Tetapi bagi bapaknya Sunari, uang dua puluh lima juta bukan menjadi satu hal yang besar. Bahkan sekali panen melon, bapaknya Sunari bisa mendapatkan ratusan juta rupiah dari hasil buah hijau berasa manis itu.
Hari mencebik mendengar jawaban Sunari. "Kalau sampai puluhan juta rupiah, dan berangkatnya lama pula, mending nggak usah bercita-cita terlalu tinggi. Dua puluh lima juta, buat modal buka warung saja, nggak usah nunggu lama dan dapat untung juga."
Meskipun begitu, tak ada hal lain yang membuat Kang Munir tergetar, selain rasa rindunya untuk pergi ke rumah Allah.
Dari kelima rukun islam, hanya rukun kelima saja yang belum ditunaikan Kang Munir.
Syahadat sudah pasti dia ucapkan. Bahkan saat Sholat lima waktu yang ajeg dia lakukan secara berjamaah dengan anak istrinya, syahadat sudah dia ucapkan sepuluh kali dalam sehari. Belum dihitung di waktu-waktu sholat sunnah yang juga dia kerjakan. Puasa Ramadan sudah menjadi satu bulan yang sangat dinanti Kang Munir. Tak pernah dia sengaja untuk membatalkan puasa atau pura-pura sakit demi mendapatkan keringanan berpuasa. Seingatnya, hanya ketika dia masih duduk di bangku sekolah dasar saja, sering berpuasa hanya setengah hari. Kang Munir pun tak pernah melupakan zakat fitrah, zakat yang wajib dikeluarkan di bulan ramadan. Untuk zakat mal, 'mal' yang mana yang harus dibayarkan zakatnya? Untuk makan sehari-hari saja Kang Munir mengandalkan rupiah yang dia dapat dari orang-orang yang membutuhkan tenaganya.
Maka, tinggal menunaikan ibadah haji saja. Tapi bagaimana?
"Haji itu wajib bagi yang mampu, Kang. Kalau nggak mampu berarti ya nggak wajib. Makanya santai saja."
'Santai saja?' Kang Munir menggeleng-gelengkan kepala, gemas dengan pemikiran 'Pemuda Santuy' ini. Sepertinya dia terlalu membatasi kekuasaan Gusti Allah, dan merasa jika seorang yang miskin hari ini, akan miskin selamanya. Padahal banyak orang kaya yang mendadak jatuh miskin dalam hitungan hari saja.
Lalu, apakah kita akan berhenti berusaha dan merasa kewajiban untuk menjalankan rukun islam yang kelima itu telah gugur akibat kemiskinan kita? Apakah sudah terhalang sama sekali, pintu menuju Baitullah yang pastinya bukan untuk orang yang berduit saja?
Tidak. Kang Munir tak ingin menghilangkan kepercayaannya pada Dzat yang mengembuskan angin surga di sekitar Raudhoh yang terletak di Masjid Nabawi. Kang Munir tidak akan menghancurkan impiannya untuk menjadi tamu Allah, berusaha lebih dekat dengan Sang Pencipta meskipun tentunya Gusti Allah selalu berada di dekat hamba-hamba-Nya yang beriman. Kang Munir tetap ingin berziarah ke makam manusia yang paling dicintai Tuhannya, Nabi Muhammad. Kang Munir tetap ingin melihat batu surga yang tercecer di bumi, meski itu hanya dari kejauhan.
Kang Munir tak menyetujui pendapat Hari.