Kadang ada sesuatu yang menurut kita penting ternyata dianggap remeh oleh orang lain.
Saya mengalaminya. Tiga tahun belakangan ini, semenjak saya serius menekuni dunia penyuntingan, saya selalu berusaha membiasakan diri menulis sesuai aturan tata bahasa. Tidak ada kata yang disingkat secara serampangan, menghindari kata takbaku, dan memperhatikan struktur tulisan dengan cermat.
Dampaknya ajaib. Saya dianggap aneh oleh teman-teman, yang justru sehari-hari berkecimpung di dunia bahasa Indonesia, dan dituding terlalu kaku. Ada yang memprotes penggunaan tanda baca, ada yang menyindir pemakaian huruf kapital. Menulis sesuai kaidah malah dianggap aneh.
Bisa saja saya jelaskan kepada teman-teman bahwa saya tengah membiasakan diri menulis secara baik dan benar. Maksud saya, baik dalam penyampaian dan benar menurut tata bahasa.
Mungkin sebagian orang nyaman saja menulis pesan pendek dengan menyingkat kata, seperti yang menjadi yg; dalam ditulis dlm; sepertinya ditulis sepertix; jalan-jalan menjadi jalan2; atau sekali disingkat menjadi sex. Saya tidak. Entah mengapa saya selalu merasa janggal jika melakukan hal seperti itu.
Pada kesempatan lain, seorang rekan saya mengajukan sebuah rancangan cerpen. Ada ringkasan cerita, tokoh dan penokohan, serta konflik yang akan dikupas. Ia meminta tanggapan saya. Karena banyak penulisan kata dan struktur kalimat yang rancu maka spontan saya protes.
Apa yang terjadi? Saya tersentak mendengar jawabannya. Itu baru konsep, Kak Amel. Jawaban itu sangat menggelitik. Ada sisi seolah-olah konsep tulisan adalah sesuatu yang bisa disepelekan atau diremehkan. Jadi, tidak apa-apa kalau ditulis seadanya. Tidak begitu. Konsep tulisan bagaikan pondasi bagi rumah yang akan dibangun. Tidak bisa seadanya.
Sekali lagi, manusia memang unik. Isi kepala berbeda-beda. Cara pandang atas satu persoalan pun tidak pernah sama. Namun, protes teman-teman terhadap kebiasaan saya menulis sesuai kaidah ejaan dan jawaban yang, bagi saya, meremehkan konsep tulisan ternyata mengalirkan banyak ide.
Pada kesempatan berbeda, seseorang yang selama tiga tahun terakhir sangat sering berdiskusi dengan saya, terkait dunia tulis-menulis, menasihati saya supaya berhati-hati sebelum memajang tulisan apa pun di blog atau media sosial. Sebut saja namanya Si Sengak. Beberapa saat lalu, ia menuai kritik lantaran data dalam artikelnya keliru. Ia tidak ingin hal serupa menimpa saya.
Berkaca dari ketiga kasus tersebut, ide-ide berbaris seperti iring-iringan semut di kepala saya. Apa gunanya membaca ulang tulisan sebelum diunggah ke media sosial? Seberapa pentingkah aktivitas membaca ulang tulisan sebelum tulisan itu dibaca oleh netizen? Mengapa setelah letih menulis kita masih harus berlelah-lelah membaca tulisan kita sendiri?
Ketiga pertanyaan itulah yang membidani kelahiran tulisan ini.
Meracik tulisan tidak semudah memulas bibir dengan gincu. Walaupun demikian, saya selalu membebaskan ide saya setiap menulis. Setelah memastikan poin-poin yang ingin saya tulis, saya biarkan segalanya mengalir. Tidak saya kekang, tidak saya tahan-tahan.
Saya teringat pesan Mitch Albom, dalam buku Cahaya di Ujung Senja, yang dituturkan lewat tokoh Morrie. Demi diri Anda sendiri, jangan membuat hidup Anda menjadi lebih sulit ketimbang yang seharusnya. Menulis, ya, menulis saja. Biarkan mengalir seperti air. Biarkan menggelora laksana gelombang. Biarkan menderu bagai badai.
Setelah proses menulis rampung, barulah saya membaca ulang tulisan tersebut. Di sinilah bermula proses sunting-menyunting. O ya, menyunting tulisan sendiri tidaklah semudah mencukur alis yang dapat dilakukan sekali jadi dan langsung terbentuk rapi. Selalu ada perasaan miris, tidak tega, atau nelangsa tidak berkesudahan setiap menggunting kalimat atau menghapus dan mengganti kata.
Akan tetapi, seperti pesan Morrie yang diungkap oleh Albom, saya tidak ingin menyulitkan diri sendiri. Jikalau ada kesalahan, bahkan sebatas salah tik, saya geregetan sendiri. Bahkan dapat memicu perasaan tidak puas, kecewa, atau merasa sia-sia tiga tahun belajar menyunting. Kesalahan akan memacu kesedihan, sedangkan kesedihan pasti menyulitkan diri saya sendiri. Bisa-bisa senewen sepanjang hari.
Sekali-sekali saya ingin membebaskan diri dari kaidah penulisan. Semacam hasrat sesekali melanggar aturan. Akan tetapi, saya sering geli sendiri kalau membaca tulisan saya yang "menabrak rambu-rambu". Meskipun sebenarnya saya pajang di media sosial yang bersifat tidak formal.
Begitulah. Bagi saya, menulis itu aktivitas membahagiakan diri sendiri. Saya tidak ingin kebahagiaan saya terusik gara-gara kesalahan semacam salah tik itu.
Itulah alasan pertama mengapa membaca ulang tulisan itu penting saya lakukan.
Sebelum berangkat ke kantor atau keluar rumah, saya berkali-kali berdiri di depan cermin. Memperhatikan alis, bulu mata, lipstik, atau pemerah pipi. Semuanya. Termasuk busana.
Tulisan juga begitu. Pada hakikatnya, tulisan adalah pantulan diri kita. Beda dengan penampilan fisik, tulisan adalah cermin "keelokan" pikiran kita. Melalui tulisan yang kita karang, orang-orang akan membaca gagasan kita, memahami pendapat kita, bahkan menilai pemikiran kita.
Dengan demikian, tulisan tidak boleh asal-asalan. Memang pada saat menulis saya membebaskan diri dari segala "rambu-rambu" yang dapat memacetkan laju ide, namun berbeda pada saat membaca ulang. Pelan-pelan. Hati-hati. Yang kurang ditambah, yang lebih dipangkas. Salah huruf diperbaiki, salah kata diganti.
Sejak awal 2015, Si Sengak berhasil menyeret saya menyelam lebih dalam ke dunia buku. Menurutnya, jika saya hanya membaca lalu menulis, tidak ada ciri khas yang menonjol. Saya dianjurkan sekalian menggeluti dunia penyuntingan. Terjun sekalian, tidak tanggung-tanggung.
Akibatnya fatal. Saya pasti menghela napas panjang setiap membaca buku, artikel, atau pamflet yang gagasannya tidak terstruktur, kalimatnya rancu dan membingungkan, atau penulisannya amburadul. Sesekali saya menggerutu sambil menunjukkan kesalahan itu kepada Si Sengak. Ia biasanya tersenyum simpul dengan tampang yang sangat menyebalkan. Kadang senyumnya seakan-akan menyatakan "rasakan sekarang", kadang ia seperti ingin mengatakan "saya puas".
Sepanjang tiga tahun terakhir, ia sodorkan rupa-rupa buku. Padahal, menyantap bacaan-bacaan berat yang ia anjurkan bukanlah hal menyenangkan. Tidak semenyenangkan ketika menyeruput vanilla frappucino di kedai kopi favorit. Pada mulanya begitu. Lambat laun tidak lagi.
Belakangan ini saya malah ketagihan. Tepatnya, kecanduan. Mencium aroma buku-buku tua dengan paparan materi (isi bacaan) yang berat memang mengasyikkan, malah konon, menurut sebagian orang, aroma buku-buku tua bisa menenangkan pikiran.
Tidak heran jika saya keranjingan membaca ulang tulisan sendiri sebelum dipajang di blog atau di media sosial. Membaca tulisan sendiri, yang sudah telanjur diunggah di media sosial, lalu menemukan kalimat atau tanda baca yang salah, rasa malunya luar biasa. Ya, malu pada diri sendiri.
Itulah alasan kedua mengapa membaca ulang tulisan penting saya lakukan.
Kesalahan dalam tulisan yang sudah telanjur dibaca oleh warganet akan sukar diperbaiki. Bisa saja kita sunting khusus di bagian yang keliru, namun jejak digital sukar dihapus.
Pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup. Saya pernah menggunakan pisau cukur Si Sengak untuk merapikan alis. Ternyata kulit saya sangat sensitif. Alis saya memang rapi, namun menyisakan gatal-gatal dan bintik-bintik merah. Digaruk sakit, tidak digaruk menyebalkan.
Dampaknya, saya lebih berhati-hati. Saya sekarang tidak menganggap remeh hal kecil. Begitu pula dalam menulis. Semula saya biarkan gagasan-gagasan seperti bunga-bunga yang diterbangkan angin dan ditebarkan di atas tanah. Tumbuh sendiri, berkembang sendiri.
Saya biarkan ide-ide berlompatan ke dalam tulisan, bergelimpangan berantakan, dan akan terus begitu selama tidak terlalu menyimpang dari konsep awal.
Adapun membaca ulang tulisan seperti berdiri di pintu kamar, memandang seisi kamar dan berpikir "bagaimana jika posisi ranjang dipindahkan", menatap rak buku dan melamunkan "seandainya buku-buku ditata tidak menurut klasifikasi fiksi-nonfiksi tapi secara alfabetis", dan beberapa menit kemudian saya sibuk membenahi kamar.
Atas dasar itulah saya membaca ulang tulisan sebelum orang lain membacanya. Bagaimana jika ada kalimat yang sukar dicerna? Bagaimana jika gagasan tidak bisa dipahami oleh pembaca? Bagaimana jika ada data yang keliru? Bagaimana jika ada nama atau sumber yang salah tulis?
Penulis adalah penyunting pertama bagi tulisannya sendiri. Jika pada bagian paragraf tertentu saya merasa tersendat-sendat, saya akan membacanya beberapa kali. Pada saat bersamaan, saya gunakan terapi "seandainya".
Apakah rasa tersendat itu akan hilang "seandainya" saya mengganti kata atau mengubah kalimat? Apakah pembaca akan menemukan makna tulisan "seandainya" saya biarkan tetap demikian? Apa yang akan terjadi "seandainya begini" atau "seandainya begitu"?
Rangkaian pertanyaan "bagaimana" dan "seandainya" yang saya tujukan kepada diri sendiri itu, segila dan seaneh apa pun, banyak membantu saya dalam memunculkan hal-hal yang belum terbayangkan sebelumnya. Dengan demikian, pembacaan ulang menyuguhkan tambahan rasa dan mengayakan makna.
Tiada beda dengan mencicipi masakan sebelum disajikan di meja makan. Kalau kurang garam, saya taburi secukupnya. Jika kurang kecap, saya tuangi seperlunya.
Itulah alasan ketiga mengapa membaca ulang tulisan penting saya lakukan.
Ketiga alasan tersebut hadir lantaran tiga kasus yang saya alami: teman-teman yang merasa janggal karena pesan pendek yang rapi dan patuh kaidah, rekan yang menganggap konsep tulisan adalah soal remeh yang cukup ditaja seadanya, dan kasus Si Sengak yang menuai kritik karena lalai mencantumkan data yang keliru dalam tulisannya.
Saya catat ketiga alasan tersebut dalam tulisan ini sebagai usaha melawan lupa. Kapan-kapan bila saya butuhkan tinggal membuka Kompasiana.
Teman-teman tentu punya pengalaman sendiri selama menceburkan diri ke dalam lautan kata-kata. Jikalau tidak dicatat, pengalaman itu rentan terlupakan.
Amel Widya.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI