Nominal tersebut tentu terdengar kecil jika dibandingkan sebelumnya, namun dalam skala pedesaan masih begitu bernilai. Turunnya harga pasar diduga karena sudah banyak individu yang berhasil dibudidaya. Namun keberhasilan budidaya tersebut lebih dahulu terjadi di luar negeri diantaranya ada Jepang (2015) dan Jerman. Hingga saat ini beberapa penangkaran lokal di Indonesia juga sudah berhasil. Namun sepertinya kebutuhan pasar masih belum terpenuhi oleh penangkaran yang ada. Hingga akhirnya masih ada yang bergantung pada tangkapan alam.
Agustus 2023, tim mahasiswa yang diketuai oleh Harits Yowansyah P.P dari Program Studi Konservasi Biodiversitas Tropika, Fakultas Kehutanan IPB, melakukan sosialisasi dan survei di desa tersebut. Apakah mereka tahu bahwa biawak kalimantan merupakan hewan yang dilindungi. Walaupun ada beberapa orang yang mengetahui, tetapi masih banyak masyarakat dan perangkat desa yang belum mengetahui hal tersebut.
Salah satu peserta sosialisasi menarik perhatian kami yaitu Pak Pius Kunjeng, ia merupakan mantan pemburu biawak ini.
“Harapan kami sebagai masyarakat ialah biawak ini benar-benar dijaga dan dilindungi, tidak ada lagi kata ekspor dan impor mengenai satwa yang dilindungi” tutur Pius Kunjeng.
Bapak Setepanus yang merupakan Kepala Desa Angan Tembawang juga berharap bahwa sosialisasi yang telah dilakukan tersebut lebih gencar dilakukan agar masyarakat paham mengenai hewan apa saja yang sudah dilindungi oleh negara.
Tim mahasiswa juga melakukan survei lapangan untuk mengetahui populasi biawak ini yang ada di Kalimantan Barat.
“Kami melakukan survei di lima kecamatan Kabupaten Landak, yaitu Kecamatan Air Besar, Jelimpo, Kembayan, Noyan dan Entikong. Berdasarkan survei dari April-November 2023 kami hanya menemukan 1 ekor biawak kalimantan. Kami menyadari bahwa biawak ini sangat sulit untuk ditemukan dan masih ada banyak hal yang belum kami ketahui untuk menjumpai hewan ini secara cepat dan tepat” ucap Yowan.
Kita masih belum mengetahui bagaimana populasinya saat ini, yang kita ketahui hanya kasus penyelundupan, degradasi hutan, dan deforestasi terus terjadi. Sehingga keberadaanya di alam akan semakin terancam punah. Sosialisasi regulasi perlindungan tumbuhan dan satwa liar dilindungi dalam P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 perlu dilakukan dengan lebih intensif. Selain itu eksplorasi untuk penelitian lapangan juga terus ditingkatkan. Karena menjaga kelestarian flora dan fauna yang kaya di Indonesia bukanlah sekadar tanggung jawab, tetapi juga merupakan investasi penting bagi masa depan kita dan generasi mendatang. Mari kita bersama-sama berkomitmen untuk melindungi dan melestarikan keanekaragaman hayati yang luar biasa ini demi keberlanjutan dan kesejahteraan bersama.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H