Selain itu pembenaran yang dilakukan masyarakat yang seolah membenarkan kejadian pelecehan seksual dan perkosaan adalah akibat dari tubuh korban yang mengundang hasrat seksual, sering ditemui saat terjadi kasus pelecehan seksual seperti ada stigma atau persepsi dari masyarakat yang seperti menyalahkan pakaian korban, kapan korban mendapat perlakuan tersebut, riasan seperti apa yang ditampilkan korban, dan sebagainya, padahal apa yang dipakai oleh korban tidak bisa dijadikan faktor penyebab mengapa ia menjadi korban dari kekerasan seksual.
Kesimpulan dari kasus ini adalah, marilah kita membuka mata dan hati Nurani untuk segera tersadar serta mengingatkan sesama untuk mulai meninggalkan budaya Patriarki yang sudah menjadi tatanan dalam bermasyarakat ini. Sudah selayaknya sebagai kaum laki-laki sebagai pelindung dan penjaga kewibawaan perempuan mulai tergerak untuk saling menghargai dan tidak memandang perempuan sebagai makhluk yang lemah serta tidak memandang perempuan sebagai objek.Â
Menghargai perjuangan perempuan dalam memperjuangkan haknya atas kesetaraan gender dan melindungi perempuan dari para pelaku kekerasan seksual tanpa embel-embel apapun atas kesadaran pribadi, serta mendukung hingga disahkannya Undang-undang yang melindungi perempuan dari ancaman kasus kekerasan seksual.
Refrensi
-Fushshilat, Sonza Rahmanirwana, and Nurliana Cipta Apsari. "SISTEM SOSIAL PATRIARKI SEBAGAI AKAR DARI KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP PEREMPUAN PATRIARCHAL SOCIAL SYSTEM AS THE ROOT OF SEXUAL VIOLENCE AGAINST WOMEN." Prosiding penelitian dan pengabdian kepada masyarakat 7.1 (2020): 121-127.Â
-Catatan Tahunan Komnas Perempuan
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H