Mohon tunggu...
Albertus Fandy
Albertus Fandy Mohon Tunggu... Editor - Saya Baru Belajar Menulis

Pemula

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Podcast Jadi Sebuah Pilihan, Bukan Pengganti Radio di Dunia Penyiaran

7 Oktober 2019   17:16 Diperbarui: 7 Oktober 2019   18:03 4189
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Podcast menjadi salah satu perkembangan new media atau media baru yang sedang hype. Podcast menjadi suatu media baru di dunia siaran Indonesia khususnya pada konten audio. Dalam era digital, podcast menjadi sebuah sarana dalam menyediakan konten menarik yang berbasiskan audio dan memiliki durasi yang cukup lama ketimbang radio.

Dalam era modern atau yang kita sebut masyarakat informasi, khalayak dapat mengakses informasi dari berbagai media dan produk komunikasi lainnya, mulai dari yang berbasis teks, audio, dan video. Dulu konten atau media yang berbasiskan audio yang kita kenal adalah radio. Radio merupakan sebuah media yang memberikan informasi dan pesan dalam bentuk suara yang disampaikan kepada pendengar melalui frekuensi radio sehingga pendengar bisa mendapatkan informasi dengan mencari channel atau frekuensi radio tersebut.

Podcast merupakan salah satu dari sekian banyaknya produk new media. Apa itu new media? New media  merupakan sebuah terminologi untuk menjelaskan konvergensi antara teknologi komunikasi digital yang terkomputerisasi serta terhubung ke dalam jaringan. Salah satu bagian dari new media yang terpenting adalah internet. New media memiliki beberapa karakteristik yaitu digital, interactive, hypertextual, virtual, networked, dan simulated.

Internet merupakan salah satu teknologi pendukung dalam industri media digital. Banyak sekali platform atau penyedia informasi yang sudah menjadikan internet sebagai alat untuk menyampaikan pesan secara cepat dan luas.

Podcast merupakan rekaman dalam bentuk audio dan video yang memiliki sekumpulan episode serta dapat diakses oleh banyak orang. Istilah Podcast itu sendiri berasal dari gabungan kata "Pod" dan "Broadcasting".  Kata pod datang dari pemutar media digital ciptaan Apple yaitu iPod sedangkan cast adalah kependekan dari broadcast atau siaran.   Podcast sudah ada sejak tahun 2005, kemudian tahun 2007 podcast mulai banyak digunakan dan berkembang pesat hingga sekarang.  

Podcast VS Radio

Source: cloudrad.io
Source: cloudrad.io
Persamaan:
  • Podcast dan radio sama-sama merupakan media berbasiskan audio
  • Sebagai penyedia informasi dan berita
  • Memiliki penyiar atau caster

Perbedaan:

  • Podcast menyediakan konten yang ber-episode sehingga pendengar dengan bebas memilih sedangkan radio memiliki program yang terjadwal 
  • Podcast tidak memiliki iklan sedangkan radio menyelipkan iklan di setiap programnya
  • Podcast menggunakan internet sedangkan radio menggunakan frekuensi atau radiasi elektromagnetik (gelombang elektromagnetik) 
  • Podcast dapat memuat explicit content sedangkan radio tidak bisa karena harus mengikuti etika penyiaran
  • Podcast dapat diakses di berbagai platform musik atau audio sedangkan radio dapat memakai pemutar radio atau tape
  • Podcast dapat dibuat oleh siapa saja sedangkan radio harus memiliki investasi yang besar untuk membangun stasiun radio
  • Podcast dapat di download sedangkan radio tidak bisa

Nah, setelah melihat beberapa persamaan dan perbedaan dari podcast dan radio, dapat dikatakan bahwa lebih banyak perbedaan daripada persamaannya dikarenakan memang kedua media tersebut serupa namun tak sama.

Tren podcast di Amerika dan Inggris 

Podcast menjadi sebuah pilihan di negara Amerika dan Inggris. Seperti dilansir CNN Indonesia, Nic Newman  merilis hasil studi Journalism, Media, and Technology Trends and Predictions 2018 gagasan Reuters Institute for the Study of Journalism dan University of Oxford. Menurut Newman dalam hasil risetnya, sebanyak 58 persen penerbit atau media mengaku akan fokus pada podcast, dengan proporsi yang sama menilik pada konten untuk speaker  yang diaktivasi menggunakan suara.

Di sana tercatat bahwa berdasarkan survei terhadap 194 editor, bos, dan pejabat perusahaan media digital dunia, diperkirakan pada 2018 media dengan format audio akan mengalami peningkatan. 

Pada dasarnya, podcast mirip gabungan dari vlog di YouTube dan radio. Dengan materi siaran yang makin beragam, dari yang unik hingga berbagai topik kekinian yang disukai generasi zaman now menjadikan podcast makin digandrungi. Terlebih pada podcast pendengar bisa memilih tema yang disukainya. Konten audio yang dihadirkan dari podcast membuat media seperti radio merasa tersaingi, padahal kedua media ini memiliki karakteristik yang berbeda .

Dilansir dari Edison Research, terdapat 39 juta pendengar podcast di Amerika Serikat di akhir bulan. Sementara merujuk data Statistik, 24 persen orang dewasa di Amerika Serikat, mengkonsumsi siaran podcast. Data lainnya, merujuk pemberitaan Business Insider, diestimasi bahwa 20 persen penduduk Amerika Serikat yang berumur antara 18 hingga 49 tahun, setidaknya mendengarkan satu kali siaran podcast tiap bulannya.

Di Amerika, podcast dapat di monetize yang artinya penyiar dapat menghasilkan uang dari konten yang mereka buat dan juga pengiklan dapat mempromosikan produk atau iklan mereka disana.  

Podcast di Indonesia

Podcast Jadi Saingan Radio

Dilansir dari detikHOT, bahwa keberadaan podcast menjadi tantangan tersendiri untik radio karena pendengar akan lebih banyak memiliki pilihan. Namun tetap ada beberapa pembeda yang nantinya kedua platform tersebut akan menjadi pilihan, bukannya sebagai pengganti. 

"Lagipula ada perbedaan hal, kalau di podcast yang menyenangkan karena dia bisa mendengarkan apa yang dia mau. Kalau di radio, ada element of suprise-nya, kira-kira informasinya apa," ujar Ilham pada detikHOT.

Kanal Podcast di Indonesia

Tren podcast di Indonesia belum terlalu berkembang atau belum begitu populer seperti di negara Amerika dan Inggris. Akan tetapi, Indonesia sudah mulai mengikuti yang ditandai dengan kemunculan caster-caster di berbagai platform musik dan audio. Podcast di Indonesia memiliki banyak jenis konten seperti news and politic, komedi, edukasi, ekonomi dan bisnis, musik, olahraga, teknologi, true crime, stories, society and cultur, arts and entertainment, kids and family.

Podcast di Indonesia dapat diakses di berbagai platform seperti Spotify, Apple Podcast, Google Podcast, Podbean, RadioPublic dan masih banyak platform lainnya. Kontribusi orang Indonesia dalam dunia podcast sudah cukup baik, terlihat dari salah satu platform musik yaitu Spotify. Dalam barisan 'Podcast Charts' yang ada di Indonesia, ada 3 podcast teratas yang populer di antaranya ialah 'Do You See What I See?', 'Rapot', dan 'Podcast Boker' (Chartable, Diakses Minggu, 6 Oktober 2019)

Source: stitcher.com
Source: stitcher.com
Do You What I See? merupakan podcast yang kontennya adalah kumpulan cerita horror true story yang diceritakan oleh beberapa orang yang mempunyai pengalaman seram di kehidupannya.

Source: anchor.fm
Source: anchor.fm
Rapot, merupakan podcast yang di host atau dipandu oleh Reza chandika, Anka Tama, Radhini, dan Natasha Abigail. Rapot mempunyai cara yang unik dan menarik dalam membuat konten, karena pembawaannya sangat asik  dan mereka berempat mempunyai latar belakang sebagai penyiar radio. Dalam podcast charts, Rapot terus menjadi yang teratas meskipun selalu bertukar posisi dengan podcast Do You What I See ?. Tak heran mereka selalu mendapat jumlah listener yang banyak.

Source: open.spotify.com
Source: open.spotify.com
Podcast Boker, merupakan sebuah podcast yang memiliki konten seputar obrolan-obrolan keseharian dan dipandu oleh Trash Brothers yaitu Ryo Wicaksono, Molen Kasetra, dan Bobby Mandela. Podcast boker memang memang berjenis komedi atau hiburan dan berisi obrolan absurb, maka dari itu podcast ini memberikan keterangan bahwa podcast ini memiliki konten 21+.

Podcast di Indonesia belum dapat di monetize karena memang podcast baru bisa di monetize  Amerika Serikat sehingga para penyiar atau caster belum dapat 'menguangkan' konten mereka di platform-platform audio atau musik. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun