Chapter 1 : Awal Perkenalan
Pengusaha Muda dan Gadis Pekerja Toko
Ryan Santoso, seorang pria muda berusia 27 tahun, sudah menorehkan namanya sebagai salah satu pengusaha muda paling sukses di Jakarta. Di balik senyuman tampannya dan kehidupan penuh kemewahan yang dipamerkan oleh dunia, ada sisi lain dari Ryan yang tidak pernah terungkap. Ia lahir dari keluarga kaya, pewaris jaringan bisnis yang sudah lama berdiri, tetapi kesuksesan yang ia raih sekarang bukan semata karena warisan. Ryan bekerja keras, meluangkan waktu hingga larut malam, melewatkan banyak momen berharga dalam hidupnya demi membangun kerajaan bisnisnya sendiri.
Meskipun segalanya tampak sempurna dari luar, Ryan menyimpan satu kekosongan besar dalam hidupnya. Kekayaan, kehormatan, dan bahkan wanita-wanita cantik yang datang kepadanya terasa hampa. Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa memenuhi ruang di hatinya yang merindukan cinta sejati---seseorang yang akan mencintainya apa adanya, tanpa peduli status atau harta. Kerinduannya akan sesuatu yang lebih bermakna kian lama kian mendesak.
Setiap hari, Ryan sibuk mengelola banyak cabang bisnisnya. Salah satu yang paling sukses adalah jaringan toko fashion eksklusif yang dia bangun sendiri, dengan produk yang hanya dijual di toko-toko khusus miliknya. Ryan seringkali mengunjungi salah satu toko flagship-nya di pusat kota. Bukan sekadar memeriksa operasional toko, tetapi juga untuk sekedar melarikan diri dari kehidupan kantor yang penuh tekanan. Di toko itu, dia menemukan semacam kedamaian. Tidak ada yang mengenalnya di sana. Pelanggan yang datang dan para karyawan menganggapnya sebagai orang biasa yang berbelanja.
Pada suatu hari, saat sedang berjalan mengelilingi toko, Ryan melihat sosok baru di antara para pegawai. Seorang gadis muda bernama Lia. Lia adalah seorang wanita yang sederhana, dengan penampilan yang tidak mencolok seperti kebanyakan karyawan toko fashion kelas atas lainnya. Wajahnya bersih tanpa riasan berlebihan, rambutnya dikuncir rapi, tetapi yang paling menarik perhatian Ryan adalah senyuman tulusnya dan cara Lia memperlakukan setiap pelanggan dengan perhatian khusus.
Lia, berbeda dari kebanyakan wanita yang pernah ditemui Ryan, memiliki aura yang segar dan penuh kehangatan. Ketika pertama kali melihatnya, Ryan merasa ada sesuatu yang berbeda, namun sulit untuk dijelaskan. Seperti ada energi positif yang terpancar dari Lia, membuat Ryan tertarik untuk mendekat. Tanpa disadari, setiap kali Ryan berkunjung ke toko, ia mulai mencari Lia dengan matanya. Selalu ada rasa tenang yang dia rasakan hanya dengan melihat Lia bekerja, menangani setiap pelanggan dengan sabar dan ramah.
Suatu hari, Ryan memberanikan diri untuk mengawali percakapan. Ia mendekati Lia yang saat itu tengah merapikan beberapa pakaian di rak depan toko.
"Permisi, mbak. Koleksi terbaru di sini, ya?" Ryan bertanya sambil tersenyum, meskipun hatinya sedikit berdebar. Ini pertama kalinya ia memulai percakapan dengan seseorang yang bekerja di tokonya sendiri tanpa memperkenalkan diri sebagai pemilik.
Lia menoleh dan tersenyum. "Iya, benar sekali. Koleksi baru kami baru datang pagi ini. Ada beberapa item yang sedang diskon juga, kalau tertarik," jawab Lia sopan, sambil menunjukkan beberapa pakaian yang digantung rapi di rak.
Ryan merasa sedikit canggung. Biasanya, dia tidak perlu berbasa-basi seperti ini dengan orang lain. Tapi Lia berbeda. Ada sesuatu tentang cara Lia menjawab yang membuat Ryan merasa nyaman, seperti tidak ada jarak di antara mereka.
"Terima kasih. Pakaian di sini selalu keren, ya. Kamu sudah lama kerja di sini?" tanya Ryan, berusaha menjaga percakapan tetap berlangsung.
Lia tersenyum ramah, lalu menjawab dengan nada yang tenang. "Belum lama, baru beberapa bulan. Tapi saya senang bisa bekerja di sini. Suasananya enak dan pelanggan di sini kebanyakan ramah-ramah." Ia tampak tulus dalam jawabannya, dan Ryan menyadari bahwa Lia memang berbeda. Wanita ini tidak melihat pekerjaannya sebagai beban, meski ia hanyalah karyawan toko.
Sejak saat itu, Ryan semakin sering datang ke toko tersebut. Setiap kali ia datang, selalu ada percakapan singkat yang terjadi antara dirinya dan Lia. Percakapan sederhana tentang koleksi pakaian, tren mode, hingga hal-hal ringan seperti cuaca atau acara TV terbaru. Lia tak pernah menyadari bahwa pria yang sering datang dan tampak sangat tertarik padanya itu adalah pemilik dari toko tempatnya bekerja.
Di sisi lain, Ryan mulai merasakan perasaan yang tumbuh dalam dirinya. Ia tertarik pada Lia, bukan hanya karena kecantikannya yang sederhana, tetapi karena kepribadian Lia yang kuat, mandiri, dan hangat. Lia memiliki daya tarik yang membuat Ryan merasa nyaman dan ingin mengenalnya lebih jauh. Namun, ada satu hal yang membuat Ryan bimbang. Haruskah ia mengungkapkan identitasnya sebagai pemilik toko? Bagaimana jika Lia berpikir bahwa semua perhatian yang Ryan berikan hanya karena statusnya? Bagaimana jika Lia merasa terintimidasi dan menjauh setelah tahu bahwa Ryan bukan sekadar pelanggan biasa?
Di sisi lain, Lia adalah seorang wanita yang penuh tanggung jawab. Hidupnya tidak mudah. Setelah kematian orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Lia harus mengambil alih peran sebagai kepala keluarga untuk adik laki-lakinya, Aldi, yang masih sekolah. Gajinya sebagai karyawan toko tidak besar, tetapi cukup untuk menutupi biaya hidup sehari-hari mereka. Lia tidak pernah mengeluh. Ia menyadari bahwa hidupnya mungkin tidak sempurna, tetapi ia selalu bersyukur. Di balik semua senyumannya kepada pelanggan, ada beban yang ia pikul setiap hari.
Hari demi hari berlalu, dan hubungan antara Ryan dan Lia semakin dekat. Meski masih sebatas percakapan singkat di toko, Ryan semakin penasaran dengan kehidupan Lia di luar pekerjaan. Ada dorongan kuat dalam hatinya untuk mengenal Lia lebih jauh, tetapi ia takut membuat Lia merasa tidak nyaman.
Ryan tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Sebagai pria yang sering dikelilingi wanita cantik dari kalangan sosialita, dia selalu bisa mengendalikan perasaannya. Namun dengan Lia, semuanya terasa berbeda. Lia adalah seorang gadis yang hidup di dunia yang sangat berbeda darinya---sederhana, rendah hati, dan tulus. Sifat-sifat yang tidak pernah Ryan temui dalam wanita-wanita di lingkaran sosialnya yang penuh kepalsuan.
Namun, konflik mulai muncul di benak Ryan. Haruskah ia terus berpura-pura menjadi pelanggan biasa? Atau haruskah ia mengungkapkan siapa dirinya yang sebenarnya? Ryan takut jika Lia mengetahui identitasnya, semua yang mereka bangun akan hancur. Lia mungkin akan menganggapnya sebagai orang yang memanfaatkan kekuasaan untuk mendekatinya.
Di satu sisi, Ryan juga takut jika hubungan ini terlalu jauh sebelum ia mengungkapkan kebenaran, Lia akan merasa dikhianati dan terluka. Ryan mulai merasa terjebak dalam kebohongan kecil yang ia ciptakan sendiri. Dia tidak ingin menyakiti Lia, tetapi dia juga tidak ingin kehilangan wanita yang telah mencuri hatinya.
Konflik ini terus bergelayut di benak Ryan, menciptakan rasa cemas dan keraguan yang semakin mendalam. Setiap kali dia datang ke toko, ada keinginan untuk mengungkapkan semuanya, tetapi dia selalu menahannya, takut menghadapi reaksi Lia. Tanpa disadari, Ryan mulai jatuh cinta dengan Lia, bukan hanya karena penampilannya, tetapi juga karena kepribadiannya yang sederhana dan kuat.
Namun, waktu terus berjalan, dan Ryan tahu bahwa ia tidak bisa menyembunyikan kebenaran selamanya. Suatu saat, Lia akan mengetahui siapa dirinya, dan hari itu mungkin akan menjadi titik balik dalam hubungan mereka---baik menjadi lebih kuat, atau hancur berantakan.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI