Mohon tunggu...
Ajinatha
Ajinatha Mohon Tunggu... Freelancer - Professional

Nothing

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Patuhnya Prabowo pada "Treatment" Konsultan Politiknya

20 Januari 2019   09:30 Diperbarui: 20 Januari 2019   10:28 527
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto : Tribunews.com

Dalam satu hal ini Prabowo sangat konsisten, yakni mematuhi pola strategi yang sesuai dengan "Treatment" Konsultan politiknya. Meskipun paparan materi debatnya terkesan tanpa data, sehingga beberapa pernyataannya tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, dan juga sering tidak konsisten.

Secara performance, Prabowo memang selalu lebih dari Jokowi, tapi persoalannya, seorang Calon Presiden dinilai bukan cuma dari performance secara fisik saja, tapi apa yang dikatakannya adalah sesuatu yang harus sesuai dengan realita yang ada.

Dalam debat perdana Capres dan Cawapres kemarin, 17/1/18, kedua pasangan Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi, terkesan sangat Kaku dan kurang cair. Bocoran kisi-kisi materi debat sangat mempengaruhi kedua pasangan kandidat, karena terlalu khusuk pada materi bocoran, sehingga kedua pasangan tidak fokus pada Substansi persoalan.

Debat perdana capres dan cawapres 2019 digelar di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan. Moderator dalam debat kali ini adalah Imam Priyono dan Ira Koesno. Tema yang diangkat yakni Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme.

Sebetulnya tema tersebut adalah persoalan krusial yang sedang dihadapi bangsa ini, sebagai Petahana, jelas Jokowi sudah berhadapan langsung dengan persoalan tersebut, selama kurang lebih 4 tahun masa jabatan yang sudah dilaluinya, jelas Jokowi tahu cara mengatasinya, dan sedang berusaha mengatasinya, meskipun belumlah maksimal.

Lain halnya dengan pasangan Prabowo-Sandi, jelas persoalan tersebut baru berupa wacana dalam programnya jika terpilih menjadi Presiden. Sehingga pernyataannya tentang pemberantasan korupsi disampaikan kurang meyakinkan, karena solusi yang ditawarkan bukanlah sesuatu hal yang baru.

Pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta, Ubeidilah Badrun, seperti yang dilansir Tribunews.com, menilai kedua pasangan tidak ada yang luar biasa, padahal korupsi adalah kejahatan luar biasa.

"Enggak ada ide penanganan korupsi, enggak ada cara buat orang jera, lebih pada sistem yang sebenarnya sudah berlangsung, seperti menaikkan penghasilan. Padahal tetap saja korupsi berjalan," kata dia.

Memang solusi yang ditawarkan Prabowo tersebut bukanlah sesuatu yang solutif, karena memberikan gaji yang besar, demi untuk mencegah korupsi, bukanlah cara yang efektif untuk mencegah terjadinya tindak kejahatan korupsi, apa lagi sanksi hukum terhadap kejahatan korupsi sendiri tidak memberikan efek jera bagi pelakunya.

Ada kecenderungan in konsisten dalam pernyataan, Prabowo seolah kurang fokus terhadap konsep yang ingin dikemukakan, hal itu terlihat pada sesi ke 6 debat, terkait dalam hal pemberantasan korupsi, seperti yang dikatakannya,

"Kita tidak mau cari kesalahan kecil ini atau kita mau mengatakan ini salah, itu salah siapa yang salah, tidak. Kami melihat ini persoalan bangsa. Kami ingin menyelesaikan akar masalah karena itu. Kami bertekad untuk menghentikan kebocoran. Kami bertekad menaikkan tax ratio. Kami yakin negara ini sangat kaya, tetapi terjadi kebocoran kekayaan. Kekayaan kita mengalir keluar negeri ini bukan "salah siapa saja?" Ini salah kita bersama, sebagai bangsa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun