Mohon tunggu...
Alain Frost
Alain Frost Mohon Tunggu... -

part time writer, full time dreamer, full heart volunteer.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

WhatsApp Messenger

22 Juli 2013   16:45 Diperbarui: 24 Juni 2015   10:12 245
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tol Cawang, Pk. 18.45 WIB Hujan turun. Seluruh ruas jalan penuh. Seluruh kendaraan berlomba masuk ke ruas bahu jalan setiap melewati satu gerbang tol dan kembali keluar dari ruas bahu jalan setiap tiba pada gerbang tol berikutnya, baru kemudian masuk lagi setelah lewat beberapa meter. Trik jitu untuk menghindari tindak tilang dari aparat yang menjaga pintu tol. Aku menatap layar ponsel. Menunggu nada Action dengan volume delapan yang kustel untuk notifikasi untuk setiap pesan WhatsApp Messenger. Tidak ada pesan. Hening. Tanpa bunyi. Masih belum bergerak, Sementara para penghuni group di Blackberry Messenger mulai ramai karena aku belum juga kunjung tiba menuju lokasi reuni. Jendela mobil dibuka. Aku menyalakan sebatang rokok. Mengepul keluar, hilang dihantam hujan. Sementara jari-jari mulai menyusun kata-kata untuk kukirimkan kepadamu yang berada di balik layar ponsel ini. Kamu, yang di balik layar ponsel. Barangkali menatap hal yang sama dengan yang kutatap sekarang. Ikon berupa balon percakapan berwarna hijau dengan gambar telepon berwarna putih di tengahnya. Sama, tanpa bunyi. Akhirnya bunyi itu keluar dari ponselmu. Sekadar pertanyaan alakadarnya yang kulancarkan,”Bagaimana kabar dan pekerjaan yang bernuansa baru? Cukup menyenangkan?” Dan tidak sampai satu menit, nada yang kutunggu-tunggu, nada Action dengan tingkat volume delapan itu berbunyi satu kali, dua kali. Bunyi pertama menjelaskan bahwa kamu merasa sedikit pusing tetapi semuanya harus tetap dijalani karena sudah menjadi pekerjaanmu. Bunyi kedua hanya berisi thks singkatan dari thanks ala-mu. Setelah itu baik aku atau kamu yang berada di balik layar ponselku, berdiam. Menunggu nada berikutnya. Aku yang takut karena merasa sepertinya kamu tidak terlalu menyukai pesanku sehingga hanya membalas dingin dan singkat, menunggu perkataan selanjutnya darimu. Sementara kamu yang merasa aku tidak peduli lagi padamu sehingga hanya mengirimkan basa-basi singkat tanpa ingin tahu lebih dalam lagi, menunggu respon dariku. Menunggu. Tidak ada pesan lagi. Hening. Tanpa bunyi. Keduanya saling menunggu.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun