Mohon tunggu...
Akilah Dharmayasa
Akilah Dharmayasa Mohon Tunggu... Freelancer - Mahasiswa PBSID Universitas Negeri Malang

Tipikal mahasiswa Sastra Indonesia yang dunianya menulis dan membaca. Penikmat karya seni apapun bentuknya. Sedang berupaya mendalami dunia jurnalisme dan segala printilannya.

Selanjutnya

Tutup

Hukum Pilihan

Mahasiswa, Jurnalis, dan Agendanya Memperjuangkan Usut Tuntas Dua Tahun Tragedi Kanjuruhan

14 Oktober 2024   14:23 Diperbarui: 14 Oktober 2024   14:27 173
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Salah satu lukisan yang dipamerkan (Dokpri)

Tragedi Kanjuruhan yang mengakibatkan 135 lebih korban masih belum usai, seluruh elemen masyarakat, terutama mahasiswa masih berusaha mendorong pihak terkait untuk mengusut tuntas peristiwa tersebut. BEM FIB UM membuat pameran bertajuk 'Tragedi yang Terlupakan, Belum Terurai namun Dianggap Usai' di Galeri SAC FIB UB pada 26 September hingga 1 Oktober 2024. 

Suasana Pameran Tragedi Kanjuruhan di SAC FIB UB (1/10/2024) (Dokpri)
Suasana Pameran Tragedi Kanjuruhan di SAC FIB UB (1/10/2024) (Dokpri)

Pameran ini menyajikan infografis berupa kaleidoskop peristiwa kanjuruan sejak awal hingga perkembangan kasus tersebut. Terdapat pula karya seni, sastra, fotografi, dan bongkahan sisa bangunan tragedi kanjuruhan yang sudah dirobohkan. Karya sastra dan seni yang dipamerkan merupakan hasil open submission yang dilakukan oleh BEM FIB UB menjelang pameran dari masyarakat umum dan mahasiswa dari berbagai wilayah. Pameran ini berusaha menjaga memori kejadian yang sudah dua tahun masih belum tuntas untuk para korban.

 Kaleidoskop di pameran tragedi kanjuruhan FIB UB (Dokpri)
 Kaleidoskop di pameran tragedi kanjuruhan FIB UB (Dokpri)

"Yayasan keadilan mengklasifikasikan menjadi tiga tingkatan: bawah, menengah, maupun atas. Secara hukum, menurut kami untuk tuntas dimana di ketiga tingkatan itu sudah diadili semua namun nyatanya yang diadili baru di tingkat menengah. Kaleidoskop atau infografis yang disajikan berusaha menginformasikan tuntutan yang sudah berjalan dan yang belum tuntas, fotografinya berusaha menggambarkan tragisnya kejadian pada hari itu, lukisan dan karya sastra mengekpresikan diri terhadap tragedi ini." Febbyzio Damoesya selaku ketua pelaksana menjelaskan peran setiap karya yang dipamerkan hari itu kepada jurnalis yang meliput.

Salah satu lukisan yang dipamerkan (Dokpri)
Salah satu lukisan yang dipamerkan (Dokpri)

Mengangkat tema yang kontroversial, pameran ini mendapatkan berbagai tanggapan dari berbagai pihak. Pihak fakultas sudah memberikan dukungan, baik secara finansial maupun perizinan, kepada panitia yang diwakili Zio sebagai ketua pelaksana untuk menggelar acara ini. Selain pameran pada 30 September diadakan diskusi umum di Teras Budaya FIB A dan 1 Oktober diadakan kontemplasi dan doa bersama di tempat yang sama. Saat diwawancarai, Zio mengaku mendapatkan dukungan penuh dari keluarga korban dan dipinjami bongkahan sisa bangunan tersebut untuk ikut dipamerkan. "Bongkahan ini kami dipinjamkan oleh JSKK (Jaringan Solidaritas Keluarga Korban), kan sekarang sudah direnovasi. Ini sempat diambil sebagai bukti," ujar Zio menjadi bukti kuat dukungan dari para aktivis dan keluarga korban.

Bongkahan bangunan bekas kejadian yang dipinjam dari JSKK (Dokpri)
Bongkahan bangunan bekas kejadian yang dipinjam dari JSKK (Dokpri)

Selain itu, tampaknya pameran ini juga mendapatkan dukungan positif dari pengunjung dan jurnalis yang datang ke pameran. "Kami ingin ketemu dengan yang peduli-peduli kaya kalian ini," ujar Sunbhio Prataman dan rekannya ketika ditanya alasannya berkunjung apakah hanya tuntutan pekerjaan atau memang ingin mengapresiasi. Salah satu pengunjung, Azizah dari Universitas Negeri Malang juga mengaku ingin mengetahui lebih banyak tentang kejadian Kanjuruhan melalui pameran ini.

 Jurnalis dan pengunjung yang meliput dan mengamati kaleidoskop tragedi kanjuruhan (Dokpri)
 Jurnalis dan pengunjung yang meliput dan mengamati kaleidoskop tragedi kanjuruhan (Dokpri)
"Pada malam harinya saya langsung ke sana, tidak jadi off, bersama istri saya yang sedang hamil karena tidak berani sendiri di rumah. Sudah tidak chaos malamnya, semua berpencar ke polres dan rumah sakit. Bahkan sempat anak saya ingin dinamai Kanjuruhan, tidak jadi karena ternyata cewek," ungkap Sunbhio Pratama (Jurnalis KompasTV) mengenang pengalamannya pada hari kejadian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hukum Selengkapnya
Lihat Hukum Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun