Bagi sebagian warga Indonesia hal tersebut mengejutkan pasalnya, menurut sebagian mereka hal itu tabu dan tidak wajar terjadi.Â
Heidy di nilai masih terlalu muda, apalagi untuk hamil pada usia 19 tahun yang sangat rawan. Tidak sedikit netizen melayangkan peringatan untuk tidak mengikuti hal tersebut, banyak juga yang menyayangkan keputusan Heidy dimana ia masih bisa mengembangkan karirnya pada umur yang masih muda, namun banyak juga netizen yang nampak mendukung Heidy mereka beranggapan bahwa menikah lebih baik daripada pacaran yang jelas jelas zina. Reaksi-reaksi ini tentu muncul namun tidak terencana
C. Teori dan AnalisaÂ
    1. Perspektif interaksi simbolik
Interaksi simbolik menjelaskan bagaimana individu berkomunikasi dan memberikan makna pada tindakan sosial. Dalam kasus Heidy, video Tiktok yang ia unggah menjadi komunikasi simbolik yang menyampaikan informasi tentang usia, status keluarga dan pengalaman hidup. Heidy menampilkan secara simbolik dirinya dengan informasi usia yang secara tidak langsung mengundang perhatian penonton.Â
Bagi masyarakat Indonesia pada generasi saat ini yang semakin menyoroti perempuan harus memiliki Karir dan pendidikan tinggi menikah muda memiliki makna sosial tertentu seperti ketidaksiapan, risiko kesehatan yang tentu hal ini banyak didebatkan netizen pada kolom komentar sehingga konten tersebut membuka ruang diskusi antara tim pro dan kontra.Â
Netizen memberikan tanggapan berdasarkan nilai, norma dan pengalaman mereka. Bagi sebagian orang, keputusan menikah muda dianggap tabu, sementara yang lain melihatnya sebagai tindakan yang sesuai dengan ajaran agama. Ini menunjukan bagaimana suatu tindakan sangat dipengaruhi oleh perspektif sosial yang berbeda.
     2. Teori konflik sosial
Masih sama dilihat dari tim pro dan kontra ternyata konten Heidy ini merefleksikan ketegangan antara kelompok yang memiliki nilai tradisional dan modern.Â
Tim pro kebanyakan dari kelompok dengan nilai tradisional pasalnya menikah muda bagi mereka adalah hal yang biasa dilihat dari maraknya pernikahan dini pada jaman dahulu, mereka beranggapan bahwa pernikahan Heidy tersebut normal-normal saja dan merupakan solusi serta keputusan tepat untuk menghindari dosa (Zina) dan mematuhi norma agama.Â
Kelompok lain, yang kebanyakan berasal dari nilai modern menilai keputusan tersebut sebagai hambatan terhadap pengembangan diri, karir dan hak perempuan untuk menentukan masa depannya. Konflik ini mencerminkan perbedaan pandangan dalam masyarakat tentang peran perempuan dan kapan waktu ideal untuk menikah.