Mohon tunggu...
Sayyid Jumianto
Sayyid Jumianto Mohon Tunggu... Guru - Menjadi orang biasa yang menulis
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Menulis untuk perubahan yang lebih baik

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Keluarga Solo

4 Februari 2023   08:43 Diperbarui: 4 Februari 2023   09:22 106
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Mikul duwur mendem jero" 

Seperti yang pernah di katakan seorang yang pernah berkuasa di negeri ini sekitar tiga puluhan tahun yang lalu.

Ujung februari ini aku masih terngiang filsafah jawa ini yang harus aku lanjutan  "nglurug tanpa bala menang tanpa ngasorake".

Sungguh sebuah ungkapan yang masih relevan, ketika semua telah berubah suasana  seakan mengikuti zamannya.

Rumah sunyi di Cendana yang sohor dengan keluarga Cendana itu mulai sepi dan ditinggalkan, keseganan, ketakutan dan kepatuhan terhempas malu-malu seiring hampir tigapuluhan tahun  perubahan itu menjadi nyata. 

Ibarat Pandawa kalah dadu dalam pewayangan jelang Baratayuda melawan Kurawa inilah kenyataan saat ini. 

Alas ndadaka tempat pembuangan dan penyamaran terlalu riskan untuk sekedar perlihatkan wajahnya masa surut keluarga cendana yang hampir tigapuluh tahun ini tidak bisa dipungkiri adalah takdirNya.

Baca juga: Tengah Malam

"Aku tetep yakin atas siklus tigapuluhan tahun ini" guman istriku melihat betapa proyek-proyek trilyunan negeri ini masih juga di manajeri keluarga Cendans.

'Tidak bisa dik..semua berubah",kataku mantap

"Namun pendekatan mak Banteng itu.."gumanya lagi padaku

"Itu gimic, dodolan politik..kampaye gratis partai merah itu"

"Ngak tahu" 

Istriku diam setelah aku beritahu ini sebuah iklan gratis ala-ala partai penguasa negeri ini yang ingin juga untuk ketiga kalinya kangkangi kekuasaan  lagi.

Saya jadi ingat obrolan angkringan semalam aku yang bodoh atau aku kurang banyak baca.

"Nampaknya keluarga Solo akan saingi keluarga Cendana"  guyon mereka yang bisa jadi merahkan telinga penguasa saat ini.

"Mbuh, tidak tahu sik penting ngopi dab"

Aku diam nada-nada reformasi gagal adalah banyak partai yang tidak perjuangkan nasib rakyat dan KKN gaya baru.

KKN yang didukung penguasa yang berselingkuh dengan partai-partai besar yang didalamnya adalah klan dan keluarga yang dibiayai dengan uang haram dalam bisnisnya dan menafikan hukum yang ada.

"Jadi pameo ada gula ada semut itu benar mas"

"Maksudmu?"

"Habis keluarga cendana terbit keluarga Solo"

"Aku tidak bilang lho..ada yo keluarga pacitan dan keluarga mak banteng"

"Bener to?"

...

Gerimis malioboro jadi saksi

Betapa kekuasaan itu dibaliknya adalah pengaruh nepotisme dan korupsi itu bensr adanya

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun