Lagipula, mereka yang datang belum memastikan pilihannya. Apakah akan memilih partai yang berkampanye atau partai lain. Sepertinya mereka hanya ingin menikmati hiburan yang ada karena belum tentu mereka bisa mendapatkan hiburan secara “cuma-cuma” itu di lain kesempatan. Untuk membayar juga pasti enggan.
Kampanye seperti itu sama sekali tidak membawa keuntungan untuk partai, kampanye itu kan ajang pencitraan, seharusnya partai politik dapat membangun image yang baik agar menarik dukungan masyarakat. Memperhatikan dan memberikan solusi atau bantuan terhadap keadaan masyarakat secara seksama sepertinya menjadi cara lebih efektif. Bukankah jauh lebih baik uang ratusan juta yang dibayarkan ke seorang artis dijadikan dana tambahan guna membangun insfrastuktur jalan atau menyangoni janda-janda tua.
Walaupun hanya sebatas pencitraan, saya rasa masyarakat kita lebih membutuhkan kampanye seperti itu dibandingkan hura-hura nggak jelas yang sering dilakukan sekarang ini. Banyak yang beralasan kampanye seperti itu untuk menarik massa dalam jumlah besar. Aduh pak/bu, gak perlu pake dangdut-dangdutan juga kan? Seperti oponi dari rekan-rekan lain di akun jejaring sosialnya masing-masing :
Di twitter, account @Husen_Jafar menilai, kampanye dengan menggelar dangdutan tidak bermutu. Apalagi sebagian penyanyi dangdut sering menampilkan joged erotis.
Presenter berita top Karni Ilyas dalam account twitternya @karniilyas berharap, di pemilu nanti tidak ada lagi pertunjukan musik dangdut dalam kampanye politik. Alasannya, informasi politik tidak tersampaikan dengan baik, karena massa yang hadir justru lebih menikmati dan mengingat artis dangdutnya.
Belum lagi massa yang datang kebanyakan adalah bapak-bapak atau ibu-ibu dan sering mengajak anak-anak mereka yang masih dibawah umur untuk ikut serta dalam kegiatan itu. Seringkali atraksi yang dilakukan “artis” dangdut untuk mendapatkan perhatian penonton terlalu menohok. Tidak pantas di tonton oleh anak dibawah umur. Sangat disayangkan bukan, anak-anak Indonesia harus di cekoki tontonan tidak bermutu sejak kecil. Tolong jangan salahkan orang tua mereka yang memabawa serta, salahkan lah system kampenye Indonesia yang acak kadut.
(Sumber berita : Kampanye Partai sama dengan Dangdut Massal diakses tanggal 05 September 2016, pukul 16:03)
Nama : Amina
NIM : 07031281520188
Mata Kuliah : Komunikasi Politik (Kampanye Politik)
Dosen : Nur Aslamiah Supli, BIAM. M.Sc