Mohon tunggu...
Aji Prasanto
Aji Prasanto Mohon Tunggu... Lainnya - Bujangan

Suka menulis apa saja dan tertarik dengan keluh kesah dunia.

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Makan Bergizi Gratis: Siapa Untung, Siapa Buntung?

19 Juni 2024   15:32 Diperbarui: 19 Juni 2024   15:39 160
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Laju perkembangan dunia, menuntut kita untuk senantiasa selalu berubah. Berbagai produk baru, teknologi baru, informasi baru, pemikiran baru. Semua memberikan dampak yang pada akhirnya memberikan suatu perubahan pada pola kebiasaan di kehidupan kita...

Namun sayangnya, hal tersebut tidaklah dibarengi dengan mobilitas sosial yang dikatakan naik. Masih banyak diantara kita yang belum bisa menikmati kehidupan yang layak, boro-boro sejahtera, untuk makan sehari-hari saja berat rasanya.

Kesenjangan sosial ekonomi masyarakat membentuk kelas-kelas sosial, sebagai pembeda suatu golongan atau individu dalam masyarakat. Memberikan kita gambaran tentang pola kehidupan kita, yang memperlihatkan suatu konflik batin pada setiap individu, bahkan sampai pada konflik kepentingan yang terkadang sukar untuk diselesaikan.

Perbedaan kelas memperlihatkan kita gambaran bagaimana suatu buah pikir, kebiasaan, serta pemahaman yang berbeda-beda di dalamnya. Tentunya kepentingan ekonomi dan politik tak bisa dipisahkan disana, masing-masing golongan kelompok sosial tersebut saling menuntut Hak mereka yang tak jarang Kewajiban menjadi terabaikan.

Munculnya sebuah ide, gagasan, atau tentang cita-cita yang kita harapkan tak jarang memberikan kita tuntutan yang menjadi sukar untuk di jalankan. Seperti halnya tentang kebijakan yang akan dilakukan oleh sang pengemban kebijakan.

Kita sudah tak asing lagi tentang adanya pro/kontra yang timbul diri suatu kebijakan yang akan dibuat bahkan yang telah dibuat. Terkadang dari pro/kontra tersebut memunculkan sebuah konflik yang berkepanjangan bahkan tak jarang juga memakan korban.

Dalam hal ini, cita-cita presiden terpilih Prabowo Subianto yang dengan kerasnya menyuarakan tentang makan gratis untuk para siswa menjadi perbincangan publik yang dirasa cukup panjang dibicarakan. Yang mana isu ini tak habis dibicarakan selama kampanye saja melainkan sampai saat ini, bahkan sepertinya akan berlanjut sampai Prabowo Subianto mengeban pemerintahan nanti.

Makan siang gratis yang berubah nama menjadi makan bergizi gratis, menjadi serius dibicarakan karena dalam hal ini Prabowo menyatakan bahwa program tersebut merupakan suatu program unggulan yang akan dilaksanakan dalam masa pemerintahannya, menjadi fokus utama dan harus dijalankan sebaik-baiknya.

Youtube: tvOneNews 
Youtube: tvOneNews 

Pada wawancara perdananya sebagai Presiden terpilih, yang disiarkan di tvone pada tanggal 22 Mei 2024 lalu, Prabowo Subianto menyatakan bahwa telah membuat sebuah "Pilot Project" yang dilaksanakan di beberapa daerah di Indonesia. Di mana dari hal tersebut, Prabowo mengungkapkan bahwa "makan bergizi gratis" untuk anak-anak memberikan dampak yang baik dalam menjalani proses belajar mengajar di sekolah.

Dampak tersebut diantaranya; antusias siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar disekolah yang mana dalam hal ini ditunjukan dari siswa yang menjadi semangat untuk berangkat ke sekolah, kemudian fokus/ perhatian terhadap pelajaran menjadi meningkat, lalu tingkah laku juga pandangan para siswa terhadap dunia sekitar (lingkungannya) juga menjadi meningkat, dan yang menjadi perhatian dari Prabowo adalah dimana pertumbuhan tubuh dari anak-anak tersebut pun menjadi membaik, ucap prabowo.

Dari hal tersebut, menjadikan Prabowo semakin optimis untuk menjalankan program makan bergizi gratis, sehingga cita-cita serta harapannya untuk memajukan Indonesia serta memberikan generasi penerus yang baik dapat terwujud dan apa yang disebut "Generasi Emas Indonesia" dapat menjadi nyata.

Di Indonesia sendiri, prevalensi stunting dari tahun ke tahun tergolong fluktuatif dimana terjadi peningkatan di periode 2010-2013, kemudian menurun pada periode 2014-2018. Selanjutnya, pada 2021 hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan penurunan prevalensi 3.3% menjadi 24.4%, dan pada 2022 turun menjadi 21,6 %. Namun demikian, pemerintah masih memerlukan upaya yang lebih keras lagi untuk menuju target nasional 14% pada 2024 (brin.go.id).

Lebih jauh lagi jika kita lihat data angka kemiskinan nasional, Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2023 mencatat angka kemiskinan di Indonesia masih 9,36 persen. Dimana hal ini belum sesuai dengan apa yang di targetkan pemerintah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yang menargetkan kemiskinan nasional pada angka 6,5 -- 7,5 persen (stunting.go.id).

Dari hal tersebut, anak-anak serta keluarga miskin dan rentan miskin pastinya sangat perlu untuk diperhatikan. Bukan hanya masalah dalam hal biaya pendidikan serta kesehatannya saja melainkan juga tentang masalah tumbuh kembang generasi penerus bangsa.

Memang sangat menarik untuk dibicarakan, karena dalam hal ini mencakup berbagai elemen masyarakat serta sistem yang seperti apa yang harus digunakan agar program ini dapat terlaksana dengan baik sesuai yang diharapkan.

Prabowo sendiri menyinggung tentang bagaimana program ini harus dijalankan, beliau mengungkapkan bahwa "kebocoran" dalam pendanaan masih sukar dihilangkan. Namun beliau tetap optimis dalam menghadapi permasalahan tersebut, serta mencoba menanggulanginya dengan mengelola sistem yang seefektif mungkin.

Indonesia yang merupakan negara kepulauan memiliki budaya, sumberdaya, serta yang lainnya yang menjadikan keanekaragaman yang luar biasa. Hal tersebut menjadi keuntungan tersendiri bagi rakyat indonesia, Prabowo mengungkapkan bahwa dengan keanekaragaman tersebut Program Makan Bergizi juga akan memiliki perbedaan di setiap daerah di Indonesia.

Seperti halnya daerah pesisir yang kaya dengan sumberdaya ikan tentunya anak-anak di daerah tersebut akan disuguhi dengan makan bergizi berupa ikan, begitu pula di daerah lain yang kaya akan sumber daya susu atau telur dan yang lainnya.

Dengan begitu, prabowo mengatakan bahwa masalah tentang anggaran akan sedikit terselesaikan dimana masalah pendistribusian makan bergizi gratis tak perlu memakan biaya yang besar. Disamping itu, masalah perekonomian masyarakat di daerah tersebut juga akan terangkat dimana produk yang diberikan ke anak-anak adalah hasil dari daerah itu sendiri.

Tentunya, setelah program tersebut dijalankan pastilah dibarengi dengan permasalahan. Namun dengan banyaknya pembicaraan serta menjadi isu yang menarik untuk diperdebatkan tentunya akan membuahkan masukan, yang mana hal ini adalah sesuatu yang baik untuk kesuksesan sebuah program.

Referensi:

https://stunting.go.id/targetkan-penurunan-angka-kemiskinan-75-persen-di-2024-wapres-minta-k-l-terkait-optimalkan-program-dan-anggaran/

https://www.brin.go.id/news/116962/brin-ungkap-prevalensi-stunting-di-indonesia-cenderung-fluktuatif

https://youtu.be/yKpQrw51rVE?si=cEQf4w8ZElxebwAt

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun