Kesalahan periodisasi bisa terjadi apabila sejarawan memandang periode sebagai waktu pasti, contohnya orang membuka dan menutup layar saat sandiwara. Zaman-zaman kuno yang ada di Indonesia tidak berakhir di tahun 1499, dan lebih tidak lagi di tanggal 31 Desember 1499 atau akhir tahun. Tapi, justru jauh sebelum itu, sudah ada Kerajaan Islam, saat Majapahit berjaya, tidak serta-merta Zaman Kuno ini memudar.
Kesalahan pembahasan dibagi menjadi 2 hal, yaitu bahasa yang emotif dan nonsequitur. Pertama menggunakan bahasa emosional seperti penggunaan predikat. Kalimat seperti "Dengan gagah berani para pejuang bertempur di Surabaya pada tanggal 10 November 1945", "Presiden berbicara dengan para petani dengan penuh pengertian dan kebapakan", "Panglima Besar Soedirman dan para prajurit dengan gigih berjuang di luar kota". Sedangkan kesalahan nonsequitur kalimat dipakai bukan konsekuensi kalimat sebelumnya. Contohnya, "Partai-partai politik mendukung cita-cita kemerdekaan. Demikian juga orang-orang Laweyan". Kalimat itu tidak sambung atau loncat. Selain itu, mula-mula yang dibicarakan yaitu organisasi, tapi tiba-tiba pindah ke penduduk. Kalimat ini ada yang terlewatkan, yaitu hubungan orang Laweyan dan partai. Harusnya kalimat keduanya diubah menjadi "Orang-orang Laweyan adalah pedagang Islam. Pedagang Islam. Sarekat Islam mendukung cita-cita kemerdekaan".
DAFTAR PUSTAKA
Â
Kuntowijoyo. (1995). pengantar ilmu sejarah. edisi baru, cetakan 1, yogyakarta: tiara wacana.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI