Mohon tunggu...
Sayyid Jumianto
Sayyid Jumianto Mohon Tunggu... Guru - Menjadi orang biasa yang menulis
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Menulis untuk perubahan yang lebih baik

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Pathok Bandara 41, Sebuah Novel

13 April 2016   17:22 Diperbarui: 13 April 2016   17:30 18
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="alsayidja.paint"][/caption]

 

Cerita yang kemarin :http://fiksiana.kompasiana.com/alsayidjumianto/pathok-bandara-40-sebuah-novel_570d178121afbd7316b848c7

Telah kuduga romo mantan lurah ini sedang ada misi untuk membujuk hati kami, tetap aku tetap  menghormatinya  apalahi beliau hampri tiga kali menjabat lurah didesa kami dan teman baik almarhum bapak di desa ini desa Batas beliulah yang kami hargai dan tuakan dan paham soal'politik desa"  asalanya ya mencari ikan tetapi tidak keruh airnya, benar saja , tetapi bealjar dari pengalaman gumuk pasir emas di pesisir kidul tampaknya melek politik dan melek pemahaman  harga dirilah yang membuat bangkit dan melawanya.

 Bangkit

sejak  janji kamu belum pernah tepati

sejak semua di jual kepada "investor"

bukan hanya tanah, ladang, sawah kami

kamu juga mau menjual hati kamii

ataukah nurani kami

tidakbisa!

pasti jawabnya

lain kali

kita bicara

 

alsayid ja 1342016,puisi keprihatinan hati

 

"bagimanapun ini maslah pusat nduk"

"tentang bandara yang akan di bangun romo?'

"ya bagaimanapun untuk bandara internasional "

"saya sudah tahu romo mantan lurah yang kami hormati"

"tidak memaksa kok tetapi bila tidak mau silahkan ambil di kejaksaan besok ganti ruginya"

"boleh" aku diam seribu bahasa

"kami pasrah mas mantan, tetapi bukankah ini bukan dipaksa to?" tanya simbok pada romo amntan lurah ini

"tidak bisa harus lha Mei mau dibangun ini"

"tentang keadilan kami"

"ya bicra jujur saja kamu sekalian minta uang dan ganti rugi berapa to?"

Kami diam seribu bahasa tidak menoleh dan mengiyakan semua sunyi dan sepi ya harus fair lah menurut kami

Bersambung...

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun