Kalau bukan orang tua, lalu siapa lagi?Â
Tugas orang tua tentu tidak hanya sebatas memberikan nafkah, mencukupkan segala kebutuhan dan fasilitas anak.Â
Namun yang paling penting adalah orang tua dapat memaksimalkan fungsi dan perannya sebagai orang tua dengan memposisikan diri dengan bijak sebagai pihak yang peduli terhadap segala sesuatu yang dialami oleh anaknya.
Pertama, orang tua perlu membangun pola komunikasi yang baik dengan anak.Â
Komunikasi yang dilakukan ini untuk mendapatkan feedback atau timbal balik dari anak. Agar apa yang disampaikan oleh orang tua baik itu berupa nasehat maupun aturan tertentu maka anak mampu memakluminya dengan lapang dada dan tanpa merasa terancam.Â
Ketika orang tua dan anak mampu membangun pola komunikasi yang baik maka anak tidak akan menutup-menutupi apa yang terjadi pada dirinya khususnya masalah pacaran ini.Â
Bagi semua anak di dunia ini, mereka pasti akan menjadikan orang tua sebagai sosok sentral untuk mencurahkan apa yang dialaminya.
Oleh sebab itu, orang tua perlu memantaskan diri dalam kemampuan berkomunikasi dengan anak dengan tulus dan bijaksana.
Kedua, memberikan nasehat dengan tulus dari hati ke hati.
Orang tua perlu mencari tahu bagaimana cara terbaik untuk memberikan nasehat dan bimbingan kepada anak. Apalagi anak-anak sekarang tidak mau lagi dikasari, dibentak-bentak apalagi sampai ada kontak fisik berupa kekerasan atau pukulan dari orang tuanya. Walau orang tua berhak untuk melakukannya namun itu bukanlah solusi terbaik.
Sebagai lanjutan dari poin yang pertama tadi jika pola komunikasi yang terbangun sudah baik secara dua arah maka orang tua akan gampang untuk melakukan fungsi contolling kepada anak.