Mohon tunggu...
Alkahfi Dahlan
Alkahfi Dahlan Mohon Tunggu... Lainnya - Environment enthusiast

70% opini 10% bacot 100% sustainable living

Selanjutnya

Tutup

Nature Pilihan

Trenggiling Si Manis Primadona Pasar Gelap

4 Agustus 2020   16:19 Diperbarui: 4 Agustus 2020   16:24 1259
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dengan total 192.567 ekor, trenggiling dinobatkan sebagai hewan liar yang paling banyak diperdagangkan di pasar gelap. Apakah masih ada masa depan bagi satu-satunya mamalia bersisik ini? Bisnis hewan ilegal dan perusakan habitat semakin mendorong satwa malam ini menuju jurang kepunahan dan yang lebih menyedihkannya lagi, seluruh bencana kepunahan ini disebabkan oleh mitos khasiat kesehatan yang bahkan tidak terbukti secara ilmiah.

Trenggiling adalah mamalia nokturnal dan satu-satunya mamalia yang memiliki sisik. Sisik ini terbuat dari keratin, zat yang sama dengan zat pembentuk rambut dan kuku manusia. Sisik berfungsi sebagai mekanisme perlindungan dari pemangsanya, saat terancam bahaya ia akan menggulung badannya hingga menyerupai bola berlapis sisik keras. Serangga seperti semut dan rayap merupakan makanan utama hewan ini. Ia memiliki lidah yang panjangnya mencapai separuh dari panjang tubuhnya yang digunakan "menangkap" semut atau rayap dari sarangnya.

Trenggiling di dunia terbagi  menjadi delapan spesies yang tersebar di benua Asia dan Afrika. Dilansir dari pangolin.org kedelapan species ini yakni

  • Trenggiling Tiongkok,
  • Trenggiling India,
  • Trenggiling Filipina,
  • Trenggiling Jawa,
  • Trenggiling-Pohon Perut-Hitam,
  • Trenggiling Tanah Raksasa,
  • Trenggiling Tanah,
  • Trenggiling-Pohon Perut-Putih.

Species Trenggiling | Pangolin.org
Species Trenggiling | Pangolin.org

Trenggiling Jawa (Manis javanica) merupakan spesies yang terdapat di Indonesia. Jenis ini tersebar di Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan dengan sebaran habitat meliputi hutan primer maupun sekunder, savana, dan daerah budidaya termasuk areal perkebunan kelapa sawit, perkebunan karet, daerah ekoton atau zona transisi antara hutan dengan kebun rakyat yang memiliki semak belukar. 

Status konservasi satwa ini tergolong terancam kepunahan, sebagaimana dimuat dalam Appendik II Convention International Trade Endangered Species (CITES) Flora dan Satwa Liar (UNEP-WCMC, 2010). Di Indonesia, hewan ini dilindungi menurut Undang-undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999.

Sayangnya walaupun sudah dilindungi secara undang-undang keberadaan mamalia berisisik ini tetap terancam akibat perdagangan ilegal yang semakin marak. Trenggiling merupakan salah satu mamalia yang paling banyak diselundupkan di dunia saat ini. Dalam rentang tahun 1999 hingga 2017 didapatkan setidaknya 192.567 ekor terlibat dalam perdagangan illegal.

Perdagangan ilegal trenggiling terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan  harga jual yang selangit di pasar global. Daging, kulit, sisik, dan bagian tubuh hewan ini dipercaya berkhasiat sebagai obat tradisional oleh masyarakat Tiongkok, dan dipandang sebagai salah satu makanan yang eksotik. Kebutuhan daging dan sisiknya di Tiongkok diperkirakan mencapai 100.000 -- 135.000 kg per tahun dengan harga jual mencapai 3.000 dollar AS atau setara 40 juta rupiah per kilogram sisik. Jadi bisa dibayangkan seberapa besar bisnis ilegal ini berjalan.

Produk Olahan Trenggiling | Wildlifejustice.org
Produk Olahan Trenggiling | Wildlifejustice.org

Sangat disayangkan jika kita harus kehilangan hewan lucu yang satu ini akibat keserakahan manusia. Lalu apa yang bisa aku dan kamu lakukan untuk menyelamatkan mamalia bersisik ini dari kepunahan? Seperti yang dijelaskan sebelumnya harga selangit trenggiling disebabkan oleh permintaan yang tinggi akan produk ini, jadi dengan memutus rantai permintaan maka akan memutus pula rantai penawaran dari produk ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun