Warga Lahat tak Selayaknya Hidup Miskin
Oleh aminuddin
ADA berita menarik hari ini, Selasa (29/3) di halaman 4 Sriwijaya Post, korannyo wong kito.Â
Berita apakah itu kawan?Â
Judulnya : 'Anggota DPRD Malu Banyak Warga Miskin. '
Dimana?Â
Di Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan.
Ceritanya begini...Â
Saat berbicara dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Sekda Lahat, Chandra SH, MM beserta sejumlah OPD dan Kepala BPS setempat di ruang sidang utama DPRD Lahat, Sutra Imansyah me ngaku malu melihat Lahat saat ini.Â
"Kami malu sebagai anggota DPRD melihat kondisi ini. Jadi apa yang sudah dikerjakan, " tanya anggota dewan Lahat ini.Â
Politisi Gerindra Nopran Marjani malah mempertanyakan eksyen pemerintah un tuk menurunkan angka kemiskinan.Â
"Cari orang miskin ini, kalau tidak dicari, bagaimana bisa mengentaskannya, " kata Ketua Fraksi Partai Gerindra ini.Â
Kabupaten Lahat merupakan kota termiskin kedua di Provinsi Sumsel.Â
Padahal daerah tingkat dua ini strategis untuk hasil-hasil tam bang, baik bahan tambang galian golongan C, batubara, minyak dan gas bumi serta berbagai hasil tambang lainnya.Â
Potensi sumber tambang di Kabupaten Lahat hampir terdapat di setiap kecamatan.
Belum lagi pariwisatanya. Mulai dari air terjun goa mata, bukit besar Lahat, air terjun buloh, bukit jempol, situs megaliti kum batu macan hingga air terjun maung.Â
Namun semua potensi ini nyaris tak ada guna karena ternyata belum berhasil me ngangkat derajat hidup warganya yang  masih banyak belum hidup layak sebagaimana mestinya.
Ini tentu paradoks. Sangat bertolak be lakang. Seharusnya suatu daerah yang kaya akan potensi hidupnya warganya cukup layak.Â
Tidak miskin dan hidup dalam kesusahan.Â
Solusinya memang harus diawali dari ki nerja pemda setempat. Selain harus memetakan ulang kelompok miskin juga wilayah-wilayah penopang di sekitarnya.Â
Apakah warga yang miskin itu tinggal ber dekatan dengan pemukiman warga tak miskin.Â
Atau sama-sama miskin.Â
Baru setelah itu dicari tahu penyebab kemiskinan. Apakah karena faktor struk tural atau karena non struktural.Â
Berikutnya, yang harus diperhatikan juga faktor kerjasama antara orang kaya dan miskin, antara pemda dan non pemda.Â
 Demikian pula halnya dengan ang lgota dewan. Para wakil rakyat ini bisa mempo sisikan diri sebagai pengamat, pemberi saran dan masukan sekaligus ikut bersama-sama mengentaskan kemiskinan.Â
Jadi tak elok juga bila pemda dibiarkan bekerja sendirian. Harus ada support dan kerjasama.Â
Sebaliknya juga pemda, dalam hal ini kepala dinas atau apa pun namanya itu, tak boleh berdiam diri.Â
Berpangku tangan.Â
Harus ada eksyen. Eksyen inilah yang ditunggu. Bukan menunggu eksyen dari pihak lain.Â
Kapan mau majunya.Â
Jika ingin Lahat maju dan warganya hidup di atas garis kemiskinan, mulai sekarang kita singsingkan lengan baju untuk sama-sama eksyen menuju hidup sejahtera, makmur, aman dan sentosa.Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H