Mohon tunggu...
Rizaldo
Rizaldo Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Pelajar

Saya merupakan seorang pelajar yang mempunyai passion pada bidang penulisan, baik ilmiah maupun non-ilmiah. Saya juga tertarik pada bidang seni dan sastra, seperti membaca puisi, pidato, storytelling dll.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Melihat Kembali Suku Bajo dan Pesonanya

1 Juli 2023   08:14 Diperbarui: 1 Juli 2023   09:04 729
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/santiri : Salah seorang warga Pulo Balu memegang bendera Ula-ula.

"Seberapa tahu kamu mengenai Suku Bajo? Apakah kamu tahu apa saja yang menjadi khas tradisi dan keunikan Suku ini?" "Saya terus bertanya kepada teman-teman saya. Ternyata, banyak dari mereka yang belum mengenal apa itu sosok Suku Bajo sebenarnya? Demikian itu saya sangat tertarik menulis esai yang mengangkat topik ini. Dengan harapan, tulisan ini dapat memberikan pemahaman dan penggambaran mengenai sosok "Aquaman Indonesia".

Suku Bajo, mereka mempunyai kelebihan dan privilege menyelam di atas rata-rata manusia pada umumnya, mereka mampu menahan nafas di air sampai 13 menit dengan kedalaman ekstrim, yakni 50-60 meter dibawah permukaan laut. Itulah mengapa, mereka disebut-sebut sebagai Aquaman-nya Indonesia. Secara alami mereka telah menyatukan diri dengan kehidupan di laut yang selaras dengan sumber daya alamnya, bahkan budayanya sulit untuk dipisahkan dari kelangsungan hidup mereka. 

Pun, suku ini sudah menganggap laut adalah bagian dari hidupnya. Mereka menganggap serta memahami laut sebagai danakang (saudara), sehe (teman), dan patambangang (tempat tinggal), sehingga mereka mengenali laut seperti mengenali dirinya sendiri. Memisahkan mereka dengan laut bukan semudah membalikkan telapak tangan. Mereka meyakini bahwa leluhur mereka berasal dari laut dan hidup di laut sebagai mbo ma dilao (penguasa lautan), laut yang memberi mereka rezeki, kebaikan, kesehatan hingga penyakit. Pun, mereka percaya bahwa laut yang melindungi mereka dari bencana.

Instagram @totaltripindonesia : Suku Bajo yang sedang menyelam mencari ikan.
Instagram @totaltripindonesia : Suku Bajo yang sedang menyelam mencari ikan.
Dulu, banyak dari orang Bajo tidak memiliki kewarganegaraan karena gaya hidup mereka yang nomaden (sering berpindah tempat), tapi seiring dengan berkembangnya zaman banyak orang Bajo sudah mulai hidup menetap serta membangun rumah di atas permukaan laut, pulau-pulau terpencil, darat pun juga. Salah satunya, Pulau Balu, salah satu desa komunitas orang Bajo di Sulawesi Tenggara.

jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/santiri : Pulo Balu, Desa Santiri.
jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/santiri : Pulo Balu, Desa Santiri.

Banyak sumber yang mengatakan bahwa beberapa tahun silam, Suku Bajo belum diakui oleh negara. Padahal, suku ini sangat dibutuhkan dan berperan penting dalam bidang maritim Indonesia. Bagaimana tidak? Karena orang Bajo mempunyai wawasan dan pemahaman yang luas dan memadai tentang laut dan isinya.

Mengapa pemerintah tidak membentuk komunitas atau lembaga untuk menampung suku ini? Padahal jika dipikir, lebih baik lagi jika pemerintah membentuk suatu komunitas atau organisasi atau bahkan sekolah khusus Anak Sama/Bajo yang kemudian merevitalisasi pemahaman dan wawasan yang mereka punya tentang laut, serta sumber daya alam di dalamnya.

Tak hanya daya tarik pada bidang maritim, suku ini juga menjadi daya tarik pada industri entertainment nasional bahkan internasional. Film dokumenter Suku Bajo yang populer salah satunya adalah "The Bajau" yang disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono dan di publikasikan lewat rumah produksi Watchdoc Documentary. Menariknya lagi belum lama ini, sutradara film "Avatar: The Way Of Water", James Cameron mengatakan Suku Metkayina terinspirasi dari Suku Bajo di Indonesia. Suku Metkayina dalam film Avatar sendiri merupakan suatu suku penghuni Pandora yang menjadi penguasa lautan. 


Tak kalah mempesona, Suku Bajo memiliki beberapa pesona khas tradisi dan budayanya, antaranya.

1. Ula-ula, bendera utama Suku Bajo yang dianggap sakral dan tidak boleh disalahgunakan apalagi di anuang (ejek) jika tak mau mendapatkan nasib buruk atau malapetaka. Bendera tersebut umumnya selalu disimpan oleh salah seorang ha toa kampoh (pemimpin kampung, orang tua kampung) dan bendera itu dikibarkan pada waktu ada upacara adat seperti pesta perkawinan atau pesta khitanan. Pun, bendera ini tak boleh kita gunakan semena-mena, hanya digunakan pada saat upacara/acara keturunan bangsawan saja. Ula-ula mempunyai jenis kelamin laki-laki dan perempuan.

jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/santiri : Salah seorang warga Pulo Balu memegang bendera Ula-ula.
jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/santiri : Salah seorang warga Pulo Balu memegang bendera Ula-ula.

2. Stratifikasi sosial masyarakat Bajo ada lima rumpun, sebagai berikut: [Interpretasi 2016, Wawancara Pak Roso, 2006].

- Lolo same adalah pimpinan tertinggi masyarakat sekaligus merupakan strata sosial teratas. Mereka inilah bangsawan-bangsawan Suku Bajo yang dihormati.

- Ponggawa same adalah hulubalang segenap masyarakat sekaligus dianggap dibawah Lolo, dan golongan bangsawan yang mempunyai percampuran darah dengan strata dibawah atau adanya perkawinan campuran dengan suku lain.

- Gellareng adalah golongan bangsawan yang mempunyai banyak percampuran darah dengan strata dibawahnya.

- Same berarti orang biasa.

- Ate merupakan hamba sahaja.

3. Tradisi perkawinan yang endogami, menurut mereka, perkawinan yang ideal adalah perkawinan yang ada hubungan kekerabatan, pertalian darah yang dekat, sampai pada tingkat ketiga (sepupu tiga kali). Terdiri dari beberapa fase untuk mencapai perkawinan, yakni; mamea (pencarian jodoh); napore natilo lalang (penjejakan setelah diselidiki); massuro (lamaran/meminang); mappetuada' (penyampaian secara resmi kepada khalayak yang hadir); pabottengang (pesta perkawinan).

4. Tari Ngigal/Manca, pencak silat yang diikuti oleh iringan gendang dan gong Bajo serta menggunakan atribut seperti keris, tongkat, dan senjata tradisional lain. Tarian adat khas Suku Bajo ini biasanya dipakai untuk penyambutan tamu penting atau pada acara-acara tertentu. 

jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/santiri : Pertunjukan Tari Ngigal oleh warga Pulau Balu, dengan latar salah satu rumah adat yang masih ada.
jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/santiri : Pertunjukan Tari Ngigal oleh warga Pulau Balu, dengan latar salah satu rumah adat yang masih ada.
5. Mattula'bala, upacara menolak bahaya yang akan menimpa Suku Bajo, Upacara ini dipimpin oleh ha toa kampoh (pemimpin kampung, orang tua kampung) yang dimulai dengan menaikkan bendera Ula-ula, lalu di dekat tiang bendera diletakkan tujuh lipat daun sirih, alosi (pinang), kapur sirih, beras. Lalu dibacakan doa kasalamatang (keselamatan) atau mantra dan sesudah itu dibunyikan gendang Bajo.

6. Dalam proses pewarisan pengetahuan, nilai, dan keterampilan mereka memiliki tradisi Iko-iko, yang berperan menyampaikan pesan moral dan dinyanyikan menjelang tidur atau saat dalam pelayaran. Sebagai suatu cerita rakyat yang di dalamnya mengandung unsur kehidupan sehari-hari, mata pencaharian, sosial budaya, termasuk kehidupan remaja pun diceritakan. Terlepas dari unsur-unsur mistis yang ada di dalamnya, Iko-iko memiliki nilai dan norma. Nilai-nilai kearifan lokal Etnis Bajo yang dikisahkan dalam Iko-iko dapat memberikan keseimbangan dan ketertiban (keharmonisan) hidup, melestarikan alam dan lingkungan hidup. [ https://dapobas.kemdikbud.go.id/home?show=isidata&id=942 ]

YouTube/Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kab Muna Barat : Pertunjukan Iko-iko oleh salah seorang warga Pulo Balu.
YouTube/Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kab Muna Barat : Pertunjukan Iko-iko oleh salah seorang warga Pulo Balu.

Bukan hanya itu, bila demam, orang Bajo memiliki caranya sendiri untuk menyembuhkan. Orang yang demam biasanya dibawa kepada Sandro (dukun, orang pintar) yang kemudian akan di palo sumanga'-nya (dipanggil sumanga'-nya). Biasanya Sandro akan memberikan benang sumanga'' kepada orang yang sakit; sumanga' = jiwa (yang hilang). 


Keragaman Suku Bajo bak melihat surga yang diciptakan Tuhan di dunia. Punya banyak tradisi dan budaya, kelebihan untuk menyelam dalam satu tarikan nafas, memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan luas mengenai laut dan sumber daya alam di dalamnya, pun mereka juga mudah untuk berinteraksi dan akrab dengan sesamanya yang baru saja ia temui, ini karena sikap toleran tinggi yang dianut orang Bajo. Itu semua menjadi keunikan yang dimilikinya. Lalu, masihkah ada keraguan lain yang kamu pikirkan untuk bisa mengunjungi Suku Bajo?.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun