Dalam relasi sosial, iri memiliki muatan emosi yang sangat tinggi. Iri dapat memperburuk relasi sosial, sekaligus berkembang menjadi kondisi psikologis yang negatif. Mula-mula inferior, ujung-ujungnya toxic people.
Ada satu lagi. Namanya sirik. Penyakit hati ini sangat berbahaya. Sirik dalam kajian psikologi diistilahkan dengan schadenfreude, yakni merasa senang melihat orang lain gagal atau susah. Cowok lain terlihat ganteng, Riak semaput. Cewek lain tampak cantik, Airin sekarat. Tepat benar apa kata orang-orang: sirik tanda tak mampu.
Schadenfreude berawal dari rendahnya rasa percaya diri (self-esteem). Ketika orang yang rendah diri bertemu orang lain yang lebih sukses maka dia makin minder. Ketika orang lain yang lebih sukses itu kesakitan, kaum minderan merasa sangat terhibur.
Dalam bentuk ringan, schadenfreude diperlihatkan dengan cara tertawa saat orang lain jatuh, salah bicara, alis tidak rata, atau hal sepele lainnya. Dalam siklus yang parah dan toxic berbentuk pengucilan atau perisakan.
Riak dan Airin sudah tiba pada tahap kronis atau parah. Mereka sudah memasuki ruangan khusus bagi Toxic People. Cara menghadapi mereka tidak cukup dengan bersabar seperti Mehrin.
Pada tahap tertentu kita tidak bisa terus-terusan membiarkan orang-orang beracun mengisap habis energi positif kita. Mereka harus dibantah. Mereka perlu disanggah. Mereka tidak boleh dibiarkan merajalela.
Kepada Kang Hasut, misalnya, kita harus berani mengatakan "tidak begitu". Kalau perlu, langsung patahkan dengan kalimat:Â Kalau hari ini kamu sanggup membicarakan kejelekan si A di depanku, besok-besok kamu pasti mampu menjelek-jelekkan aku di depan si A.
Harus kita ingat bahwa umat toxic people memang berbahaya. Mereka dapat menimbulkan permusuhan dan perpecahan. Kalau tidak bisa menegur mereka, semisal Denniz tidak mampu menegur Riak, lebih baik hindari saja.
Merawat Cinta Membunuh Benci
"Aku heran, Denniz", Mehrin bersungut-sungut ketika ia dan Denniz duduk di mobil, "Apa sih susahnya kamu bela aku ketika Riak dan Airin membahas fisikku. Duit, duit aku. Yang kerja kerja keras, aku. Kok mereka yang pusing!"
Denniz mendengus, "Nyetir aja, Mehrin. Jangan bawel!" Lelaki bertubuh tegap itu mengembuskan napas keras-keras, "Kamu sudah mengidap sindrom Thanos. Selalu merasa benar sendiri. Selalu merasa paling hebat."
Mehrin mengegas mobil keras-keras. "Apa kamu bilang? Aku tidak menderita sindrom Thanos. Hei, ngaca! Kamu yang mengidap shadenfroide. Sama kayak Riak, toxic people. Kalau bukan karena cinta, aku sudah lama ninggalin kamu. Aku muak, Denniz!"