan-pertanyaan anak sehingga anak mampu menganalisa apa yang baik dan tidak baik untuknya.Kemudian, jangan membatasi rasa ingin tahu anak. Biarkan anak bereksperimen dengan apa yang ingin dilakukannya, tentu dengan pengawasan orangtua. Orangtua hanya memberikan motivasi serta mengontrol perilaku anak apabila perilaku yang dilakukannya kurang pantas atau tidak sopan. Sampaikan dengan bahasa yang halus, mudah dimengerti, serta berikan penjelasan sehingga dia bisa menerima kesalahannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun