Mohon tunggu...
Amelya AvrilianiGunawan
Amelya AvrilianiGunawan Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Ordinary girl

Hai, welcome!!

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Frans Kaisiepo, Pahlawan Tanah Papua

14 November 2021   21:45 Diperbarui: 15 November 2021   13:51 475
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Lalu Pada tahun 1946  diadakanlah Konfrensi Malino,yang diselengggarakan di Sulawesi Selatan disitu saya sebagai satu-satunya perwakilan Irian yang hadir dalam satu perundingan paling penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Disitu juga saya mengusulkan nama Papua untuk diganti ,menjadi Irianjaya dan juga menolak atas usulan pembentukan Negara Indonesia Timur.

"Saya menolak atas pembentukan Negara Indonesia Timur,dan juga saya ingin mengusulkan merubah nama Papua menjadi nama Irianjaya" usul saya
"Dengan alasan?"
"Menurut saya kata papua mengandung arti yang negatif  yaitu orang hitam,oleh karena itu saya ingin merubahnya menjadi Irianjaya, Irianjaya juga mempunyai arti cahaya yang mengusir kegelapan" ujar saya

Dengan begitu nama Papua pun diganti menjadi Irianjaya dengan usul saya,di konfrensi tersebut saya juga menolak Irian jaya menjadi  Negara Indonesia bagian timur, dan lebih memilih papua Bersatu dengan Sulawesi Utara sebagai bagian dari Indonesia.

Tetapi sangat disayangkan usulan untuk menggati nama dan menyatukan Irian dengan Indonesia tidak mendapatkan dukungan sama sekali dari Pihak Indonesia maupun Belanda, bahkan saya sampai di asingkan oleh pemerintah Belanda dengan alas an karena saya bersekolah di Opleidings School Voor Inheemsce, benar-benar lasan yang tidak masuk diakal, sejak saat itu juga tidak pernah ada perwakilan dari papua untuk menghadiri konfrensi apapun mengenai Indonesia atau Papua.

Pada saat perayaan kemerdekaan Indonesia yang kedua di tahun 1947,kami memutuskan untuk mengadakan upacara kemerdekaan yang kedua kalinya Bersama partner saya yang bernama Silas Papare, kami ingin mengadakannya di Jayapura.akhirnya saya terbang ke Jayapura sekitar 40 menit.
Lalu saya pergi menemui sahabat saya, Silas Papare untuk membicarakan semua dengannya.
"Karena sebentar lagi merupakan peringatan kemerdekaan Indonesia ke-2 ayo kita melaksanakan kembali upacara peringatan kemerdekaan Indonesia". Ucap saya
"Saya sangat ingin melakukannya,tapi "akhir-akhir ini Belanda sangat tegas" jawab nya Kembali
"Apa boleh buat,siapa lagi yang akan memperingati kemerdekaan Indonesia kecuali kita sendiri" jawab ku meyakininya
"Baiklah jika itu mau mu,saya akan mencoba memimpinnya"
"Oh iya kita juga harus memberitahukan masyarakat"
"Betul,nanti akan saya infokan"
Silas Papare Bersama timnya membuat pengumuman tentang pelaksanaan upacara kemerdekaan Indonesia ini tanpa diketahui oleh Belanda
"Tolong Infokan kepada semuanya,pada tanggal 17 Agustus kita akan melaksanakan upacara kemerdekaan Indonesia ke 2" ujarnya kepada salah satu warga
"Baik pak,akan saya sampaikan secepatnya kepada warga lainnya juga"
"Baik,terimakasih"
"Sama-sama pak"
Pada Hari Pelaksanaan
"Ayo semuanya berbaris dengan rapih" perintahku
"Baik Pa" jawab semuanya
"Silahkan Silas Papare dimulai pelaksanaan upacaranya"
"Baik" jawab Silas Papare kembali
Pada awalnya upacara berjalan dengan baik,tapi entah dating dari mana Belanda muncul dan membuat keributan. Kami pun panik,tetapi saya mencoba menghadapinya dengan berani.
"Apa-apaan ini?" tanya saya
"Atas ijin siapa kalian melakukan upacara begini" tanyanya dengan logat belanda yang kental
"Apa kami harus izin kalian,kalian siapa memangnya" jawabku dengan nada yang tinggi
"Kalian hanya pendatang disini, kamilah penduduk aslinya", sambung Silas Papare menambahkan.
Tanpa menjawab,mereka langsung mengepung dan membawa kami ke penjara,kami dikurung selama tiga bulan,meskipun begitu itu tidak membuat kami takut dan akan turut kepada mereka.pada saat dipenjara mereka hanya memberi kami sedikit makanan.

Pada tahun 1949 saya Kembali ditunjuk menjadi delegasi dalam konfrensi berskala internasional. Saya dipilih untuk menjadi ketua delegasi Netherland Nieuw Guinea untuk menghadiri Konfrensi Meja Bundar di Belanda.
"Frans pergilah kamu ke belanda utuk menghadiri Konfrensi meja bundar di Belanda sebagai ketua delegasi kami" perintah salah satu pejabat Belanda
Karena saya merasa pemilihan saya sebagai ketua delegasi adalah taktik Belanda untuk mendekati saya, saya menolaknnya
"Saya tidak mau!" jawab saya tegas
"Kenapa?" tanyanya dengan nada marah dan meninggi
" Pasti kalian melakukan ini agar kalian dekat dengan saya dan mebuat saya untuk mendukung kalian bukan? Tidak akan pernah!" jawab saya Kembali dengan nada sama tingginya.
"Bisa-bisanya kamu melawan perkataan saya"

Akibat aksi penolakan yang saya lakukan saya dijebloskan ke penjara terpencil selama 5 tahun, dari tahun 1954-1961. Saya juga mendengar bahwa Belanda masih tetap ingin mempertahankan Irian sebagai bagian dari wilayah Belanda.

Selang lima belas tahun berlalu sejak konfrensi Malino akhirnya pada tahun 1961 Presiden Soekarno membentuk Komando Mandala yang ditujukan untuk merencanakan, mepersiapkan, dan melaksanakan operasi militer yang bertujuan menggabungkan Indonesia dengan Irian dan diberi nama Tri Komando Rakyat atau sering kita sebut Trikora.
"Bapa apa kau sudah mendengar tentang Trikora?" tanya partner saya
" Apa itu Trikora" tanya saya kepadanya
" Tri Komando Rakyat, saya dengan Presiden Soekarno membentuknya untuk menggabungkan Irian dengan Indonesia" jawab nya
" Benarkah?" tanya saya lagi antusias
"Itu yang saya dengar bapak"
"Baiklah terimakasih kawan"

Pada saat saya mendengar perkataan itu saya sangat amat senang, karena pada akhirnya Presiden Soekarno mendukung untuk menyatukan Indonesia dengan Papua. Karena tujuan Trikora sejalan dengan keingginan saya untuk menyatukan Irian dengan Papua dengan Indonesia , saya berusaha sebisa mungkin untuk memberi bantuan. Hingga pada 15 Agustus 1963 melalui perjanjian New York, Papua resmi dianggap masuk dalam wilayah kedaulatan Indonesia.

Saya sangat senang karena keberhasilan perjuangan membebaskan Papua dari cengkraman Belanda yang akhirnya membuahkan hasil ,bagaikan pribahsa yang berkata "Berakit-rakit ke hulu,berenang ketepian" pribahasa itulah yang sangat menggambarkan peristiwa saat ini.

Lalu saya mendirika sebuah partai politik bernama Irian Sebagian Indonesia atau sering kita sebut (ISI), saya memberikan bantuan untuk sukarelawan Indonesia yang mendarat di Mimika, dan untungnya berhasil, lalu pada akhirnya pada tahun 1963 tentara-tentara colonial Belanda hengkang dari wilayah kami, dan pada tahun 1964 gubernur Papua bentukan colonial Belanda, yang bernama Eliezer Jan Bonay diturunkan dari jabatannuya dan ditahan oleh pemerintahan kami,dan akhirnya diangkat menjadi gubernur Papua.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun