Mohon tunggu...
Meirri Alfianto
Meirri Alfianto Mohon Tunggu... Insinyur - Seorang Ayah yang memaknai hidup adalah kesempatan untuk berbagi

Ajining diri dumunung aneng lathi (kualitas diri seseorang tercermin melalui ucapannya). Saya orang teknik yang cinta dengan dunia literasi

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Mendingan Mana, Jago Ngelas Apa Jago Ngeles?

24 Agustus 2020   06:18 Diperbarui: 24 Agustus 2020   06:57 810
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sesungguhnya saya agak bingung menentukan kategori artikel ini. Mau saya masukkan kedalam kategori karir atau hobi. Ngelas itu berhubungan dengan profesi, maka ini masuknya ke karir. Tetapi ngeles itu adalah hobi, maka otomatis masuk dalam kategori hobi. Tapi ya sudahlah tak perlu banyak-banyak mikir.

Menurut anda mendingan mana, jago ngelas apa jago ngeles? Dua-duanya sama-sama melakukan pekerjaan. Yang satu melakukan pekerjaan dengan tangan dan yang satu lagi melakukan pekerjaan dengan mulut. Ada lagi persamaannya yakni sama-sama menghasilkan sesuatu yang besar. Ngelas bisa menghasilkan atraksi roller coaster yang meliuk-liuk dan memacu adrenalin, jembatan Youtefa di Papua, dan trafo untuk melistriki hingga ke daerah terpencil. 

Ngeles bisa menghasilkan sensasi viral diliput media. Contohnya ada seorang gubernur dari negeri antah-berantah yang selalu berusaha menutupi ketidakmampuannya dengan ngeles sini dan sana. Pandai bersilat lidah serta ahli dalam mengkosmetisasi kata. Tapi tak apa. Mungkin karena tak bisa menepati janjinya, lalu ia memberikan angin surga. Angin surga adalah persamaan kata yang paling dekat dari kata ngeles. 

Tentu ini menurut versi Sang Gubernur. Apakah Anda pernah bertemu dengan orang yang setipe dengan ilustrasi diatas dalam kehidupan sehari-hari? Bagaimana rasanya memiliki bos tukang ngeles yang sebenarnya tidak tahu apa-apa? Yang seluruh pekerjaannya dikerjakan anak buahnya. 

Dia hanya tanda tangan saja. Atau orang yang berhutang, ngeles terus saat tiba waktunya membayar. Apa rasanya? Jengkel, marah, nggondok? Ya inilah bedanya ngelas dan ngeles. Ngelas menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Sedangkan ngeles bikin orang kesel, sakit kepala, sakit hati, dan efek samping lainnya.

Salah satu produk pengelasan

Trafo diatas tiang listrik. Gambar: teguhdirgantara.blogspot.com
Trafo diatas tiang listrik. Gambar: teguhdirgantara.blogspot.com

Oke, karena sepertinya saya memilih jago ngelas daripada jago ngeles, saya ingin berbagi salah satu manfaat ngelas. Pasti pernah ya melihat pemandangan pada gambar diatas? Yang berbentuk kotak itu namanya trafo. Apa fungsi trafo? Sederhananya ia mengubah tegangan listrik dari sumber utama PLN menjadi tegangan yang lebih kecil. 

Mengapa harus diubah? Karena sumber tegangan utama listrik itu sangat tinggi. Kalau tanpa trafo ya orang-orang yang berada di sekitar situ akan berpotensi kesetrum. 

Dengan tegangan 20.000 volt, orang bisa meninggal dunia seketika bila kesetrum. Yang kedua, alat-alat listrik dirumah anda tidak akan mampu menerima tegangan sebesar itu. Trafo sendiri terdiri dari perangkat elektrikal dan perangkat mekanikal. Nah perangkat mekanikal inilah yang dibuat melalui proses pengelasan.

Tangki trafo saat masih dalam proses. Sumber: dokpri
Tangki trafo saat masih dalam proses. Sumber: dokpri

Perangkat mekanikal trafo sering disebut tangki trafo seperti pada gambar diatas. Disebut tangki karena didalamnya terisi oli dan diberi tekanan. Pembuatannya melalui proses pengelasan

Proses Pembuatan Tangki Trafo

1. Meninjau dokumen kontrak proyek

Proses pembuatan tangki trafo dimulai dari review dokumen kontrak proyek dari pelanggan. Dalam dokumen ini tertera informasi yang lengkap mulai dari desain produk, spesifikasi material, prosedur pengelasan, persyaratan pengujian tangki, warna dan spesifikasi cat yang akan digunakan sampai pengiriman ke pelanggan/site.

2. Inspeksi material yang akan digunakan

Sebelum diproses, material akan dicek terlebih dahulu apakah sudah memenuhi kriteria. Misalnya tebal dan ukuran material.

3. Pemotongan material (cutting)

Proses pemotongan material menggunakan mesin potong laser, punching, plasma, dan shearing. Dipotong sesuai ukuran dalam gambar.

4. Pengelasan (welding)

Material yang sudah dipotong akan disambung dan dirakit dengan proses pengelasan. Proses las mengikuti standar baku internasional ASME IX atau standar yang telah disepakati bersama dengan pelanggan. Minimum juru las (welder) harus memiliki sertifikat 3G. Artinya dia boleh mengelas dengan posisi flat, horizontal, dan vertikal. Selain welder, proses pengelasan juga melibatkan welding engineer dan welding Inspector yang telah bersertifikasi. 

Welding engineer adalah orang yang menentukan desain dan aturan pengelasan dalam bentuk prosedur las (Welding Procedure Spesification-WPS). WPS lengkap berisi parameter las sebagai acuan welder dalam melakukan pengelasan. 

Parameter las diantaranya adalah proses las yang digunakan (SMAW/GMAW/GTAW/FCAW), kawat las yang dipakai, tipe sambungan, perlakuan pemanasan (heat treatment), kecepatan  pengelasan (travel speed), dan lain sebagainya. Sedangkan welding Inspector adalah orang yang melakukan inspeksi las sebelum proses, pada saat proses, dan sesudah pengelasan. Welding Inspector melakukan inspeksi berdasarkan dokumen yang diturunkan oleh welding engineer.

5. Pengujian hasil pengelasan

Hasil pengelasan akan diuji menggunakan metode uji tidak merusak (Non Destructive Test). Yang paling umum digunakan adalah metode uji penetrant untuk melihat apakah ada cacat pada hasil pengelasan. Selain itu, untuk memastikan tangki tersebut tidak bocor, maka dilakukan test kebocoran. Ini adalah bagian terpenting karena tidak ada toleransi untuk kebocoran tangki yang diakibatkan oleh pengelasan.

6. Pengecatan (painting)

Painting adalah proses terakhir dalam pembuatan sebuah tangki. Cat yang dipakai pun tidak bisa sembarangan. Ada spesifikasi khusus yang tertera dalam dokumen kontrak. Misalnya bila trafo nantinya akan ditempatkan di lepas pantai, maka menggunakan tipe cat Offshore. 

Bila sudah selesai final inspeksi dan dinyatakan Ok, tangki tersebut sudah siap dilengkapi dengan komponen elektrikal untuk menjadi sebuah trafo.

Seperti yang sudah dibahas dalam ulasan diatas, mengelas tangki yang akan dipergunakan sebagai trafo itu butuh skill dan pengalaman. Di Indonesia, sertifikasi keahliannya dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Sebuah badan yang langsung bertanggungjawab kepada Presiden. Pengelasan harus sempurna, tidak boleh ada cacat apalagi kebocoran. Apabila terjadi kebocoran pada saat terisi oli, trafo tersebut bisa meledak karena ada komponen elektrikal yang mudah terbakar. Banyak manfaatnya kan jadi tukang las itu...

Jadi mendingan mana, jadi tukang ngelas apa tukang ngeles?

Salam hangat,

Meirri Alfianto

Welding Inspector

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun