Mohon tunggu...
Alvriza Mohammed Fadly
Alvriza Mohammed Fadly Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Film dan Televisi UPI 2020

A Student of Film and Television Study Program In Indonesia University of Education. Likes to write entertainment news and practicing journalistic production and distribution.

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Kini Aku Telah Menjadi Kematian, Penghancur Dunia: Review Film Oppenheimer

3 Agustus 2023   22:46 Diperbarui: 3 Agustus 2023   22:54 343
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Christopher Nolan dengan mahakarya terbarunya berjudul Oppenheimer telah resmi tayang dalam bioskop sejak 2 minggu yang lalu. Kali ini beliau mengangkat sebuah cerita berdasarkan kisah nyata yang memperlihatkan perjalanan hidup sang bapak bom atom dunia yang bernama J. Robert Oppenheimer dalam membuat bom nuklir pertama buatan Amerika sebagai senjata pemusnah massal pada saat Perang Dunia II. Film ini mengadaptasi dari buku 'American Prometheus' karya Kai Bird dan Martin J. Sherwin dan dibintangi oleh beberapa aktor Hollywood kelas-A seperti Cillian Murphy, Florence Pugh, Robert Downey Jr., Matt Damon, Emily Blunt, dan Rami Malek. 

Film mengisahkan masa-masa sulit Amerika Serikat saat Perang Dunia II dalam melawan musuh-musuh blok timur, diketahui bahwa mereka telah mendengar sebuah kabar bahwa Nazi bersama para sekutunya memiliki senjata pemusnah massal sebagai 'kartu as' mereka untuk membalas kembali perlawanan blok barat. Saat itu semua tokoh penting Amerika sangat genting karena mereka bisa saja menyerang tanah 'Paman Sam' kapan saja dengan senjata tersebut. Untuk itu, mereka membutuhkan sebuah inovasi agar bisa bersaing dengan para lawan-lawannya.

 Suatu saat seorang fisikiawan cerdas bernama Robert Oppenheimer diutus oleh pangkalan militer Amerika dalam membuat bom atom milik sendiri yang didanai oleh negara. Oppenheimer menyetujuinya dan pembuatan bom atom tersebut dinamai dengan 'Project Manhattan' yang nantinya melahirkan dua bom nuklir bernama 'Little Boy' dan 'Fat Man' yang menjadi penghancur kota Hiroshima dan Nagasaki. Setelah kesuksesan Project Manhattan, Oppenheimer dikenal sebagai pahlawan nasional dan dijuluki sebagai 'The Father of Atomic Bomb'.

 Tetapi, ketenaran beliau berjalan singkat setelah Oppenheimer mengakui bahwa dia menentang pembuatan bom atom tersebut karena bersimpati atas akibat senjata pemusnah massal tersebut terhadap korban-korban di dua kota negara Jepang tersebut. Oppenheimer dianggap sebagai pembelot dan dituduh sebagai mata-mata Soviet hingga akhir hayatnya dia tidak diberikan kembali projek militer Amerika yang selanjutnya.

Gambar 2. Adegan kencan antara Jean Tatlock (Florence Pugh) dengan Oppenheimer
Gambar 2. Adegan kencan antara Jean Tatlock (Florence Pugh) dengan Oppenheimer

Film biografi Oppenheimer merupakan salah satu film terbaik yang tayang pada tahun 2023, melalui film ini penulis pribadi semakin memahami bagaimana sebuah peristiwa penting dalam sejarah Perang Dunia II berjalan dan divisualisasikan seakurat mungkin dengan cerita nyata dan data primer / sekunder yang dikumpulkan melalui berbagai sumber. Narasi cerita yang dibangun di dalamnya terbentuk menjadi tiga fase yaitu fase permulaan/introduction, fase klimaks, dan fase resolusi.

Dalam fase permulaan, film mencoba untuk mengkronstruksi awal mula perjalanan Oppenheimer sebagai siswa pascasarjana hingga menjadi dosen fisika di salah satu kampus ternama di dunia. Selain itu, film menceritakan kisah asmara Oppenheimer selama dia menjelma menjadi cendekiawan dan berhasil memikat dua wanita terkenal saat itu, yaitu Jean Tatlock dan Katherine Oppenheimer. Terdapat beberapa moment bagi penulis terlihat asing karena tidak pernah ditulis dalam sebuah buku sejarah di sekolah, hal ini memberikan sebuah pengetahuan baru yang baik. 

Pembentukan hubungan antara tokoh utama dengan tokoh pendukung dibuat secara perlahan-lahan dengan baik dan memberikan kesan romantis seperti cinta antara Oppenheimer dengan Jean Tatlock. Meskipun permulaan cerita dibangun secara cukup lambat, tetapi informasi yang diberikan kepada penonton dapat menarik perhatian untuk mengetahui lebih lanjut ceritanya pada fase selanjutnya. 

Gambar 3. Adegan Oppenheimer menyurvei tempat Projek Manhattan (Sumber: NME/Universal Pictures)
Gambar 3. Adegan Oppenheimer menyurvei tempat Projek Manhattan (Sumber: NME/Universal Pictures)

Momen puncak yang ditunggu-tunggu oleh para penonton umum khususnya bagi antusias sejarah terjadi dalam fase klimaks dimana Oppenheimer mulai mengerjakan Projek Manhattan bersama kelompok Los Alamos Laboratory, pada fase tersebut film memvisualisasikan eksplorasi Oppenheimer dalam membuat berbagai percobaan bom atom dan memperhitungkan keberhasilan benda berbahaya tersebut. Selang pekerjaannya dalam projek tersebut, dia dihujani oleh berbagai drama hingga permasalahan cinta. Diketahui bahwa Oppenheimer sempat putus asa setelah hal-hal yang dia cintai hilang untuk selamanya, tetapi berbagai pihak bersikukuh kepada sang tokoh untuk melanjutkan projek hingga berhasil. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun