Mohon tunggu...
Amaisyah
Amaisyah Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Jalan ke pantai

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Perkembangan Kognitif Awal Usia Dini dalam Mengeksplor Lingkungan

25 November 2024   01:06 Diperbarui: 25 November 2024   01:10 54
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Perkembangan kognitif sangat penting untuk mengembangkan kemampuan anak dalam mengeksplorasi lingkungan, karena berkaitan dengan pikiran sadar seorang anak. Semakin bertambah besarnya koordinasi dan pengendalian motorik, maka dunia kognitif anak berkembang pesat, makin kreatif, bebas dan imajinatif. Perkembangan kognitif pada Tahap Praoperasional (early childhood) yang membentang selama usia 2 hingga 7 tahun, perubahan paling jelas yang terjadi adalah peningkatan luar biasa dalam aktivitas representasi atau simbolis.Pada masa carly childhood merupakan tahap awal pembentukan konsep secara stabil. Penalaran mental mulai muncul, egosentrisme mulai kuat dan kemudian lemah, serta keyakinan terhadap hal yang magis terbentuk. Anak sudah mulai memahami pengetahuan umum dan sains serta mengenal konsep ukuran, bentuk, warna dan pola. Melalui perkembangan kognitif, fungsi pikir anak dapat digunakan dengan cepat dan tepat untuk mengatasi suatu situasi dalam memecahkan suatu masalah. Faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif pada masa early childhood diantaranya faktor hereditas/keturunan faktor lingkungan, faktor kematangan, faktor pembentukan,faktor kebebasan, dan faktor minat dan bakat. Adapun tujuan perkembangan kognitif diarahkan pada pengembangan auditory, visual, taktik, kinestetik, aritmetika, geometri, dan sains permulaan. Khusus pada anak usia dini, Piaget menyatakan bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui eksplorasi, manipulasi, dan konstruksi secara elaboratif. Lebih dari itu, Piaget juga menjelaskan bahwa karakterisasi aktivitas anak-anak juga berdasarkan pada tendensi-tendensi biologis yang terdapat pada semua organisme. Tendensi-tendensi tersebut mencakup tiga hal, yaitu asimilasi, akomodasi, dan organisasi.

Pertama, asimilasi. Secara harfiah, asimilasi berarti memasukkan atau menerima. Dalam lingkup pengetahuan, manusia selalu mengasimilasikan objek atau informasi ke dalam struktur kognitifnya. Pada awalnya, seorang bayi mencoba berasimilasi dengan menyentuh, meremas, bahkan merobek benda- benda yang dijangkaunya. Selanjutnya, anak akan mengasimilasi objek tersebut dengan memasukkannya ke dalam mulut sebagai ekspresi rasa ingin tahu.

 Kedua, akomodasi. Akomodasi adalah mengubah struktur diri. Dalam melihat beberapa objek, belum tentu anak mempunyai struktur penglihatan (diri) yang memadai, sehingga anak tersebut harus melakukan akomodasi. Misalnya, seorang anak dapat memindahkan balok terbesar mainannya hanya dengan menggeser rintangan di depannya. Nah, kemampuan menggeser rintangan untuk memindahkan balok itulah disebut akomodasi.

Asimilasi dan akomodasi terjadi sejak bayi masih sangat kecil, ketika anak mengembangkan refleks menghisap setiap benda yang menyentuh bibirnya. Kemudian terjadi proses belajar (asimilasi maupun akomodasi) yang menimbulkan pemahaman bahwa yang dapat dihisap hanya ibu jari atau susu ibu, tetapi benda-benda lain tidak dapat dihisap oleh individu mengenai benda- benda melalui proses asimilasi, tetapi memperoleh pemahaman tentang benda- benda yang dapat dihisap atau tidak, melalui akomodasi. 

Ketiga, organisasi. Yang dimaksud organisasi di sini adalah menggabungkan ide-ide tentang sesuatu ke dalam sistem berpikir yang koheren (masuk akal). Hal ini hanya bisa dilakukan dengan menggabungkan asimilasi dan akomodasi, sebagaimana disebutkan di atas. Sekedar contoh, anak-anak pada usia 5-6 tahun telah terampil mengendarai roda tiga. Dalam kemampuannya itu, anak telah mampu merangkai beberapa ide, seperti kaki mengayuh pedal, tangan memegang setir, mata menatap ke depan, dan sering kali kepala anak tersebut menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menjaga keselamatan. Inilah yang disebut dengan organisasi dalam bahasa tendensi biologis. 

Perkembangan kognitif adalah perkembangan kemampuan anak untuk mengeksplorasi lingkungan karena bertambah besarnya koordinasi dan. pengendalian motorik, maka dunia kognitif anak berkembang pesat, makin kreatif, bebas dan imajinatif.  Pikiran anak mulai aktif sejak lahir, dari hari ke hari sepanjang pertumbuhannya. Perkembangan pikirannya, seperti: belajar tentang orang, belajar tentang sesuatu, belajar tentang kemampuan-kemampuan baru, 

Tahap Praoperasional (early childhood) yang membentang selama usia 2 hingga 7 tahun, perubahan paling jelas yang terjadi adalah peningkatan luar biasa dalam aktivitas representasi atau simbolis. Pada tahap ini konsep yang stabil dibentuk, penalaran muncul, egosentris mulai kuat dan kemudian mulai

melemah, serta terbentuknya keyakinan terhadap hal yang magis. Dalam istilah pra-operasional menunjukkan bahwa pada tahap ini teori Piaget difokuskan pada keterbatasan pemikiran anak. Istilah "operasional" menunjukkan pada aktivitas mental yang memungkinkan anak untuk memikirkan peristiwa pengalaman yang dialaminya.

Salah satu sumber utama simbol ini adalah bahasa, yang berkembang cepat selama tahun-tahun pra-operasional awal (2-4 tahun). Bahasa mengembangkan cakrawala anak-anak. Lewat bahasa, mereka dapat menghidupkan kembali masa lalu, mengantisipasi masa depan, dan mengkomunikasikan peristiwa-peristiwa kepada orang lain. Namun karena pikiran anak kecil begitu cepat berkembang. dia belum dapat memiliki sifat-sifat logis yang koheren. Ini terlihat dari penggunaan mereka atas kata-kata. Karena anak-anak tidak memiliki pengkategorian umum, penalaran mereka sering kali bersifat transduktif, berpindah dari hal-hal khusus ke hal khusus lainnya.

Beberapa psikolog percaya kalau anak-anak belajar berpikir secara lebih logis ketika mereka menguasai bahasa. Menurut pandangan ini, bahasa menyediakan bagi kita kategori-kategori konseptual. Piaget mengakui bahwa bahasa adalah sarana paling fleksibel dari representasi mental. Dengan memisahkan pikiran dari tindakan, bahasa memungkinkan pemikiran yang jauh lebih efisien dari sebelumnya. Akan tetapi, Piaget tidak memandang bahasa sebagai unsur utama dalam perubahan kognitif kanak-kanak. Sebaliknya, dia pecaya bahwa aktivitas sensoris-motorik menghasilkan gambar internal pengalaman yang kemudian dinamakan dengan kata-kata oleh anak-anak.

Ciri-ciri tahap pra-operasional adalah (1) anak mengembangkan kemampuan menggunakan simbol, termasuk bahasa; (2) anak belum mampu melakukan pemikiran operasinal (operasi adalah pemikiran yang dapat dibalik), yang menjelaskan mengapa Piaget menamai tahap ini praoperasional; (3) anak terpusat pada satu pemikiran atau gagasan, seringkali di luar pemikiran-pemikiran lainnya; (4) anak belum mampu menyimpan ingatan; dan (5) dan bersifat egosentris.

Pemikiran praoperasional dapat dibagi menjadi sub-sub tahapan, yaitu: Sub Tahapan Fungsi Simbolik adalah sub tahapan pertama dari pemikiran praoperasional, yang terjadi kira-kira antara usia 2 hingga 4 tahun. Kemampuan ini sangat memperluas dunia mental anak. 

Kemajuan pemikiran mereka masih memiliki beberapa batasan-batasan yang penting, dua diantaranya adalah egosentrisme dan animisme. Egosentrisme merupakan ketidakmampuan untuk membedakan antara perspektif mereka sendiri dan perspektif orang lain.Animisme pelabelan hidup kepada objek-objek fisik, juga berasal dari egosentrisme, anak-anak berasumsi bahwa segala sesuatu berfungsi seperti yang mereka lakukan. 

Dengan cara yang sama, Piaget berusaha menunjukkan bahwa konsepsi anak-anak tentang mimpi berkaitan erat dengan egosentrisme. Selama anak-anak masih egosentris, mereka gagal menyadari kandungan dimana setiap orang memiliki pengalaman privat dan subjektif seperti mimpi. Pemikiran praoperasional tidak lain dari masa tunggu yang longgar bagi pemikiran operasional konkret, walaupun label praoperasional menekankan bahwa anak pada tahap ini belum berpikir secara operasional.

Kemudian, Sub Tahapan Pemikiran Intuitif Sub tahapan pemikiran intuitif adalah sub tahapan kedua dari pemikiran praoperasional, terjadi kira-kira antara usia 4 hingga 7 tahun. Dalam sub tahapan ini, anak-anak mulai menggunakan pemikiran primitif dan ingin tahu jawaban dari semua pertanyaan. Piaget menyebut sub tahapan ini karena anak-anak tampaknya sangat yakin dengan pengetahuan dan pemahaman mereka, tetapi tidak sadar bagaimana mereka mengetahui apa yang mereka ketahui. Artinya, mereka tahu Sentarasi dan Batasan Pemikir Pra-operasional salah satu batasan pemikiran pra-operasional adalah sentrasi, perhatian yang berpusat pada satu karakteristik dengan mengesampingkan semua karakteristik lain. 

Sentrasi sangat jelas terlihat dari kurangnya konservasi anak-anak, kesadaran bahwa mengubah penampilan sebuah objek atau zat tidak mengubah sifat dasarnya. Sebagai contoh, bagi orang dewasa, jelas bahwa sejumlah cairan tertentu tetap sama, terlepas dari bentuk wadahnya. Namun, hal tersebut sama sekali tidak jelas bagi anak-anak. sebaliknya, mereka terpukau oleh tinggi wadah cairan, mereka terfokus pada karakteristik tersebut dan mengesampingkan yang lain.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun