"The Founding Father Soekarno/ Hatta telah membacakan proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, bahwa Negara kita menyatakan kemerdekaannya dengan penuh cucuran darah dan air mata yang telah direbut dari bangsa asing"
Kata Soekarno "perjuanganku lebih mudah karena telah melawan penjajah dan merebut bangsa ini dari negara Asing, namun perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri".
Sebuah konklusi yang masih bisa kita pelajari dari apa yang diucapkan oleh presiden Pertama republik ini, hal tersebut sangat nyata terjadi dihadapan kita, bahwa di dalam negeri yang kita cintai ini sudah begitu banyak terjadi kekacauan yang memunculkan kegaduhan.
Musuh terberat kita saat ini bukan lagi bangsa asing, namun musuh kita sudah menjadi satu dalam diri bangsa ini.
Bangsa lain melihat sambil tertawa terbahak-bahak, atas banyaknya kekacauan yang terjadi, salah satunya yang masih berjalan hingga detik ini, peristiwa polisi tembak polisi yang membuat geger jagad Maya dan Indonesia secara keseluruhan.
Tewasnya Brigadir J membuat kita terperangah, sebab terjadinya persekongkolan di tubuh penegak hukum. Skenario kebohongan terus di jadikan adagium untuk menyesatkan, kebenaran seakan sudah diperjual belikan dengan harta dan kekuasaan, sungguh cukup miris adanya.
Slogan bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, sudah berada diambang liang lahat, dan siap untuk dikubur, sebab banyaknya para oknum dan penghianat negara terus mengobok-obok bangsa ini hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok.
Belajar dari Kematian Brigadir J
Lantas apa hubungannya antara kemerdekaan dengan kematian Brigadir J ? Jika melihat sekilas memang tidak ada hubungannya, namun jika di dalami dan direnungkan secara seksama, bahwa tewasnya Brigadir J yang tidak wajar, menunjukkan kelalaian akan sistem Negara yang carut marut.
Mafia masih bersarang di balik institusi Negara, dan Negara secara tidak langsung hendak dihancurkan dari dalam, akibat ulah segelintir oknum.
Disinilah bahwasanya suatu pelajaran yang sangat berharga bagi negara kita, suatu persoalan yang dilakukan segelintir orang namun bisa merusak bangsa dan negara yang kita cintai ini.
Kemerdekaan adalah milik seluruh warga NegaraÂ
Sebagai negara yang majemuk, Indonesia dihuni oleh berbagai macam masyarakat yang memiliki latar belakang perbedaan, mulai dari ras, suku, agama, bahasa, dan lain sebagainya.
Tetapi sebagai negara majemuk dan multikulturalisme tidak lantas harus terpecah belah yang bisa menghancurkan kesatuan dan persatuan di republik ini.
Selama 77 tahun lamanya kita sudah dinyatakan Merdeka, Meski masih banyak kemerdekaan semu yang terjadi di negeri kita, sebab penindasan dan kriminalisasi masih kerap terjadi.
Kemerdekaan itu adalah hak seluruh warga, di bawah kibaran Merah-Putih sebagai lambang kecintaan kita pada Negara juga sangat ikut sedih dan merana jika masih melihat terjadinya penindasan dan kriminalisasi pada warga negara.
Yang kuat masih memiliki kecenderungan untuk menindas yang lemah, bahkan hukum yang dibuat sendiri kerapkali dilanggar hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok.
Sungguh sangat disayangkan, kemerdekaan yang kerapkali dirampas oleh segelintir orang.
Maraknya kasus korupsi, kriminalisasi, suap menyuap, skenario kebohongan, tragedi kemanusiaan, perpecahan, polarisasi masih menghantui.
Masih ditambah lagi, dengan indikasi ketidakstabilan ekonomi, komoditas pangan dan kebutuhan lainnya yang setiap saat semakin meroket, dan rakyat kecil pun semakin menjerit, menjadi petunjuk bagi kita semua bahwa kemerdekaan do negeri kita masih setengah hati.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI